Kabarumat.co – Anak merupakan salah satu anugerah sekaligus amanah berharga yang Allah SWT percayakan kepada orang tua. Oleh sebab itu, anak perlu dibesarkan dan dididik dengan penuh kasih sayang serta bekal pendidikan yang terbaik. Terlebih lagi, tantangan kehidupan dan perkembangan zaman yang semakin kompleks menuntut orang tua untuk lebih bijak dalam membimbing dan mengarahkan anak.
Al-Qur’an sendiri menggambarkan anak sebagai perhiasan kehidupan dunia. Penyebutan ini menunjukkan bahwa kehadiran anak, sebagaimana harta benda, menjadi salah satu sumber kebahagiaan dan keindahan dalam kehidupan manusia. Namun, perlu disadari bahwa segala sesuatu yang menjadi perhiasan dunia tidak bersifat abadi. Harta dan anak pada akhirnya akan berpisah dari manusia ketika kehidupan dunia berakhir.
Karena itu, tanggung jawab orang tua tidak cukup hanya membesarkan anak agar tumbuh sehat, cerdas, dan sukses di dunia. Lebih dari itu, orang tua juga berkewajiban membimbing mereka agar menjadi pribadi yang saleh dan salehah. Dengan demikian, anak tidak hanya menjadi kebahagiaan selama hidup di dunia, tetapi juga menjadi sumber kebaikan yang pahalanya dapat terus mengalir hingga kehidupan akhirat. Salah satu bentuk kebaikan tersebut adalah doa anak saleh kepada kedua orang tuanya, bahkan setelah mereka meninggal dunia.
Dalam Surat Al-Kahf ayat 46, Allah SWT secara khusus menyandingkan harta dan anak sebagai perhiasan kehidupan dunia. Allah SWT berfirman:
اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahf [18]: 46).
Lantas, mengapa Allah SWT menyebut harta dan anak sebagai perhiasan kehidupan dunia? Hal ini karena keduanya merupakan kenikmatan yang keberadaannya tidak abadi. Manusia memang dapat merasakan kebahagiaan dan keindahan hidup melalui harta serta kehadiran anak, tetapi semua itu hanya berlangsung selama kehidupan dunia. Pada waktunya, harta dan anak tidak lagi dapat menyertai manusia.
Penjelasan tersebut juga dapat ditemukan dalam tafsir Imam al-Baidhawi. Beliau menerangkan:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا يَتَزَيَّنُ بِهَا الْإِنْسَانُ فِي دُنْيَاهُ وَتَفْنَى عَنْهُ عَمَّا قَرِيبٍ
Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Di dunia manusia berhias dengannya dan akan sirna dalam waktu dekat.”
(Imam Nashiruddin al-Baidhawi, Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, [Beirut: Daru Ihya’it Turats, 1481 H], jilid III, hlm. 283).
Tidak seperti harta dan anak yang keberadaannya hanya sementara di dunia, amal kebajikan memiliki keutamaan berupa pahala yang tetap dapat dinikmati hingga kehidupan akhirat. Dalam QS. Al-Kahf ayat 46, amal semacam ini dikenal dengan istilah al-baqiyatus shalihat, yakni berbagai perbuatan baik yang pahalanya kekal di sisi Allah SWT.
Syekh Nawawi Banten dalam kitab tafsirnya menjelaskan sejumlah amalan yang termasuk dalam kategori tersebut. Di antaranya adalah mendirikan shalat lima waktu, menunaikan ibadah haji, berpuasa pada bulan Ramadhan, serta membiasakan diri mengucapkan perkataan yang baik. (Lihat: Marahul Labid li Kasyfi Ma’nal Qur’anil Majid, [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah], jilid I, hlm. 651).
Lebih lanjut, Imam Abu Hayyan memberikan penjelasan mengenai alasan harta dan anak disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia. Menurutnya, segala sesuatu yang menjadi perhiasan dunia pada dasarnya bersifat sementara dan akan segera berakhir. Beliau menjelaskan:
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكُلُّ مَا كَانَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا فَهُوَ سَرِيعُ الِانْقِضَاءِ فَالْمَالُ وَالْبَنُونَ سَرِيعُ الِانْقِضَاءِ، وَمِنْ بَدِيهَةِ الْعَقْلِ أَنَّ مَا كَانَ كَذَلِكَ بِقَبْحٍ بِالْعَاقِلِ أَنْ يَفْتَخِرَ بِهِ أَوْ يَفْرَحَ بِسَبَبِهِ، وَهَذَا بُرْهَانٌ عَلَى فَسَادِ قَوْلِ أُولَئِكَ الْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ افْتَخَرُوا عَلَى فُقَرَاءِ الْمُؤْمِنِينَ بِكَثْرَةِ الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ.
Artinya: “Harta dan anak-anak merupakan perhiasan kehidupan dunia. Sementara itu, segala sesuatu yang tergolong sebagai perhiasan dunia akan segera mengalami kehancuran. Dengan demikian, harta dan anak-anak pun tidak luput dari sifat sementara tersebut. Secara logis, seseorang yang memiliki akal sehat tidak sepantasnya menjadikan sesuatu yang fana sebagai alasan untuk berbangga diri atau larut dalam kebahagiaan. Penjelasan ini sekaligus menjadi bukti atas kekeliruan orang-orang musyrik yang menyombongkan banyaknya harta dan keturunan di hadapan kaum Mukminin yang hidup dalam kemiskinan.”
(Imam Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut: Darul Fikr, 1420 H], jilid VII, hlm. 186).
Dari penjelasan tersebut, Imam Abu Hayyan hendak mengingatkan bahwa kepemilikan harta dan banyaknya keturunan tidak semestinya menjadi alasan seseorang untuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Sebab, keduanya hanyalah kenikmatan duniawi yang tidak akan bertahan selamanya. Karena itu, menjadikan harta dan anak sebagai tolok ukur kemuliaan atau kebanggaan merupakan sikap yang keliru.
Meski demikian, bukan berarti harta dan anak sama sekali tidak memiliki nilai bagi kehidupan akhirat. Hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa keduanya baru akan memberikan manfaat akhirat apabila disertai dengan amal kebajikan. Harta, misalnya, tidak cukup hanya dikumpulkan dan digunakan untuk memenuhi kepentingan pribadi. Harta juga perlu dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang bernilai ibadah, seperti membangun masjid, membantu orang yang membutuhkan, bersedekah, dan berbagai bentuk amal jariah lainnya.
Begitu pula dengan anak. Kehadiran mereka tidak seharusnya hanya dipandang sebagai sumber kebahagiaan selama orang tua masih hidup. Anak juga perlu dibimbing dengan pendidikan agama dan akhlak agar tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan salehah. Dengan begitu, mereka dapat menjadi sumber kebaikan bagi kedua orang tuanya, salah satunya melalui doa yang senantiasa dipanjatkan, bahkan setelah orang tua meninggal dunia.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan lanjutan Imam Abu Hayyan ketika menafsirkan bagian akhir QS. Al-Kahf ayat 46, khususnya frasa wa khairun amalan yang bermakna lebih baik untuk menjadi harapan. Beliau menjelaskan:
وَخَيْرٌ أَمَلًا أَيْ وَخَيْرٌ رَجَاءً لِأَنَّ صَاحِبَهَا يَأْمُلُ فِي الدُّنْيَا ثَوَابَ اللَّهِ وَنَصِيبَهُ فِي الْآخِرَةِ دُونَ ذِي الْمَالِ وَالْبَنِينَ الْعَارِي مِنَ الْبَاقِيَاتِ الصَّالِحَاتِ فَإِنَّهُ لَا يَرْجُو ثَوَابًا
Artinya: “Dan lebih baik untuk menjadi harapan, yakni lebih baik untuk diharapkan. Sebab, orang yang memiliki amal kebajikan tersebut senantiasa mengharapkan pahala dari Allah SWT selama hidup di dunia dan bagian kenikmatan di akhirat. Hal ini berbeda dengan orang yang hanya memiliki harta dan anak tanpa disertai amal kebajikan yang kekal pahalanya. Sebab, orang semacam itu tidak memiliki harapan untuk memperoleh balasan pahala.”
(Lihat: Al-Bahrul Muhith, jilid VII, hlm. 186).
Penjelasan senada juga dikemukakan oleh Imam al-Qurthubi. Beliau menerangkan bahwa amal-amal kebajikan yang kekal pahalanya, seperti shalat lima waktu, puasa Ramadhan, dan berbagai bentuk amal saleh lainnya, memiliki keutamaan yang lebih besar daripada harta dan anak. Namun, perbandingan tersebut ditujukan kepada harta dan anak yang tidak disertai dengan amal kebaikan. (Lihat: Tafsir al-Qurthubi, [Mesir: Darul Kutub al-Mishriyyah, 1964], jilid X, hlm. 413–414).
Berdasarkan berbagai penjelasan para ulama tersebut, dapat dipahami bahwa anak disebut sebagai perhiasan kehidupan dunia karena keberadaannya, sebagaimana harta, tidak bersifat abadi. Kehadiran anak memang menjadi salah satu sumber kebahagiaan dan keindahan hidup bagi orang tua. Akan tetapi, kebahagiaan tersebut tidak seharusnya berhenti pada kehidupan dunia semata.
Justru, orang tua memiliki tanggung jawab besar untuk mengarahkan anak agar menjadi pribadi yang saleh dan salehah. Pendidikan, kasih sayang, serta nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan sejak dini diharapkan mampu membentuk anak menjadi manusia yang bermanfaat dan senantiasa dekat dengan Allah SWT.
Dengan demikian, anak tidak hanya menjadi perhiasan yang memperindah kehidupan orang tua di dunia, tetapi juga dapat menjadi sumber kebaikan yang manfaatnya berlanjut hingga akhirat. Inilah pentingnya mendidik anak dengan baik: bukan sekadar agar mereka tumbuh dan berhasil menjalani kehidupan dunia, melainkan juga agar kehadiran mereka menjadi bagian dari amal kebajikan yang bernilai di sisi Allah SWT.




























Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !