kabarumat.co – Atmosfer Piala Dunia 2026 terasa berbeda. Setidaknya itulah kesan yang saya tangkap. Baik di ruang-ruang sosial nyata maupun di jagat digital, percakapan mengenai pesta sepak bola terbesar di dunia ini tidak semeriah edisi-edisi sebelumnya. Ada kesan hening yang sulit diabaikan.
Mungkin ada banyak penyebab di baliknya. Bisa jadi karena hak siar tahun ini berada di tangan TVRI sehingga sebagian masyarakat mengeluhkan keterbatasan akses siaran di sejumlah daerah. Bisa juga karena faktor-faktor lain yang belum sepenuhnya terlihat.
Atau jangan-jangan kegagalan Timnas Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2026 turut memengaruhi antusiasme publik. Padahal, impian itu sempat terasa begitu dekat. Namun, biarlah persoalan tersebut tidak perlu dibahas terlalu panjang. Apa pun situasinya, seperti edisi-edisi sebelumnya, saya tetap akan menikmati pertandingan dari depan layar televisi, ditemani camilan dan Tabloid BOLA edisi khusus Piala Dunia.
Piala Dunia pertama yang saya ikuti secara penuh adalah edisi Afrika Selatan 2010. Saat itu media sosial belum menguasai hampir seluruh sendi kehidupan seperti sekarang. Lagu Waka Waka dari Shakira menjadi soundtrack yang memperkuat euforia. Suasananya begitu terasa. Tabloid BOLA, SOCCER, dan berbagai poster pemain bintang dunia menjadi bagian dari keseharian saya dalam menyambut pesta sepak bola terbesar di muka bumi tersebut.
Bagi saya, pengalaman menonton Piala Dunia selalu menghadirkan sesuatu yang melampaui sekadar pertandingan sebelas lawan sebelas. Ada ketegangan, harapan, serta percakapan yang tiba-tiba hidup di warung kopi, angkringan, grup WhatsApp organisasi, hingga tongkrongan kampung. Piala Dunia bukan hanya soal gol dan trofi. Ia merupakan cerminan kehidupan manusia itu sendiri. Dan setiap kali hiruk-pikuk Piala Dunia hadir, ingatan saya selalu melayang kepada sosok Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab kita kenal sebagai Gus Dur.
Gus Dur dan Kecintaannya pada Sepak Bola
Banyak orang mengenal Gus Dur sebagai ulama, presiden, pejuang demokrasi, sekaligus tokoh pluralisme Indonesia. Bahkan ketika saya bertanya kepada mahasiswa di kelas tentang sosok Gus Dur, sebagian besar hanya mengenalnya sebagai mantan presiden. Padahal, warisan pemikiran dan kiprahnya jauh melampaui jabatan politik yang pernah diembannya.
Tidak banyak yang mengetahui bahwa Gus Dur juga merupakan pecinta sepak bola yang serius. Ia bukan sekadar penonton biasa. Bukan pula suporter musiman yang hanya hadir ketika tim kesayangannya menang lalu menghilang saat mengalami kekalahan. Gus Dur menulis banyak hal tentang sepak bola, mulai dari strategi permainan, budaya sepak bola, hingga keterkaitannya dengan politik, ekonomi, agama, dan kehidupan sosial masyarakat.
Melalui berbagai tulisan yang kemudian dihimpun dalam buku Gus Dur dan Sepak Bola terbitan Imtiyas, sepak bola dipandang sebagai pintu masuk untuk memahami kehidupan manusia secara lebih luas. Salah satu tulisannya yang cukup terkenal berjudul Piala Dunia ’82 dan Landreform.
Dalam tulisan tersebut, Gus Dur mengibaratkan persoalan landreform atau reforma agraria di Indonesia layaknya sebuah pertandingan sepak bola. Prosesnya sering tersendat oleh birokrasi yang lemah, berbagai penundaan, dan ketidakmampuan negara melindungi petani kecil. Akibatnya, pihak yang seharusnya tidak diuntungkan justru keluar sebagai pemenang, seperti tim yang bermain negatif tetapi tetap meraih kemenangan. Dari sini terlihat bahwa bagi Gus Dur, sepak bola tidak pernah berdiri sendiri sebagai olahraga semata.
Barangkali itulah yang membuat tulisan-tulisan Gus Dur tentang sepak bola terasa berbeda. Ketika banyak orang sibuk membahas statistik, hasil pertandingan, profil pemain, atau drama pascalaga, Gus Dur justru melihat nilai-nilai kemanusiaan, strategi kehidupan, dan dinamika sosial yang tersembunyi di balik pertandingan. Ia pernah menulis bahwa sepak bola dapat memperkaya pemahaman kita mengenai kehidupan manusia.
Refleksi dari Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 terasa sangat relevan jika dibaca melalui cara pandang semacam itu.
Tahun ini dunia sedang menghadapi berbagai kegelisahan. Perang masih berlangsung di sejumlah kawasan, ketimpangan ekonomi global semakin terasa, krisis lingkungan belum menemukan jalan keluar, harga pangan terus meningkat, pengangguran anak muda bertambah, dan media sosial perlahan mengikis kualitas relasi antarmanusia. Di Indonesia sendiri, pelemahan rupiah dan kenaikan harga BBM turut menambah beban masyarakat.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, Piala Dunia hadir sebagai ruang jeda bagi umat manusia.
Ketika perang, tekanan ekonomi, dan persoalan sosial membuat banyak orang hidup dalam kecemasan, turnamen yang diselenggarakan FIFA ini menjadi semacam pelarian kolektif yang menyatukan emosi manusia lintas negara. Selama sembilan puluh menit pertandingan berlangsung, orang-orang dapat melupakan sejenak harga kebutuhan pokok yang terus naik, ketegangan politik, maupun tekanan pekerjaan sehari-hari.
Namun situasinya terasa agak berbeda di Indonesia. Perbincangan mengenai tim unggulan, calon juara, atau pemain muda yang bersinar justru sering kalah ramai dibanding obrolan tentang harga BBM, nilai tukar rupiah, dan sulitnya mencari pekerjaan.
Meski demikian, fenomena Piala Dunia tetap menunjukkan bahwa masyarakat modern membutuhkan hiburan yang mampu memulihkan harapan bersama. Di warung kopi, media sosial, maupun ruang keluarga, sepak bola menciptakan ruang interaksi yang semakin langka dalam kehidupan yang kian individualistis.
Orang-orang yang sebelumnya tenggelam dalam rutinitas dan tekanan ekonomi kembali memiliki bahan percakapan yang sama. Negara-negara kecil yang mampu memberikan kejutan pun sering menghadirkan inspirasi bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk bersaing. Karena itu, Piala Dunia bukan sekadar tontonan global, melainkan simbol harapan bahwa manusia masih memiliki ruang untuk bermimpi dan percaya pada kemungkinan-kemungkinan yang tak terduga.
Sepak bola juga selalu mengingatkan bahwa kehidupan tidak semata ditentukan oleh kekuatan besar. Tim kecil bisa mengalahkan raksasa. Arab Saudi yang menundukkan Argentina pada Piala Dunia 2022 menjadi contoh nyata. Dalam sepak bola, uang memang penting, tetapi solidaritas, disiplin, kerja sama, dan mentalitas sering kali lebih menentukan.
Bukankah kehidupan sehari-hari juga demikian?
Di sekitar kita banyak orang biasa yang terus bertahan meski keadaan ekonomi tidak mudah. Pedagang kaki lima tetap membuka lapak di tengah terik matahari maupun hujan deras. Petani tetap menanam meski harga pupuk terus naik. Guru honorer tetap mengajar meski kesejahteraan mereka jauh dari kata ideal. Mereka adalah para underdog dalam kehidupan nyata: tidak banyak diperhitungkan, tetapi terus berjuang tanpa menyerah.
Piala Dunia juga mengajarkan arti penting kerja sama. Sebagus apa pun seorang pemain, ia tidak akan mampu memenangkan pertandingan seorang diri. Lionel Messi membutuhkan rekan setim. Cristiano Ronaldo membutuhkan umpan matang. Kylian Mbappé membutuhkan lini belakang yang kokoh. Dalam sepak bola modern, ego yang terlalu besar justru dapat merusak tim.
Pelajaran ini terasa semakin relevan di tengah masyarakat yang cenderung semakin individualistis. Media sosial mendorong banyak orang untuk tampil paling menonjol. Semua ingin terlihat sukses, mewah, dan menjadi pusat perhatian. Padahal kehidupan sosial tidak dibangun oleh pencitraan, melainkan oleh kolaborasi.
Mungkin karena itulah Gus Dur begitu menyukai sepak bola. Di lapangan hijau, kita dapat melihat miniatur kehidupan manusia: ada strategi, solidaritas, pengkhianatan, keberuntungan, kegagalan, air mata, sekaligus humor.
Menariknya, Piala Dunia 2026 berlangsung dalam lanskap digital yang sangat berbeda dibanding era Gus Dur. Kini pertandingan tidak hanya dinikmati melalui televisi, tetapi juga dipotong-potong menjadi konten singkat di TikTok, Instagram, dan YouTube. Tidak sedikit orang yang lebih sibuk membuat meme daripada menikmati pertandingan secara utuh.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana teknologi mengubah cara manusia mengalami realitas. Segala sesuatu menjadi serba cepat, instan, dan dangkal. Bahkan sepak bola pun kadang lebih ramai dibicarakan melalui sensasi daripada kualitas permainan.
Di titik inilah pemikiran Gus Dur terasa relevan untuk dihadirkan kembali. Ia selalu melihat sesuatu secara mendalam dan tidak berhenti pada permukaan. Ketika membahas sepak bola, ia justru berbicara tentang pembangunan, demokrasi, ketimpangan sosial, hingga budaya masyarakat. Artinya, sepak bola tidak hanya layak dipandang sebagai hiburan, tetapi juga sebagai ruang refleksi sosial.
Piala Dunia juga memperlihatkan sisi lain dari nasionalisme. Saat lagu kebangsaan dikumandangkan, jutaan orang menangis dan merasakan ikatan emosional yang kuat dengan negaranya. Namun setelah pertandingan berakhir, semangat itu sering kali menghilang dalam kehidupan sehari-hari. Korupsi tetap terjadi, kebencian sosial masih dipelihara, dan hoaks terus disebarkan.
Padahal semangat mendukung tim nasional semestinya diterjemahkan dalam tindakan nyata: bekerja dengan jujur, menjaga persatuan, dan menghormati sesama warga negara.
Di sisi lain, Piala Dunia juga menghadirkan ironi global. Stadion-stadion megah berdiri dengan teknologi mutakhir, sementara di banyak tempat rakyat masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar. Fenomena ini tampak dalam berbagai kritik yang muncul di negara tuan rumah, ketika sebagian masyarakat mempertanyakan prioritas pembangunan yang lebih mengutamakan kemegahan acara dibanding kesejahteraan warga.
Sepak bola memang mampu menyatukan dunia. Namun pada saat yang sama, ia juga memperlihatkan ketimpangan yang masih mengiringi kehidupan manusia.
Barangkali memang demikian hakikat hidup. Tidak pernah sepenuhnya ideal. Karena itu saya merasa Gus Dur tidak keliru ketika memandang sepak bola sebagai bagian dari kehidupan manusia itu sendiri. Di dalamnya terdapat harapan dan ketidakadilan, kerja keras dan keberuntungan, kemenangan dan kegagalan. Dan seperti kehidupan, sepak bola selalu menyisakan pelajaran bagi siapa saja yang mau melihat lebih dalam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !