Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Momen Istimewa di Dalamnya

Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Momen Istimewa di Dalamnya
Keutamaan Bulan Dzulhijjah dan Momen Istimewa di Dalamnya

Kabarumat.co – Bulan Dzulhijjah adalah bulan kedua belas dalam kalender Hijriah dan dianggap sebagai salah satu bulan yang sangat penting dalam Islam. Keistimewaan bulan ini karena termasuk ke dalam empat bulan haram (Al-Ashyurul Hurum), yakni bulan-bulan yang mendapat kehormatan khusus dari Allah.

Hal ini sesuai dengan penjelasan dalam hadist Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, seperti yang disampaikan oleh Ustadz M Ryan Romadhon dalam tulisannya berjudul Hikmah Adanya Asyhurul Hurum atau Empat Bulan Mulia dalam Islam.

Artinya: “Sesungguhnya waktu telah berputar sebagaimana mestinya, hal itu ditetapkan pada hari Allah menciptakan langit dan bumi. Dalam setahun ada dua belas bulan, diantaranya ada empat bulan yang mulia. Tiga darinya berturut-turut, yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab yang biasa diagungkan Bani Mudlar yaitu antara Jumadil Tsani dan Sya’ban.” Demikian dikutip oleh Kabarumat pada Senin (02/06/2025).

Adapun terkait hari istimewa dalam bulan Dzulhijjah, melansir keterangan Ustadzah Arny Nur Fitri dalam tulisannya yang berjudul 6 Hari Istimewa di Bulan Dzulhijjah, hari istimewa bulan Dzulhijjah ada enam, yakni sebagai berikut.

Pertama, 10 hari pertama Dzulhijjah

Menurut Arny yang merujuk pendapat Ibnu Rajab dalam Lataiful Maarif, sepuluh hari awal bulan Dzulhijjah sering dipandang lebih mulia dibandingkan hari-hari lainnya, termasuk sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Meski sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki keistimewaan karena adanya Lailatul Qadar, secara keseluruhan sepuluh hari pertama Dzulhijjah tetap dianggap lebih utama.

Kedua, Hari ‘Arafah 

Arny menjelaskan bahwa puncak keistimewaan dari sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah Hari Arafah, yang berlangsung pada tanggal 9 Dzulhijjah. Pada hari ini, jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf.
Untuk umat Islam yang tidak menjalankan ibadah haji, dianjurkan untuk berpuasa pada hari tersebut. Puasa Arafah memiliki keutamaan sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang berarti:

“Dari Qatadah bin Nu’man berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa pun yang menjalankan puasa sunnah di Hari ‘Arafah, maka akan diampuni dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. (HR. Ibnu Majah).

Namun, agar berbeda dengan umat Yahudi, umat Islam yang tidak mampu berpuasa sejak tanggal 1 Dzulhijjah dianjurkan untuk berpuasa selama dua hari, dimulai pada tanggal 8 Dzulhijjah yang dikenal sebagai Hari Tarwiyah. Afny menambahkan, “Hari Arafah adalah waktu yang sangat istimewa untuk berdoa, memohon ampunan, dan meraih rahmat dari Allah swt. Di Padang Arafah, para jamaah haji menghabiskan waktunya dengan berdoa, bermunajat, dan mengingat Allah.”

Ketiga, Hari Raya Idul Adha

Tanggal 10 Dzulhijjah diperingati sebagai hari raya Idul Adha, juga dikenal sebagai hari raya Kurban atau Yaumun Nahr. Menurut Arny, Idul Adha adalah saat bagi umat Islam untuk meneladani Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan putranya, Ismail, demi menjalankan perintah Allah.
Bagi Arny, penyembelihan hewan kurban bukan sekadar sebuah ritual, melainkan lambang dari kepatuhan, ketakwaan, serta kepedulian terhadap sesama. Afny menjelaskan, “Setiap penyembelihan hewan kurban mengandung makna pengorbanan dan ketaatan yang dalam kepada Allah swt, bukan hanya ritual semata.”

Keempat, Hari Tasyrik

Setelah perayaan Idul Adha, umat Islam menjalani hari-hari Tasyrik yang jatuh pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Pada hari-hari Tasyrik ini, umat Islam dilarang berpuasa, sesuai dengan sabda Nabi saw. yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah.

“Bisyr bin Suhaim berkata bahwa pada hari-hari Tasyrik, Rasulullah pernah berkhutbah, beliau mengatakan, “Tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang bersih, dan ini adalah hari-hari makan dan minum.”

Salah satu perbedaan antara hari raya Idul Fitri dan Idul Adha terletak pada pembacaan takbir. Pada hari raya Idul Adha, takbir dilantunkan secara berkelanjutan hingga berakhirnya hari Tasyrik, sedangkan pada hari raya Idul Fitri tidak demikian. Perbedaan ini juga menjadi salah satu keistimewaan bulan Dzulhijjah.

Kelima, Ibadah Haji

Salah satu keistimewaan terbesar bulan Dzulhijjah adalah pelaksanaan ibadah haji. Menurut Arny, ibadah haji bukan hanya sekadar perjalanan fisik, melainkan juga pengalaman spiritual yang sangat mendalam.
“Ibadah haji menggambarkan persatuan dan solidaritas umat Islam”.

Di tanah suci, semua muslim, tanpa membedakan ras, warna kulit, atau status sosial, berdiri setara di hadapan Allah. Mereka memakai pakaian ihram yang sederhana sebagai simbol kesucian dan kesetaraan di mata Allah,” ujar Arny.

Keenam, Momentum Muhasabah

Dzulhijjah adalah bulan terakhir dalam kalender Hijriyah. Sebagai penutup tahun, Afny menyarankan agar umat Islam melakukan muhasabah, yaitu refleksi dan evaluasi diri atas perjalanan selama setahun terakhir.

“Selain itu, umat Islam juga sebaiknya mulai merencanakan langkah-langkah agar dapat memanfaatkan waktu yang diberikan Allah sebaik mungkin dengan meningkatkan amalan baik dan berusaha meraih husnul khatimah,” jelasnya.