kabarumat.co – Seringkali kita memahami penghormatan dan kasih sayang dalam keluarga secara sepihak: anak harus taat, anak harus patuh, anak harus mengikuti aturan. Pola pikir ini tidak hanya melekat dalam kebiasaan sosial, tetapi juga sering dianggap sebagai bagian dari ajaran agama. Padahal, pemahaman tersebut masih kurang utuh. Dalam keluarga, kasih sayang dan penghormatan seharusnya berjalan dua arah. Anak memang perlu menghormati orang tua, namun orang tua juga wajib menghargai anak—mengakui keberadaannya, menghormati usahanya, serta menegaskan bahwa ia adalah amanah Allah yang sangat berharga.
Mengapa Apresiasi Orang Tua Itu Penting?
Apresiasi bukan sekadar ucapan “bagus, nak” atau hadiah sesekali. Lebih dari itu, apresiasi adalah pengakuan yang tulus terhadap upaya, perkembangan, dan keberadaan anak—baik saat mereka sukses maupun ketika mereka mengalami kegagalan. Contohnya:
- Saat anak pertama kali berani berbicara di depan kelas, jangan hanya mengatakan “bagus,” tetapi tambahkan, “Ayah/Ibu bangga karena kamu berani mencoba meski merasa takut.”
- Ketika anak gagal dalam ujian, hindari komentar yang bersifat menghukum atau merendahkan, melainkan katakan, “Ayah/Ibu tahu kamu sudah berusaha. Yuk, kita belajar bersama untuk memperbaiki hasilnya.”
Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa apresiasi dapat membangun rasa percaya diri anak sekaligus memperkuat ikatan emosional antara anak dan orang tua.
Teladan Nabi Yaqub dalam Menghormati Anak
Al-Qur’an memberi contoh yang jelas tentang hal ini. Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam tidak hanya menyayangi anaknya, Nabi Yusuf, tetapi juga menunjukkan penghormatan dan kemuliaan secara nyata. Kisah ini termaktub dalam QS. Yusuf ayat 100, yang juga menafsirkan mimpi Nabi Yusuf tentang sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya.
وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ Artinya, “Dia (Yusuf) menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sungguh, Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana..” (QS. Yusuf: Ayat 100)
Sujud yang dilakukan Nabi Ya‘qub di sini bukanlah sujud ibadah, melainkan bentuk penghormatan. Para mufasir menjelaskan bahwa tindakan ini merupakan bentuk apresiasi tertinggi seorang ayah, yang mengakui keberhasilan anaknya sebagai karunia Allah, bukan sebagai ancaman terhadap otoritasnya.
Al-Baghawi menambahkan bahwa sujud tersebut merupakan tradisi penghormatan yang biasa dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Walaupun bentuknya sama dengan sujud ibadah, maknanya berbeda. Islam kemudian melarang bentuk penghormatan dengan bersujud agar tauhid tetap terjaga.
Makna dari penafsiran ini sangat penting. Nabi Ya‘qub, yang merupakan bapak Bani Israil, tidak segan untuk menghormati anaknya. Ini menunjukkan bahwa seorang ayah yang matang secara spiritual mampu melihat keberhasilan anak sebagai anugerah Allah, bukan ancaman terhadap posisi atau otoritasnya.
Sebagai orang tua, kita bisa meneladani sikap ini dalam kehidupan sehari-hari dengan memberi penghargaan pada anak atas usaha maupun prestasinya. Apresiasi bisa berupa hal sederhana seperti mengangguk, tersenyum, atau menepuk bahu. Sikap seperti ini sangat berarti bagi anak.
Nabi Muhammad juga menegaskan pentingnya kasih sayang dan penghormatan dalam keluarga melalui sabdanya:
“Kami tidak menganggap orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Tirmidzi)
Artinya, kasih sayang dan penghormatan harus berjalan dua arah. Jika orang tua menghormati anak, dan anak menghormati orang tua, maka hubungan keluarga tidak akan terjebak dalam pola hirarki yang kaku dan otoriter. Justru, apresiasi tulus dari orang tua akan menjadi pintu bagi tumbuhnya spiritualitas yang harmonis.
Bayangkan rumah yang orang tuanya jarang memberi pujian atau pengakuan. Anak akan merasa seperti “objek” yang hanya harus patuh, bukan “subjek” yang dimanusiakan. Akibatnya, hubungan menjadi kering, komunikasi berkurang, dan spiritualitas keluarga sulit berkembang. Sebaliknya, rumah yang penuh apresiasi akan melahirkan anak yang percaya diri, hormat, dan berbakti karena kesadaran, bukan karena takut.
Tips praktis mengapresiasi anak:
- Ucapkan secara spesifik: jangan sekadar “Bagus!”, tapi sebutkan apa yang membuatmu bangga, misalnya, “Aku bangga kamu menulis cerita sendiri hari ini.”
- Berikan perhatian fisik dan emosional: pelukan, tepukan punggung, atau senyum hangat sering lebih berkesan daripada kata-kata.
- Rayakan usaha, bukan hanya hasil: anak yang gagal tetap layak dihargai atas keberaniannya mencoba.
- Luangkan waktu berkualitas: aktivitas sederhana seperti memasak bersama atau jalan sore bisa menjadi momen penghargaan.
- Dengarkan anak dengan sungguh-sungguh: mendengar cerita atau keluh kesah tanpa menghakimi adalah bentuk penghargaan emosional.
Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan penghormatan yang hanya satu arah dalam keluarga. Keteladanan Nabi Ya‘qub dan penegasan Nabi Muhammad menunjukkan bahwa apresiasi orang tua kepada anak adalah bagian dari ajaran agama. Maka, sebagai orang tua, sudah sepantasnya kita menghormati, memuliakan, dan mengapresiasi anak dengan tulus, agar mereka tumbuh menjadi anak yang berbakti karena kesadaran, bukan paksaan.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !