kabarumat.co – Beberapa waktu lalu, saat saya tengah menggulir linimasa Instagram, perhatian saya tertarik pada sebuah video yang muncul di layar ponsel. Video tersebut merupakan potongan perdebatan antara Mehdi Hasan dan Richard Dawkins di Universitas Oxford yang disiarkan oleh Al-Jazeera. Rasa penasaran mendorong saya untuk mencari dan menonton versi lengkap perdebatan itu di YouTube.
Diskusi antara keduanya berlangsung sengit, terutama ketika menyentuh isu-isu sensitif seperti mukjizat dalam Islam. Mehdi Hasan melontarkan pertanyaan mengenai apakah Dawkins merasa dirinya lebih unggul secara intelektual, sementara Dawkins membalas dengan pernyataan kontroversial, termasuk tuduhan pedofilia terhadap Nabi Muhammad.
Bagi saya, perdebatan semacam ini bukanlah hal yang sepenuhnya baru. Namun demikian, yang membuatnya menarik adalah cara keduanya merepresentasikan dua cara pandang yang sangat berbeda dalam memaknai realitas. Dari situ muncul pertanyaan reflektif: bagaimana seharusnya kita memahami kisah-kisah keagamaan yang bersifat metafisik atau supranatural, seperti mukjizat dalam Islam?
Klaim Agama dan Tuntutan Bukti Empiris
Sebagai salah satu tokoh Four Horsemen of Atheism dan seorang biolog evolusioner, Dawkins menuntut agar klaim-klaim keagamaan didukung oleh bukti empiris. Dalam kerangka berpikirnya, sebuah pernyataan hanya layak dianggap benar jika dapat diuji dan diverifikasi secara ilmiah—sebuah pendekatan yang sangat positivistik.
Sebaliknya, Mehdi Hasan, seorang jurnalis Muslim, menyatakan keyakinannya terhadap mukjizat Nabi Muhammad, seperti peristiwa terbelahnya bulan atau perjalanan malam Nabi ke langit dengan menunggangi Buraq, makhluk bersayap.
Respons Dawkins terhadap hal ini sangat skeptis. Dengan nada meremehkan ia berkata, “Oh, come on. You’re a man of the 21st century.” Pernyataan ini menyiratkan bahwa kepercayaan terhadap fenomena supranatural dianggap sebagai sisa cara berpikir pra-ilmiah yang sudah tidak relevan di era modern.
Bagi Dawkins, kisah mukjizat adalah klaim faktual tentang dunia fisik yang harus tunduk pada hukum alam. Karena secara ilmiah peristiwa tersebut dianggap mustahil, maka narasi mukjizat dipahami sebagai kesalahan atau dongeng belaka.
Sebaliknya, Hasan tidak memandang mukjizat sebagai klaim ilmiah yang menunggu pembuktian laboratorium. Ia melihat iman bergerak dalam ranah yang berbeda dari sains. Mukjizat, baginya, adalah tanda-tanda ketuhanan yang sarat makna spiritual, bukan peristiwa fisika yang harus dijelaskan secara kausal.
Pada akhirnya, perdebatan ini dapat dipahami sebagai benturan dua pendekatan pemahaman yang berbeda: metode Erklären (menjelaskan) khas ilmu-ilmu alam yang diwakili Dawkins, dan metode Verstehen (memahami) khas ilmu-ilmu kemanusiaan yang—secara implisit—diperagakan oleh Hasan.
Wilhelm Dilthey dan Pemahaman Kehidupan Batin
Di titik inilah pemikiran Wilhelm Dilthey, filsuf dan sejarawan Jerman abad ke-19, menjadi sangat relevan. Seperti dijelaskan F. Budi Hardiman dalam Seni Memahami, Dilthey berperan penting dalam memberikan fondasi metodologis bagi Geisteswissenschaften agar tidak dipandang lebih rendah dibanding Naturwissenschaften.
Menurut Dilthey, manusia dan ekspresi kehidupannya tidak dapat dipahami dengan metode yang sama seperti objek-objek alam. Alam dijelaskan melalui hukum sebab-akibat (erklären), sementara kehidupan batin manusia dan ekspresi historisnya hanya bisa dipahami dari dalam (verstehen).
Dilthey merumuskan tiga konsep utama untuk memahami kehidupan batin: Erlebnis (penghayatan), Ausdruck (ungkapan), dan Verstehen (pemahaman). Erlebnis merujuk pada pengalaman subjektif yang langsung dirasakan sebelum dianalisis secara rasional—sesuatu yang abstrak dan sulit diungkapkan sepenuhnya dengan bahasa.
Misalnya, saat seseorang menikmati es krim cokelat. Kenikmatan itu dirasakan secara spontan tanpa disertai analisis tentang suhu, kandungan gula, atau komposisi kimianya. Sensasi murni itulah yang disebut Erlebnis.
Dari Penghayatan ke Ungkapan
Namun pengalaman subjektif tersebut tidak dapat diakses orang lain secara langsung. Di sinilah Ausdruck berperan. Ausdruck adalah bentuk objektivasi dari Erlebnis melalui ekspresi tubuh, bahasa, tindakan, karya seni, hukum, maupun teks keagamaan.
Dalam contoh es krim tadi, senyum lebar atau ucapan “Ini enak sekali!” adalah cara seseorang mengekspresikan pengalaman batiniahnya. Ekspresi-ekspresi inilah yang memungkinkan orang lain menangkap, meski secara tidak langsung, pengalaman yang dirasakan subjek.
Tahap terakhir adalah Verstehen, yakni proses hermeneutis untuk menafsirkan Ausdruck demi memahami Erlebnis yang melahirkannya. Kita memahami kehidupan batin orang lain dengan menafsirkan jejak-jejak ekspresi lahiriah mereka.
Membaca Ulang Debat Dawkins–Hasan
Dengan kerangka Dilthey, kesalahpahaman antara Dawkins dan Hasan menjadi lebih terang. Dawkins menerapkan metode Erklären pada ekspresi keagamaan, memperlakukan narasi mukjizat layaknya laporan ilmiah yang harus patuh pada hukum fisika. Dari sudut pandang ini, kisah bulan terbelah atau perjalanan dengan kuda bersayap tentu tampak absurd.
Namun, pendekatan ini mengabaikan fakta bahwa narasi mukjizat bukan laporan saintifik, melainkan Ausdruck dari Erlebnis spiritual yang mendalam, baik dari Nabi Muhammad maupun komunitas Muslim awal. Narasi tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut Dilthey sebagai objektiver Geist—dunia historis-sosial yang dibentuk oleh ekspresi kehidupan manusia dan memiliki logika maknanya sendiri.
Pendekatan hermeneutis tidak bertanya apakah peristiwa itu terjadi secara fisik, melainkan pengalaman apa yang diungkapkan melalui kisah tersebut dan bagaimana maknanya dalam konteks sejarahnya. Kebenaran yang dicari bukan kebenaran kausal, melainkan kebenaran makna.
Isra Mi’raj dalam Perspektif Hermeneutis
Kisah Isra Mi’raj, misalnya, jika dilihat melalui kacamata Dawkins, akan langsung ditolak sebagai mustahil secara ilmiah. Namun dalam perspektif Dilthey, kisah ini dipahami sebagai ekspresi sarat makna yang harus dibaca dalam konteks sosial-historisnya.
Peristiwa ini terjadi pada masa ketika komunitas Muslim mengalami tekanan berat, yang dikenal sebagai Tahun Kesedihan. Dalam situasi tersebut, Isra Mi’raj menjadi pengalaman spiritual yang memberi penguatan, penghiburan, dan peneguhan misi kenabian. Perintah salat lima waktu yang diterima Nabi pada peristiwa ini berfungsi sebagai fondasi spiritual bagi umat yang sedang tertekan.
Dengan demikian, memahami Isra Mi’raj secara hermeneutis berarti menghayati kembali makna psikologis, teologis, dan sosial yang dirasakan komunitas Muslim awal—bukan membuktikan kecepatan perjalanan atau eksistensi Buraq.
Lingkaran Hermeneutis dan Kesalahan Kategori
Dilthey juga menekankan pentingnya lingkaran hermeneutis: pemahaman atas bagian hanya mungkin melalui keseluruhan, dan sebaliknya. Dawkins terjebak pada pembacaan parsial yang memisahkan narasi mukjizat dari konteks historis dan spiritualnya.
Hermeneutika Dilthey tidak menolak rasionalitas, tetapi menuntut kesesuaian metode dengan objek kajian. Menilai teks keagamaan dengan standar sains alam sama kelirunya dengan menilai lukisan Botticelli hanya melalui panjang gelombang warna catnya—akurat secara teknis, namun kehilangan esensi makna.
Memang, hermeneutika tidak membuktikan mukjizat secara saintifik. Namun ia menyediakan cara yang sah secara akademik untuk memahami narasi metafisis sebagai ekspresi autentik pengalaman manusia dalam sejarah.
Dengan pendekatan ini, kisah-kisah mukjizat tidak lagi dipandang sebagai dongeng pra-ilmiah, melainkan sebagai ungkapan penghayatan spiritual yang terus memberi makna bagi jutaan manusia hingga hari ini. Kita pun diajak bukan hanya untuk menjelaskan dunia, tetapi juga memahami kemanusiaan dalam seluruh kedalaman dan kompleksitas pengalaman batiniahnya.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !