Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

KUPI II: Bentuk Ruang bagi Perempuan dalam Gerakan Keulamaan di Indonesia

KUPI II: Bentuk Ruang bagi Perempuan dalam Gerakan Keulamaan di Indonesia

Jakarta – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) kembali digelar untuk kedua kalinya di Semarang dan Jepara, Jawa Tengah. Ditandai penabuhan rebana oleh wakil lima organisasi, Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI II bersama Konferensi Internasional KUPI kali ini resmi dibuka pada Rabu(23/11/2022).

Bertempat di Auditorium Kampus UIN Walisongo Semarang, KUPI II dibuka oleh Wakil Presiden KH Maruf Amin secara daring. Wapres berharap dari KUPI II lahir pemikiran-pemikiran yang berperspektif perempuan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih baik.

“Saya berharap dengan KUPI ulama perempuan lebih militan dalam menangkal konten yang kontraproduktif bagi perempuan. Melalui KUPI II ulama perempuan meneguhkan perannya dalam membangun peradaban yang adil sesuai yang dicita-citakan Islam,” ujarnya.

KUPI merupakan ruang untuk para perempuan bersama-sama mewujudkan cita-cita bersama tentang keadilan gender. Ketua Steering Committee KUPI II Nyai Badriyah Fayumi menegaskan bahwa KUPI adalah ruang perjumpaan untuk berbagi pengalaman dan bersama-sama merumuskan cita-cita bersama Islam di masa yang akan datang.

“Ketika berbicara tentang Islam, tidak bisa melepaskan dari kemanusiaan, bangsa dan semesta,” ujarnya.

Ruang perempuan dalam gerakan keulamaan Islam

KUPI II mempertemukan teks dan konteks dari berbagai pengalaman yang tidak kosong. Kongres ini mempertemukan produk pemikiran lingkungan perguruan tinggi yang berbasis penelitian dan pesantren yang berbasis pada kitab kuning.

Sementaran Konferensi internasional KUPI ini menjadi ruang bersama untuk menyatukan komitmen dan membangun peradaban dunia yang berkeadilan. Ini sesuatu yang realistis untuk diwujudkan bersama ulama dunia, karena untuk membangun peradaban yang berkeadilan butuh kebersamaan.

“Kebersamaan ini tidak berarti selalu bersama-sama, tapi bisa bergerak dengan tujuan yang sama Sehingga kerja-kerja para ulama di akar rumput dapat menjadi sangat tinggi nilainya dalam mewujudkan tujuan bersama mewujudkan peradaban yang berkeadilan,” lanjut Nyai Badriah.

Disadur dari Liputan 6