Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Dari Mimbar ke Mikrofon: Fenomena Dakwah Lewat Podcas

Kabarumat.co – Pada era kontemporer, kehadiran media baru berupa media digital membawa perubahan yang sangat signifikan dalam kehidupan masyarakat. Perubahan ini juga berdampak besar pada aktivitas dakwah. Dakwah merupakan kegiatan seorang da’i dalam mengajak dan menyeru umat untuk berjalan di jalan Allah SWT.

Sebelum berkembangnya media digital, dakwah umumnya dilakukan secara langsung melalui pertemuan tatap muka antara da’i dan mad’u. Pola ini memungkinkan terjadinya komunikasi dua arah, baik antara individu maupun kelompok, sehingga umpan balik dapat diperoleh secara langsung. Bentuk dakwah tersebut biasanya diwujudkan melalui pengajian di masjid, majelis taklim, atau forum keagamaan yang menjadi sarana utama bagi umat Islam untuk belajar, berdiskusi, serta memperdalam pemahaman tentang ajaran agama Islam.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan hadirnya media digital, pola dakwah tersebut perlahan mengalami perubahan. Dakwah tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu, melainkan dapat diakses kapan saja dan di mana saja melalui media digital, terutama oleh generasi muda. Melalui berbagai platform media sosial, generasi muda kini dapat mengakses dakwah dalam bentuk podcast religi yang tersedia di YouTube, Spotify, Google Podcast, hingga TikTok. Oleh karena itu, dakwah secara daring menjadi alternatif baru yang semakin diminati.

Pada masa kini, praktik dakwah tidak lagi sepenuhnya mengandalkan metode konvensional. Kegiatan seperti pengajian di masjid, kajian keagamaan di pesantren, atau majelis ilmu di balai desa dan musholla bukan lagi satu-satunya sarana penyampaian dakwah. Perubahan ini terjadi sebagai dampak dari perkembangan teknologi dan proses modernisasi. Modernisasi sendiri merupakan proses penyesuaian institusi yang terbentuk secara historis terhadap perubahan fungsi yang cepat akibat pesatnya perkembangan pengetahuan manusia di era revolusi ilmu pengetahuan (Yuhansil, 2019).

Perubahan Sarana Dakwah ke Podcast

Dalam era modernisasi, dakwah yang sebelumnya dilakukan melalui pengajian kini mulai beralih ke platform media sosial, salah satunya podcast. Podcast merupakan singkatan dari iPod Broadcast, yaitu platform yang pertama kali dikembangkan oleh Apple untuk perangkat iPod dan diperkenalkan oleh Steve Jobs pada tahun 2001.

Podcast bersifat nonlinier dan menyediakan konten sesuai permintaan (on demand), sehingga dapat diakses kapan saja oleh pendengarnya (Muslem, 2021). Secara sederhana, podcast dapat diartikan sebagai rekaman audio atau video digital yang didistribusikan melalui internet. Konten podcast biasanya ditujukan kepada pendengar dengan membahas topik-topik tertentu secara santai namun tetap informatif.

Meskipun memiliki kemiripan dengan radio, podcast memiliki keunggulan karena dapat diputar kapan saja dan di mana saja setelah diunduh oleh pengguna. Fleksibilitas inilah yang menjadikan podcast sebagai alternatif sarana dakwah yang diminati oleh berbagai kalangan tanpa batasan tertentu. Selain itu, podcast memungkinkan penyampaian pesan dakwah yang lebih mendalam, bersifat personal, serta relevan dengan kehidupan sehari-hari pendengar, khususnya generasi muda yang lekat dengan penggunaan media digital.

Di era modernisasi, semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang enggan menghadiri pengajian dakwah secara langsung. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan mereka yang lekat dengan gaya hidup serba instan dan praktis, di mana berbagai informasi dapat diakses dengan mudah. Oleh karena itu, podcast dipilih sebagai alternatif sarana dakwah yang dinilai relevan dengan karakteristik masyarakat modern.

Podcast memungkinkan khalayak, terutama generasi muda, untuk mendengarkan dakwah tanpa harus hadir secara fisik di sebuah pengajian. Pendengar juga memiliki kebebasan untuk memilih tema dakwah sesuai minat, serta menikmati konten tanpa gangguan iklan yang berlebihan, sehingga pengalaman mendengarkan menjadi lebih nyaman.

Laporan Spotify Wrapped 2024 menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam jumlah pendengar podcast di Indonesia. Tema religi dan pendidikan bahkan masuk ke dalam lima kategori podcast terpopuler (Khaidir, 2024). Temuan ini mengindikasikan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap konten audio yang bersifat religius, edukatif, dan inspiratif.

Kondisi tersebut mencerminkan kebutuhan generasi muda akan media pembelajaran yang selaras dengan gaya hidup digital mereka. Media ini dapat diakses kapan saja, baik saat berada di rumah maupun ketika memanfaatkan waktu luang, sehingga proses pembelajaran agama menjadi lebih fleksibel.

Pada platform Spotify, tersedia beragam konten audio yang dapat dinikmati oleh pendengar, mulai dari podcast hiburan, kisah dan pengalaman personal, hingga konten bernuansa keagamaan. Mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, tidak mengherankan apabila banyak podcast yang mengangkat tema-tema keislaman.

Hal ini dapat dilihat dari hasil pencarian dengan kata kunci “ngaji” di Spotify yang menampilkan berbagai pilihan konten religi. Beberapa di antaranya adalah Ngaji Gus Baha yang diisi oleh KH. Baha’uddin Nursalim, serta Kajian Hijrah yang menghadirkan pemateri seperti Ustadz Hanan Attaki dan Ustadz Adi Hidayat (Mutmainah, 2020).

Sebagai penutup, transformasi dakwah dari pengajian konvensional ke media digital, khususnya podcast, menunjukkan upaya Islam dalam menyesuaikan diri dengan perubahan sosial yang dipengaruhi oleh modernisasi. Podcast tidak hanya berperan sebagai media penyebaran ajaran agama, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, refleksi, dan dialog keagamaan yang relevan dengan kehidupan generasi muda.

Dengan karakteristik yang fleksibel, mudah diakses, dan selaras dengan budaya digital, podcast memiliki potensi besar untuk memperkuat nilai-nilai Islam sekaligus menjaga keberlanjutan dakwah di tengah dinamika masyarakat modern.