Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Pengajian Ramadhan Bersama Gus Mus: Memahami Hakikat Makrifatullah

Pengajian Ramadhan Bersama Gus Mus: Memahami Hakikat Makrifatullah
Pengajian Ramadhan Bersama Gus Mus: Memahami Hakikat Makrifatullah

kabarumat.co – Dalam khazanah tasawuf, terdapat istilah yang sangat populer, yakni makrifat. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa kewajiban pertama manusia adalah makrifatullah, yaitu mengenal Allah. Sebab, bagaimana mungkin seseorang dapat menyembah Allah jika belum mengenal-Nya? Dan bagaimana mungkin ia berharap bisa mendekat kepada-Nya tanpa terlebih dahulu mengenal-Nya?

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), memaparkan penjelasan tersebut dalam pengajian Ramadhan yang membahas Kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Uraian itu disampaikan sebagaimana ditayangkan melalui kanal YouTube NU Online pada Ahad (22/2/2026).

Ahmad Mustofa Bisri atau Gus Mus kemudian menerangkan bahwa dalam tasawuf, jalan untuk mengenal Allah Swt. dapat ditempuh melalui usaha seorang hamba sendiri, seperti mempelajari sifat-sifat-Nya dan merenungi ciptaan-ciptaan-Nya. Menurutnya, itulah ikhtiar seorang hamba menuju Allah, yang diwujudkan dalam bentuk amal.

Seseorang memperbanyak amal fardu dan menambahkannya dengan amal-amal sunah hingga semakin dekat kepada Allah Taala, bahkan bisa mencapai derajat wali. Dengan demikian, kedekatan kepada Allah dapat diraih melalui kesungguhan memperbanyak ibadah.

Namun, ada pula jalan makrifat yang dianugerahkan langsung oleh Allah Swt. Dalam hal ini, Ibnu Athaillah berpesan bahwa ketika Allah telah membukakan pintu untuk mengenal-Nya, maka seseorang tidak perlu lagi memperdebatkan sedikit atau banyaknya amal. Sebab, ada orang yang mengenal Allah melalui kesungguhan ibadah dan amalnya, sementara ada pula yang memperoleh pengenalan itu sebagai karunia langsung dari-Nya.

Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) menjelaskan, apabila pengenalan itu datang langsung dari Allah, berarti seseorang memperoleh anugerah berupa makrifat tanpa harus melalui tahapan pendekatan yang panjang. Jika Allah sudah memberikannya, maka tidak perlu gelisah atau mempertanyakan sedikitnya amal seraya bertanya mengapa Allah menghadirkan tajalli (penyingkapan) kepadanya. Hal itu tidak perlu dipersoalkan. Yang terpenting adalah tercapainya makrifat kepada Allah, baik melalui usaha sungguh-sungguh dari diri sendiri maupun sebagai karunia langsung dari Allah Taala.

Gus Mus juga memaparkan bahwa ada jalan seorang hamba untuk mengenal dan mendekat kepada Allah yang sepenuhnya terjadi atas kehendak-Nya. Dalam tasawuf dikenal istilah “hal”, yakni keadaan batin yang dianugerahkan Allah secara tiba-tiba. Terkadang seseorang mendadak menjadi giat beribadah; itu merupakan hadiah dari Allah berupa dorongan, keinginan, dan niat untuk melakukan kebaikan.