kabarumat.co – Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial tidak hanya menjadi sarana berbagi informasi, tetapi juga ruang untuk menampilkan kehidupan pribadi, termasuk kehidupan keluarga. Salah satu fenomena yang semakin sering ditemui adalah kebiasaan membagikan momen kebersamaan, kemesraan, dan keharmonisan keluarga kepada publik. Fenomena ini dikenal dengan istilah public display of affection (PDA), yaitu ekspresi kasih sayang atau kedekatan yang ditampilkan secara terbuka di ruang publik, termasuk melalui media sosial.
Jika dahulu memperlihatkan kehidupan rumah tangga secara terbuka dianggap sesuatu yang kurang lazim atau bahkan tabu, kini hal tersebut justru menjadi tren yang banyak dilakukan. Beragam alasan melatarbelakangi fenomena ini. Ada yang ingin mendokumentasikan momen berharga bersama keluarga, mencari pengakuan sosial dari lingkungan digital, membangun citra positif, hingga berbagi inspirasi dan tips membangun keluarga harmonis di tengah meningkatnya angka perceraian dan konflik rumah tangga.
Meski demikian, perubahan budaya ini tidak berarti semua hal dalam kehidupan keluarga boleh dipublikasikan tanpa batas. Seorang Muslim tetap dituntut untuk bersikap bijak dalam menggunakan media sosial. Keharmonisan keluarga boleh saja dibagikan sebagai bentuk rasa syukur dan inspirasi bagi orang lain, tetapi harus tetap berada dalam koridor syariat, menjaga etika, serta memperhatikan dampak yang mungkin muncul. Jangan sampai keinginan untuk mengikuti tren justru mengorbankan kehormatan keluarga dan membuka ruang bagi berbagai mudarat yang tidak diinginkan.
Menjaga Marwah dan Kehormatan Keluarga
Dalam khazanah Islam dikenal konsep muru’ah, yaitu upaya menjaga kehormatan, harga diri, dan citra baik seseorang di hadapan Allah maupun manusia. Imam Al-Mawardi menjelaskan bahwa muru’ah adalah menjaga perilaku agar senantiasa berada pada kondisi terbaik sehingga tidak melahirkan keburukan dan tidak menjadi sebab seseorang pantas mendapatkan celaan.
Dalam kehidupan rumah tangga, nilai muru’ah memiliki peran yang sangat penting. Keluarga bukan hanya institusi pribadi, tetapi juga memiliki kehormatan yang harus dijaga. Ketika seseorang membagikan aktivitas keluarganya ke media sosial, ia sebenarnya sedang membuka ruang penilaian dari banyak orang dengan latar belakang dan sudut pandang yang berbeda-beda. Karena itu, setiap unggahan perlu dipertimbangkan dengan matang.
Setidaknya ada dua pelajaran penting dari konsep muru’ah yang relevan dengan fenomena ini.
Pertama, menjaga perilaku dan konten yang berpotensi merusak citra baik keluarga. Tidak semua hal layak dijadikan konsumsi publik hanya karena dianggap menarik atau berpotensi mendapatkan banyak perhatian. Dorongan algoritma media sosial sering kali membuat seseorang tergoda untuk menampilkan sisi kehidupan yang terlalu personal demi memperoleh respons yang lebih besar. Padahal, sebagian konten dapat melampaui batas etika, bahkan bertentangan dengan ajaran agama, seperti mempertontonkan aurat, kemesraan yang berlebihan, atau hal-hal yang seharusnya menjadi konsumsi pribadi pasangan.
Kedua, memperhatikan dampak yang ditimbulkan oleh unggahan tersebut. Ada kalanya sebuah konten terlihat biasa dan tidak mengandung pelanggaran yang jelas. Namun, jika konten itu berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial, memancing komentar negatif, menumbuhkan riya’, atau memunculkan ekspektasi yang tidak realistis tentang kehidupan rumah tangga, maka kehati-hatian tetap diperlukan. Islam mengajarkan agar seorang Muslim tidak hanya mempertimbangkan apa yang boleh dilakukan, tetapi juga dampak yang mungkin ditimbulkan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Menjaga Privasi Keluarga sebagai Amanah
Selain menjaga marwah, aspek lain yang tidak kalah penting adalah menjaga privasi keluarga. Tidak semua momen yang terjadi dalam rumah tangga pantas diketahui publik. Ada ruang-ruang pribadi yang memang seharusnya tetap menjadi rahasia antara suami, istri, dan anggota keluarga.
Rasulullah SAW bahkan memberikan peringatan keras mengenai orang yang menyebarkan rahasia pasangannya. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim, beliau menjelaskan bahwa termasuk amanah yang sangat besar adalah menjaga hal-hal pribadi yang terjadi antara suami dan istri agar tidak disebarluaskan kepada orang lain.
Pesan hadis ini menunjukkan bahwa privasi bukan sekadar urusan kenyamanan, tetapi juga bagian dari amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Di era digital, bentuk penyebaran rahasia tidak hanya berupa cerita lisan, tetapi juga dapat berupa foto, video, percakapan, atau dokumentasi lain yang memperlihatkan sisi privat kehidupan keluarga.
Di samping pertimbangan agama, menjaga privasi juga penting dari sisi keamanan digital. Semakin banyak informasi pribadi yang dipublikasikan, semakin besar pula risiko penyalahgunaan data, pencurian identitas, penipuan, hingga ancaman terhadap keamanan anggota keluarga. Informasi yang tampak sepele, seperti lokasi rumah, sekolah anak, jadwal aktivitas, atau kebiasaan harian, dapat dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
Bersikap Bijak Sebagai Pengguna Media Sosial
Dari uraian di atas, setidaknya ada dua sikap yang perlu dikedepankan ketika berhadapan dengan tren membagikan kehidupan keluarga di media sosial.
Pertama, selalu menempatkan kehormatan dan privasi keluarga sebagai prioritas utama. Tidak semua kebahagiaan harus dipublikasikan, dan tidak semua momen perlu mendapatkan pengakuan dari orang lain. Ada kalanya kebahagiaan justru lebih terjaga ketika disimpan dalam lingkaran keluarga terdekat.
Kedua, bagi mereka yang sering menikmati konten keluarga harmonis di media sosial, jadikanlah konten tersebut sebagai inspirasi, bukan sebagai standar untuk mengukur kebahagiaan diri sendiri. Apa yang terlihat di layar sering kali hanya menampilkan sisi terbaik kehidupan seseorang. Realitas yang sebenarnya belum tentu sama dengan yang ditampilkan.
Karena itu, tidak perlu membandingkan keluarga sendiri dengan kehidupan keluarga lain yang tampak sempurna di media sosial. Fokuslah pada upaya membangun keluarga yang sakinah sesuai kondisi dan kemampuan masing-masing. Sebab, ukuran keberhasilan sebuah keluarga tidak ditentukan oleh banyaknya unggahan yang dibagikan, melainkan oleh ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan yang hadir di dalamnya.
Wallahu a’lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !