kabarumat.co – Ketika masih kecil, kita sering kali dibesarkan oleh beragam cerita dan ucapan yang menimbulkan rasa takut. Kisah-kisah tentang tempat bersejarah, mitos, hingga narasi bernuansa religius menjadi bagian dari konsumsi harian imajinasi anak-anak.
Sayangnya, di antara hiruk-pikuk cerita yang terus dibacakan atau didengar itu, justru kisah yang bermuatan nilai-nilai agama paling sering mendominasi. Anak-anak lebih kerap terpapar cerita atau ungkapan bernada ancaman atas nama agama dibandingkan kisah yang mengandung cinta dan kelembutan.
Alexander Neill (1883), salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan, menyatakan dengan tegas bahwa bagi banyak anak, agama sering kali identik dengan rasa takut. Pengalaman anak-anak ketika berinteraksi dengan simbol maupun pelaku religius kerap menghadirkan ancaman, hukuman, hingga doktrin superioritas tertentu. Akibatnya, agama dipahami bukan sebagai sumber ketenangan, melainkan sebagai sesuatu yang menakutkan.
Tentu, sebagian dari kita akan menolak anggapan tersebut, sebab ajaran agama pada dasarnya menekankan cinta kasih, bukan ketakutan. Namun, ada pula yang melihat pernyataan itu sebagai sesuatu yang masuk akal. Apa pun posisi kita, hal ini selayaknya menjadi bahan renungan bersama.
Ketakutan sebagai Instrumen
Dalam dunia anak, eksplorasi—melalui bermain, belajar, atau bertanya hal-hal yang mungkin tampak sepele—adalah bagian penting dari proses tumbuh kembang. Karena keterbatasannya dalam memahami dunia, anak sangat bergantung pada orang dewasa.
Relasi antara orang dewasa yang berkuasa dan anak yang berada dalam ketergantungan inilah yang dapat disebut sebagai hubungan otoritas. Erich Fromm (1936) dalam Studies on Authority and the Family: Sociopsychological Dimensions menjelaskan bahwa bentuk-bentuk otoritas sangat beragam. Dalam relasi tersebut dapat muncul rasa takut, cinta, maupun kekaguman.
Otoritas yang memiliki kendali besar atas mereka yang berada di bawahnya dapat menggunakan berbagai cara untuk mencapai tujuan—salah satunya dengan memanfaatkan ketakutan. Di sini, ketakutan memiliki sisi yang kompleks.
Di satu sisi, ketakutan dapat berfungsi sebagai mekanisme untuk membantu anak memahami dan mengendalikan dorongan perilaku yang tidak sesuai dengan norma sosial, sebagaimana yang digambarkan dalam teori behaviorisme melalui konsep reward dan punishment. Namun di sisi lain, otoritas dapat menciptakan ketakutan baru yang berlebihan, sehingga rasa takut menjadi ciri utama dalam hubungan tersebut.
Masih merujuk pada Fromm, rasa takut seperti ini dapat menimbulkan efek jangka panjang, seperti ketidakstabilan dan kegelisahan dalam relasi. Bagi anak-anak, ketakutan yang terus dipertahankan justru dapat menghambat bahkan melumpuhkan perkembangan mereka. Dalam tahap yang lebih ekstrem, ketakutan tersebut dapat menumbuhkan kecenderungan masokistis: anak menjadi terbiasa hidup dalam dominasi rasa takut, tidak menyadarinya, bahkan bergantung pada otoritas yang menekan mereka.
Agama yang Ramah bagi Anak
Dalam perspektif sosial, otoritas selalu membawa idealitas atau superego—meminjam istilah Sigmund Freud—yang tidak dapat dipisahkan darinya. Idealitas atau superego ini berfungsi sebagai representasi moral dan kekuasaan yang diinternalisasikan melalui otoritas. Dalam konteks keagamaan, superego muncul melalui ajaran-ajaran yang menuntut ketundukan dan ketaatan, sering kali dipahami sebagai syarat bagi seseorang untuk dianggap lebih baik atau lebih mulia dibanding yang lain.
Namun, dalam ranah agama, idealitas atau superego tidak bersifat tunggal. Beragam otoritas memiliki penafsiran masing-masing dan menggunakan cara yang berbeda untuk menguatkannya. Secara umum, perbedaan penafsiran tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori besar: ekstrem (baik fundamental maupun liberal) dan moderat.
Jika diperbandingkan, perbedaan antara keduanya terlihat jelas. Superego yang ekstrem cenderung menjunjung hanya satu sisi—konservatif atau liberal—secara kaku dan tertutup. Karena sifatnya yang tidak lentur, bentuk superego ini sering berupaya memaksakan realitas sosial agar sesuai dengan tafsirnya, sehingga memicu gesekan dalam masyarakat. Sebaliknya, superego moderat bersifat lebih lentur dan mampu menyesuaikan diri dengan dinamika sosial.
Sebagai kekuatan eksternal, kecenderungan superego ini membentuk cara otoritas bertindak dalam suatu relasi. Ketika otoritas mengarah pada superego ekstrem, ia akan secara sadar menciptakan kembali idealitas tersebut melalui tindakan yang memaksa, berbasis ketakutan, bahkan dalam beberapa kasus, melalui kekerasan.
Dalam relasi antara otoritas dan anak, proyeksi superego ekstrem ini menjadi bagian dari dunia yang harus dihadapi anak. Karena berada dalam posisi bergantung, anak menerima realitas sosial itu sebagai nasib, termasuk perjumpaan dengan wajah agama dan perilaku religius yang keras atau menakutkan.
Akibatnya, anak tumbuh dengan membawa dampak jangka panjang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Bahkan, mereka dapat menginternalisasi superego ekstrem tersebut sepenuhnya, lalu mereproduksinya sebagai tradisi yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Meski begitu, dalam kondisi tertentu, ada kemungkinan anak justru memberontak dan membangun otoritas baru dengan superego baru yang kemudian ia ikuti. Situasi ini menunjukkan bahwa pembentukan superego pada anak maupun otoritas memerlukan kehadiran otoritas yang lebih tinggi—otoritas yang membawa superego yang berpihak pada kepentingan bersama, bukan kepentingan satu kelompok saja.
Oleh karena itu, dalam proses mendidik anak, orang tua, pendidik, atau siapa pun orang dewasa di sekitar anak, perlu menghadirkan agama dalam bentuk yang tepat—dengan menekankan kasih sayang. Namun hal ini saja tidak cukup. Praktik pendidikan yang menggunakan agama sebagai alat menakut-nakuti, yang masih banyak dilakukan hingga hari ini, berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi perkembangan anak. Maka, dibutuhkan otoritas baru yang memiliki kredibilitas untuk membangun kembali idealitas agama yang berlandaskan cinta kasih.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !