kabarumat.co – Dalam kehidupan masyarakat kita, baik disadari maupun tidak, telah muncul pandangan negatif terhadap kritik. Tidak jelas kapan hal ini bermula, namun kenyataannya kecenderungan ini semakin terlihat. Kritik tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang penting dan diperlukan, melainkan dipandang sebagai tindakan yang sia-sia dan tidak membawa manfaat.
Lebih jauh lagi, kritik sering disalahartikan sebagai bentuk nyinyiran. Padahal, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Karena berbagai pengaruh, kita cenderung menyerap makna kritik secara keliru. Padahal, pada hakikatnya, kritik muncul dengan niat yang mulia—untuk mengurai kekusutan dan menunjukkan hal-hal yang perlu diperbaiki. Jika kita mampu bersikap terbuka, sudah sepatutnya kita menghargai para pengkritik.
Menelaah Kritik dalam Perspektif Islam
Perlu ditekankan sejak awal bahwa kita hidup dalam sistem demokrasi. Oleh karena itu, kritik harus dilihat sebagai elemen yang esensial dan tak bisa diabaikan. Pandangan ini sejalan dengan ajaran serta semangat yang dibawa oleh Islam. Agama yang disampaikan Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan sikap otoriter atau kediktatoran. Justru, Islam hadir dengan prinsip keterbukaan terhadap perbedaan pendapat dan pemikiran.
Meski demikian, jika kita menelusuri sebagian fragmen sejarah Islam, ada peristiwa-peristiwa yang secara prinsip bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran tersebut. Misalnya, terdapat pemimpin-pemimpin yang, meskipun mengatasnamakan Islam, justru bertindak semena-mena. Mereka yang memiliki pandangan berbeda dari yang dianut oleh negara kerap dicap sebagai pemberontak atau pengacau. Kondisi inilah yang pernah menimpa sejumlah ulama, termasuk Imam Ahmad bin Hanbal.
Kala itu, negara mengadopsi mazhab Muktazilah sebagai mazhab resmi. Salah satu pandangan khas Muktazilah yang menimbulkan perdebatan besar adalah keyakinan mereka bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Pandangan ini sangat ditentang oleh mazhab Sunni, yang meyakini bahwa Al-Qur’an bukan makhluk, dan dengan tegas menolak pemikiran Muktazilah tersebut.
Salah satu ulama Sunni yang dengan tegas menyuarakan penolakannya terhadap pandangan resmi negara kala itu adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena keteguhan sikapnya, ia harus mengalami penderitaan yang luar biasa—disiksa dan menjadi korban persekusi. Semua itu terjadi hanya karena ia mengemukakan kritik, sebuah tindakan yang sejatinya lumrah dan bahkan penting dalam tradisi intelektual Islam.
Dalam konteks kehidupan berbangsa kita saat ini, pola serupa tampaknya masih berlangsung. Ada kecenderungan untuk membungkam suara-suara yang menyatakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah. Mereka yang memiliki pandangan berbeda kerap diperlakukan secara negatif—dianggap sebagai pengacau, pembuat masalah, atau ancaman terhadap ketertiban dan ketenangan masyarakat luas.
Wujud Nyata Cinta Tanah Air
Bahkan, muncul kecenderungan untuk menstigma bahwa siapa pun yang mengkritik negara dianggap sebagai pihak yang tidak mencintai tanah air. Akibatnya, makna cinta tanah air menjadi sangat sempit dan dangkal—seolah hanya sebatas sikap diam dan membiarkan segala dinamika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara berlangsung tanpa tanggapan. Pandangan semacam ini jelas perlu diluruskan, bukan hanya oleh masyarakat, tetapi juga oleh negara itu sendiri.
Negara tidak seharusnya berdiri di atas asas keseragaman yang dipaksakan. Sebaliknya, pola pikir tersebut harus dibalik: kehadiran para pengkritik sepatutnya disyukuri. Karena, di tengah banyaknya orang yang memilih bungkam, masih ada segelintir individu yang bersedia mengerahkan tenaga dan pikirannya demi masa depan bangsa.
Namun, jika kita terus-menerus menekan dan menakut-nakuti mereka yang berani bersuara, maka kita harus siap menghadapi akibat yang serius. Yakni, kondisi di mana kita menjadi terbiasa hidup dalam kesalahan yang dibiarkan. Mereka yang biasa menyuarakan kritik bisa saja kehilangan semangatnya, lalu memilih diam dan tidak lagi peduli terhadap masalah-masalah bangsa. Dan ketika hal itu terjadi, maka tanda-tanda bahaya sudah ada di depan mata.
Anggapan bahwa orang yang mengkritik negara berarti tidak mencintai tanah air perlu segera diluruskan. Kritik adalah hal yang wajar dan seharusnya diterima sebagai bagian penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan sosial dan politik. Kita tahu bersama bahwa kekuasaan kerap membuat seseorang lalai atau terlena, sehingga perlu ada pihak-pihak yang mengingatkan—terutama dari kalangan intelektual, pemuka agama, dan para aktivis.
Terlebih lagi, dalam ajaran Islam, menyampaikan kebenaran adalah sebuah kewajiban yang bersumber dari perintah agama. Allah memerintahkan agar ada sekelompok orang yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Prinsip ini dikenal dengan istilah amar ma’ruf nahi munkar, yang merupakan fondasi penting dalam menjaga moralitas dan keadilan dalam masyarakat.
وَلۡتَكُنۡ مِّنۡكُمۡ اُمَّةٌ يَّدۡعُوۡنَ اِلَى الۡخَيۡرِ وَيَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡكَرِؕ وَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ
“Dan hendaklah ada sebagian di antara kalian suatu kelompok yang menyerukan kepada baikan dan mencegah dari kemungkaran. Merekalah itu orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104).
Mari Biasakan Diri Menerima Kritik
Hadis juga menegaskan bahwa “jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan penguasa.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa menyampaikan kritik tidak boleh dianggap sebagai tindakan negatif. Justru sebaliknya, kritik merupakan hal yang sangat penting dan tak terhindarkan, terutama dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Tanpa adanya kritik, kekuasaan cenderung akan menyimpang dan bersikap sewenang-wenang.
Dalam istilah lain, kita bisa kehilangan arah moral dalam kehidupan berbangsa jika membiarkan ketidakadilan terus berlangsung—bahkan lebih buruk, jika kita justru ikut terlibat dalam memperkuat praktik ketidakadilan tersebut.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !