Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Menguatkan Ikatan Manusia: Kajian Hadits tentang Bersyukur dan Menghargai Sesama

kabarumat.co – Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak bisa sepenuhnya hidup sendiri. Berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, pendidikan, hingga layanan kesehatan, terpenuhi berkat adanya kerja sama, bantuan, dan interaksi sosial dengan orang lain. Mulai dari pedagang yang menyediakan makanan, guru yang mendidik, hingga tenaga medis yang merawat, semuanya menunjukkan bahwa hubungan antarmanusia memegang peran penting dalam kelangsungan hidup kita.

Setiap kebaikan yang kita terima dari orang lain semestinya dihargai dan disyukuri dengan tulus. Rasa terima kasih bukan sekadar ucapan, melainkan pondasi penting dalam etika sosial. Dengan bersyukur, kita dapat menjaga kepercayaan, memperkuat hubungan, dan mencegah sikap mengabaikan kebaikan yang diberikan.

Oleh sebab itu, penting bagi kita merenungkan hadits Nabi Muhammad ﷺ yang menekankan betapa besar nilai berterima kasih kepada sesama. Hadits ini mengajarkan bahwa mensyukuri kebaikan orang lain merupakan bagian dari akhlak mulia yang membangun masyarakat harmonis dan penuh penghargaan.

Rasulullah Muhammad ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرِ اللَّهَ

Yang artinya, “Siapa pun yang tidak menyampaikan rasa terima kasih kepada sesama manusia, berarti ia belum menunjukkan rasa syukur kepada Allah” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi).

Dalam kitab Syarah Sunan Abi Dawud, Ibnu Ruslan menyoroti beberapa penafsiran yang menarik mengenai hadits yang menekankan pentingnya bersyukur kepada sesama manusia.

Pendapat pertama menyatakan bahwa Allah tidak menerima syukur seorang hamba atas nikmat-Nya jika ia mengabaikan atau mengingkari kebaikan yang diterimanya dari orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa syukur kepada Allah dan syukur kepada manusia saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Pendapat kedua menekankan bahwa kebiasaan menolak atau tidak menghargai kebaikan manusia dapat menimbulkan sikap serupa terhadap nikmat Allah. Pola ini membentuk karakter yang kufur nikmat dan berdampak pada hubungan spiritual seseorang dengan Tuhan.

Pendapat ketiga menyebutkan bahwa orang yang tidak bersyukur kepada manusia seakan menempatkan dirinya setara dengan orang yang tidak bersyukur kepada Allah, meskipun secara lisan ia mengaku bersyukur. Tanpa menghargai kebaikan sesama, pengakuan syukur tersebut kehilangan makna sejatinya.

Lebih lanjut, Syekh Mudzhiruddin az-Zaidani menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan kita untuk memahami hak-hak manusia. Nikmat yang diterima hamba berasal dari dua pihak: manusia sebagai perantara dan Allah sebagai sumber utama. Rezeki seringkali sampai melalui sebab-sebab tertentu—pekerjaan, perdagangan, pertanian, sedekah, atau bantuan orang lain. Secara lahiriah, manusia dianggap sebagai pemberi, tetapi hakikatnya Allah-lah yang memberi. Jika seseorang tidak berterima kasih kepada manusia sebagai perantara, Allah menolak syukur tersebut karena sikap itu menunjukkan pengabaian terhadap kewajiban sosial.

Mulla Ali al-Qari menekankan hal ini dalam al-Mafatih fi Syarhil Mashabih dan Mirqatul Mafatih. Ia menjelaskan bahwa syukur yang sempurna harus mencakup kedua aspek: kepada Allah sebagai pemberi hakiki (musabbib) dan kepada manusia sebagai perantara (sababb). Mengabaikan manusia berarti syukur belum lengkap, karena hampir semua nikmat Allah melibatkan peran orang lain.

Lebih jauh, Mulla Ali al-Qari menekankan dimensi sosial syukur. Manusia merasa senang ketika kebaikannya dihargai dan tersakiti saat diabaikan. Karena itu, berterima kasih kepada sesama dianggap lebih penting secara praktis daripada sekadar ungkapan syukur kepada Allah, meski secara spiritual Allah tidak terpengaruh.

Dengan demikian, hadits ini mengajarkan bahwa syukur dalam Islam bukan hanya bersifat spiritual, tetapi juga sosial. Mengucapkan terima kasih kepada orang yang membantu, guru yang mengajar, pedagang yang memenuhi kebutuhan, atau pihak lain yang menjadi perantara nikmat adalah wujud nyata dari ibadah. Membiasakan diri bersyukur kepada sesama tidak hanya menjaga adab, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan menumbuhkan kepekaan moral. Syukur kepada Allah dan penghargaan terhadap peran manusia berjalan beriringan, membentuk karakter yang utuh dan harmonis.