Kabarumat.co – Tidak sedikit orang yang harus menghadapi berbagai persoalan hidup yang begitu berat, sampai-sampai terasa mustahil untuk memikulnya sendirian. Keputusasaan biasanya tidak muncul tanpa sebab. Perasaan tersebut dapat terbentuk dari akumulasi berbagai masalah dan luka, seperti kehilangan sumber penghasilan, tekanan utang yang semakin besar, kesedihan akibat ditinggal orang yang dicintai, kegagalan dalam perjalanan pendidikan maupun karier, atau persoalan keluarga yang terus mengganggu ketenteraman hati.
Saat masalah datang silih berganti tanpa memberi kesempatan untuk beristirahat, kondisi mental dan pikiran seseorang dapat mengalami kelelahan yang mendalam. Rasa tidak berdaya, kehilangan tujuan, dan seolah tidak memiliki jalan keluar dapat berkembang menjadi kondisi psikologis yang serius. Dalam keadaan tertentu, hal tersebut bahkan dapat disertai munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup.
Pada situasi yang sangat rentan, keputusasaan tidak lagi dapat dipandang hanya sebagai kesedihan yang akan berlalu dengan sendirinya. Kondisi tersebut bisa menjadi sebuah krisis yang membutuhkan perhatian serius, dukungan nyata, serta pendampingan dari keluarga, sahabat, maupun orang-orang yang dipercaya.
Larangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Islam mengajarkan umatnya agar tidak kehilangan harapan kepada Allah. Berputus asa dari rahmat-Nya merupakan sikap yang dilarang, sebab keputusasaan dapat membuat seseorang kehilangan kekuatan untuk menghadapi kehidupan dan menjauh dari keyakinan bahwa selalu ada pertolongan Allah.
Allah Swt. mengingatkan hal tersebut dalam Surah Yusuf ayat 87. Ayat ini mengisahkan pesan Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya agar mereka terus berusaha mencari Yusuf dan saudaranya serta tidak berputus asa dari rahmat Allah.
يٰبَنِيَّ اذْهَبُوْا فَتَحَسَّسُوْا مِنْ يُّوْسُفَ وَاَخِيْهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ
Artinya: “Wahai anak-anakku, pergi dan carilah berita tentang Yusuf beserta saudaranya. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87).
Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsirul Munir menjelaskan ayat tersebut dengan penekanan pada pentingnya menjaga harapan kepada Allah, terutama ketika seseorang sedang berada dalam situasi sulit. Beliau menerangkan:
لا يقنط من فرج الله إلا القوم الكافرون، وهذا دليل على أن الكافر يقنط في حال الشدّة، وعلى أن القنوط من الكبائر، أما المؤمن فيرجو دائما فرج الله تعالى.
Artinya: “Tidak ada yang berputus asa dari kelapangan dan pertolongan Allah kecuali orang-orang kafir. Hal ini menunjukkan bahwa orang kafir dapat berputus asa ketika menghadapi kesulitan, sekaligus menjadi dalil bahwa keputusasaan termasuk dosa besar. Sementara itu, seorang mukmin senantiasa menaruh harapan akan datangnya kelapangan dan pertolongan dari Allah Swt.” (Tafsirul Munir, [Damaskus, Darul Fikr: 1411 H], jilid XIII, hlm. 51).
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak seharusnya membiarkan kesulitan memutus harapannya kepada Allah. Ketika seseorang hanya menjadikan keadaan duniawi dan berbagai sarana material sebagai satu-satunya tempat bergantung, harapannya akan mudah runtuh ketika semua itu tidak berjalan sesuai keinginan. Sebaliknya, keimanan kepada Allah memberikan landasan batin agar seseorang tetap memiliki harapan, bahkan ketika sedang menghadapi keadaan yang paling berat sekalipun.
Ketika berbagai jalan keluar secara lahiriah seolah telah buntu dan seseorang dihadapkan pada ujian yang terasa begitu berat, keyakinan terhadap luasnya kuasa Allah menjadi sumber kekuatan yang sangat penting. Tanpa keyakinan tersebut, seseorang dapat kehilangan pegangan dan semakin mudah terjerumus ke dalam keputusasaan. Karena itu, seberat apa pun ujian yang sedang dihadapi, seorang Muslim perlu meyakini bahwa rahmat, kasih sayang, dan pertolongan Allah senantiasa terbuka bagi hamba-Nya yang terus berusaha dan memohon pertolongan.
Islam tidak mengajarkan sikap pasif dalam menghadapi persoalan kehidupan. Keimanan justru berjalan beriringan dengan ikhtiar nyata. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mencari pengobatan dan meyakini bahwa Allah menyediakan jalan kesembuhan bagi setiap penyakit. Beliau bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى أَنْزَلَ الدَّاءَ وَالدَّوَاءَ، وَجَعَلَ لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءً، فَتَدَاوَوْا، وَلَا تَدَاوَوْا بِالْحَرَامِ
Artinya: “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, serta menjadikan bagi setiap penyakit obatnya. Maka berobatlah kalian dan jangan berobat dengan sesuatu yang haram.” (HR. Abu Dawud dari Abu Darda).
Ketika tekanan psikologis mulai mengganggu kehidupan sehari-hari—misalnya menyebabkan seseorang sulit tidur, kehilangan selera makan, tidak mampu menjalankan aktivitas sebagaimana biasa, atau muncul pikiran untuk mengakhiri hidup—situasi tersebut membutuhkan perhatian dan bantuan yang serius. Dalam kondisi seperti ini, memberikan stigma bahwa seseorang hanya “kurang iman” bukanlah pendekatan yang tepat. Ia justru membutuhkan dukungan, pendampingan, dan akses terhadap pertolongan yang sesuai.
1. Mencari Bantuan Profesional
Sebagaimana cedera fisik membutuhkan pemeriksaan dan penanganan tenaga medis, persoalan kesehatan mental juga dapat membutuhkan bantuan dari tenaga profesional. Gangguan psikologis yang muncul akibat tekanan berat tidak semestinya dihadapi seorang diri atau dianggap sebagai persoalan yang cukup diselesaikan dengan nasihat semata.
Berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi ruang yang aman untuk memahami berbagai emosi, mengurai persoalan yang membebani pikiran, serta mempelajari strategi untuk menghadapi tekanan secara lebih sehat. Sementara itu, psikiater dapat memberikan penanganan medis apabila kondisi seseorang membutuhkan evaluasi dan intervensi psikiatri, termasuk dalam menghadapi kecemasan atau depresi yang berat.
Mencari bantuan dari tenaga kesehatan jiwa bukanlah bentuk kegagalan ataupun kelemahan. Justru, hal tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga kesehatan dan kehidupan yang telah Allah amanahkan.
2. Menjadikan Silaturahmi sebagai Sumber Dukungan
Mengisolasi diri dan memendam seluruh persoalan seorang diri dapat membuat beban psikologis terasa semakin berat. Karena itu, keberadaan keluarga, sahabat, atau orang-orang yang dapat dipercaya memiliki peran penting dalam memberikan dukungan ketika seseorang sedang berada dalam masa sulit.
Membuka diri kepada orang yang dipercaya dapat menjadi langkah awal untuk keluar dari kesendirian. Dukungan sosial juga dapat membantu seseorang merasa bahwa dirinya tidak menghadapi persoalan tersebut seorang diri. Dalam konteks ini, ajaran Islam mengenai pentingnya menjaga silaturahmi memiliki relevansi yang kuat.
Syekh Sulaiman Al-Bujairimi menjelaskan sejumlah keutamaan silaturahmi dengan mengutip beberapa hadis:
وَفِي صِلَةِ الرَّحِمِ عَشْرُ خِصَالٍ مَحْمُودَةٍ
Artinya: “Dalam silaturahmi terdapat sepuluh perkara yang terpuji.” (Hasyiyah Al-Bujairami ‘alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2007], juz III, hlm. 272).
Di antara manfaat silaturahmi adalah menghadirkan kebahagiaan serta meninggalkan kesan dan kenangan positif dalam diri orang-orang yang menjaga hubungan tersebut. Kebaikan ini dapat dirasakan oleh pihak yang berkunjung maupun orang yang menerima kunjungan.
Jika kecemasan atau tekanan batin telah mencapai kondisi yang sulit dikendalikan, mencari bantuan segera juga merupakan bentuk ikhtiar yang penting. Menghubungi layanan krisis kesehatan jiwa atau mendatangi fasilitas kesehatan dapat menjadi langkah yang diperlukan, terutama ketika terdapat risiko seseorang menyakiti dirinya sendiri.
3. Mengawali Pemulihan dari Hal-Hal Sederhana
Ketika pikiran dipenuhi persoalan ekonomi, kegagalan, kehilangan, atau berbagai tekanan lainnya, seseorang tidak harus menyelesaikan seluruh persoalan tersebut dalam satu waktu. Langkah yang lebih realistis adalah memusatkan perhatian pada hal-hal sederhana yang masih dapat dilakukan dan dikendalikan hari ini.
Bangun dan beristirahat secara teratur, membersihkan diri, mengonsumsi makanan yang cukup dan bergizi, keluar sejenak untuk mendapatkan udara segar, atau melakukan aktivitas ringan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kembali rutinitas. Langkah-langkah sederhana tersebut mungkin terlihat kecil, tetapi dapat membantu seseorang perlahan mendapatkan kembali struktur dan kendali dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan manusia untuk menyerah kepada keputusasaan. Di saat yang sama, Islam juga tidak mengajarkan bahwa persoalan berat harus dihadapi hanya dengan pasrah. Keimanan perlu berjalan bersama ikhtiar.
Ketika menghadapi tekanan mental yang berat, seorang Muslim dapat berusaha mencari pertolongan profesional, menjaga hubungan dengan orang-orang yang dipercaya, serta membangun kembali rutinitas melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, harapan kepada Allah tidak berhenti sebagai keyakinan di dalam hati, tetapi diwujudkan melalui keberanian untuk terus berikhtiar dan mencari jalan keluar.






















![Ayat al-Nūr dan Jalan Menuju Makrifat: Telaah Sufistik atas QS. al-Nūr [24]: 35](https://kabarumat.co/wp-content/uploads/2026/09/Tasawuf-70kb-280x210.jpg)




Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !