kabarumat.co – Di masa kini, menjadi pribadi yang peduli terhadap dinamika politik kerap dianggap negatif. Membicarakan kondisi kebijakan negara pun sering dianggap terlalu sensitif, bahkan bisa mengundang teguran. Hal ini tak lepas dari kenyataan bahwa situasi bangsa memang sedang tidak stabil. Meski demikian, Islam justru mendorong umatnya untuk memiliki kesadaran politik yang tinggi.
Perlu dipahami bahwa istilah “politik” dalam konteks Islam bukan sekadar soal birokrasi atau praktik kekuasaan semata. Lebih luas, politik mencakup proses, mekanisme, kebijakan, serta aktivitas dalam mengelola kekuasaan dan pengambilan keputusan—baik yang berdampak pada kelompok kecil maupun masyarakat luas. Maka dari itu, memahami politik sejatinya adalah memahami bagaimana kebijakan pemerintah bekerja dan memengaruhi kehidupan umat.
Alasan pentingnya umat Islam memahami politik juga berkaitan dengan karakter dasar manusia itu sendiri. Menurut Al-Mawardi, manusia diciptakan sebagai makhluk yang lemah dan penuh kebutuhan. Berbeda dengan sebagian hewan yang dapat hidup mandiri, manusia justru secara fitrah saling bergantung satu sama lain. Ibnu Khaldun menyebut manusia sebagai “Al-Insan Madani bit Thabi’i” (manusia adalah makhluk sosial secara kodrati), sedangkan Aristoteles menyebutnya sebagai “Zoon Politikon” (makhluk politik).
Dalam karya Adabud Dunya wa Ad-Din, dijelaskan bahwa manusia memiliki kebutuhan yang jauh lebih banyak dibanding hewan. Sifat saling membutuhkan ini adalah bagian dari kodrat manusia yang tidak bisa dilepaskan. Maka dari itu, untuk memenuhi ketergantungan kolektif tersebut, dibutuhkan kepemimpinan dan kebijakan yang mengatur hubungan antarmanusia.
Ibnu Sina memberikan ilustrasi mengenai ketergantungan kolektif, mulai dari skala individu hingga negara. Menurutnya, manusia memerlukan tempat tinggal untuk menyimpan hasil kerjanya. Agar tempat tinggal itu aman, ia membutuhkan pasangan. Namun jika terlalu fokus menjaga rumah, kebutuhan pokok lain akan terabaikan, sehingga muncullah kebutuhan terhadap bantuan dari orang lain. Dalam skala yang lebih besar, keluarga akan berkembang, kebutuhan pun meningkat. Maka diperlukan para pekerja dan pembantu. Begitu pula keluarga-keluarga lainnya, sehingga terbentuklah komunitas dan akhirnya negara—yang semuanya saling bergantung. Seperti halnya domba yang membutuhkan gembala untuk menjaga dan mengarahkan mereka, masyarakat pun memerlukan pemimpin dan sistem politik yang adil untuk menjaga stabilitas dan kesejahteraan bersama.
Ibnu Sina menekankan bahwa peran pemimpin adalah seperti gembala yang menyediakan kebutuhan dasar, keamanan, dan perlindungan bagi umat. Tanpa adanya pemimpin dan kebijakan yang bijak, kebutuhan kolektif ini tidak akan dapat terpenuhi dengan baik (As-Siyasah, hlm. 84).
Islam pun memiliki istilah untuk ilmu politik, yakni hikmah madaniyah—sebuah ilmu yang membahas relasi antara individu dan masyarakat luas, serta bagaimana sistem sosial diatur agar selaras dengan nilai-nilai luhur. Hal ini dijelaskan oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam karyanya Mu’jam Maqalidul Ulum.
Meskipun tidak semua orang memegang jabatan politik, sebagai warga negara, umat Islam tetap memiliki kewajiban untuk mengawasi arah kebijakan dan dinamika politik. Sebab pada hakikatnya, politik bukanlah sekadar ajang perebutan kekuasaan, melainkan sarana untuk mewujudkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sosial.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Hazm, politik yang ideal adalah ketika tindakan-tindakan baik dan kebiasaan mulia tersebar di tengah masyarakat dan negara. (Rasail Ibnu Hazm, Juz IV, hlm. 14).
Tujuan inilah yang seharusnya mendorong umat Islam untuk tidak bersikap apatis terhadap politik, melainkan justru peduli dan aktif memantau perkembangan arah kebijakan yang terus berubah. Singkatnya, bagaimana mungkin nilai-nilai Islam dapat diterapkan secara nyata jika kondisi politik tidak mendukung terciptanya kemaslahatan bersama? Karena dorongan untuk terus menebar kebaikan dalam masyarakat, politik harus dipandang sebagai sarana untuk mewujudkannya—bukan sebagai alat kekuasaan yang disalahgunakan oleh sebagian pihak. Terlebih lagi, sifat manusia yang saling membutuhkan menegaskan pentingnya sistem yang mengatur kehidupan bersama. Oleh karena itu, setiap Muslim sudah sepatutnya memiliki kesadaran dan pemahaman politik. Wallahu a‘lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !