Kabarumat.co – Jakarta — Diplomasi Islam Wasathiyah yang dikembangkan Indonesia dinilai memiliki potensi besar menjadi model bagi masyarakat internasional dalam menjawab berbagai tantangan global, mulai dari konflik, polarisasi, hingga krisis kemanusiaan.
Pandangan tersebut disampaikan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Aljazair, Yuli Mumpuni Widarso, saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Dasar Diplomasi Wasathiyah yang diselenggarakan Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional (HLNKI) Majelis Ulama Indonesia (MUI) di Aula Buya Hamka, Gedung MUI Pusat, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Dalam pemaparannya, Yuli menjelaskan bahwa perkembangan hubungan internasional saat ini menunjukkan perubahan besar dalam praktik diplomasi. Menurutnya, diplomasi tidak lagi menjadi ruang eksklusif pemerintah, tetapi berkembang menjadi diplomasi publik yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Ia mengatakan, selain jalur diplomasi resmi (first track diplomacy), saat ini semakin berkembang praktik public diplomacy atau diplomasi publik yang melibatkan organisasi masyarakat, akademisi, tokoh agama, hingga pelaku usaha untuk mendukung kepentingan bangsa di tingkat internasional.
“Dulu diplomasi hanya dilakukan oleh pemerintah. Sekarang berkembang menjadi public diplomacy yang melibatkan seluruh aktor yang dapat mendukung kepentingan bangsa di tingkat internasional,” ujar Yuli.
Perkembangan tersebut, lanjutnya, melahirkan konsep multi-track diplomacy, yakni model kolaborasi antara diplomasi resmi pemerintah dengan diplomasi publik yang dijalankan berbagai elemen masyarakat.
Dalam konteks tersebut, MUI mengembangkan konsep Diplomasi Islam Wasathiyah sebagai pendekatan diplomasi yang berpijak pada nilai moderasi, toleransi, keadilan, dan perdamaian.
Yuli menjelaskan bahwa konsep tersebut telah menjadi salah satu arah gerakan diplomasi MUI sejak Musyawarah Nasional MUI tahun 2015.
“Diplomasi Wasathiyah adalah diplomasi jalan tengah. Diplomasi yang inklusif, menghormati pihak lain, mengedepankan dialog, dan menolak sikap ekstrem,” katanya.
Menurut Yuli, konsep Islam Wasathiyah bersumber dari ajaran Al-Qur’an tentang ummatan wasathan atau umat pertengahan yang menekankan prinsip keseimbangan, keadilan, serta kemaslahatan dalam kehidupan sosial maupun hubungan antarbangsa.
Ia menegaskan bahwa diplomasi dalam perspektif Islam tidak hanya bertujuan mencapai kepentingan politik semata, tetapi juga membawa misi moral untuk memperkuat nilai kemanusiaan dan persaudaraan universal.
“Diplomasi dalam Islam bukan sekadar strategi politik untuk mencapai kepentingan negara, melainkan kewajiban moral yang berakar pada nilai keadilan, kasih sayang, dan persaudaraan umat manusia,” ungkapnya.
Yuli menilai Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi rujukan global dalam praktik Diplomasi Islam Wasathiyah.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan pengalaman panjang dalam merawat keberagaman, Indonesia dinilai mampu menghadirkan model diplomasi yang menempatkan dialog dan perdamaian sebagai fondasi utama.
“Kalau bicara Islam Wasathiyah, jangan melihat ke Timur Tengah. Lihatlah Indonesia. Kita harus membangun brand bahwa diplomasi Indonesia adalah diplomasi Wasathiyah yang dapat menjadi model dunia,” ujarnya.
Lebih lanjut, Yuli menjelaskan bahwa MUI selama ini telah mengimplementasikan Diplomasi Islam Wasathiyah melalui berbagai program, mulai dari pelatihan diplomasi, dialog lintas agama, penguatan moderasi beragama, kerja sama internasional, hingga diplomasi kemanusiaan untuk Palestina.
Menurutnya, dukungan terhadap Palestina merupakan bagian dari implementasi nilai kemanusiaan universal yang diajarkan Islam.
Karena itu, MUI terus mendorong kolaborasi dengan berbagai lembaga filantropi untuk memperkuat bantuan kemanusiaan dan program pembangunan bagi masyarakat Palestina.
Selain itu, MUI juga aktif mempromosikan toleransi, mencegah berkembangnya ekstremisme dan radikalisme, serta membangun kerja sama dengan tokoh dan organisasi lintas agama sebagai kontribusi Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia.
Menutup pemaparannya, Yuli mengajak peserta pelatihan untuk mengambil peran sebagai bagian dari diplomasi publik Indonesia dengan membawa semangat Islam Wasathiyah ke ruang nasional maupun internasional.
“Indonesia sudah dipandang sebagai model oleh dunia. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu menerjemahkan harapan itu menjadi kontribusi nyata bagi perdamaian dan kemanusiaan global,” pungkasnya.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !