Hasan al-Bashri: Teladan Ulama yang Tak Takut kepada Penguasa Zalim

Hasan al-Bashri: Teladan Ulama yang Tak Takut kepada Penguasa Zalim
Hasan al-Bashri: Teladan Ulama yang Tak Takut kepada Penguasa Zalim

Kabarumat.co – Pada masa pemerintahan Bani Umayyah, muncul seorang gubernur yang dikenal luas karena kekerasan dan sikap otoriternya, yaitu Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Ia memegang kekuasaan di wilayah Irak dan menjadi sosok yang kontroversial akibat kebijakan-kebijakannya yang keras, sering kali dianggap melampaui batas keadilan, serta wataknya yang terkenal kejam. Kondisi tersebut menciptakan suasana penuh ketakutan, sehingga hanya sedikit orang yang berani mengkritik atau menentang tindakannya. Siapa pun yang berusaha menentang kebijakan al-Hajjaj harus siap menghadapi ancaman, tekanan, bahkan hukuman dari penguasa.

Meski demikian, ada seorang ulama besar yang tidak tunduk pada rasa takut terhadap kekuasaan al-Hajjaj, yaitu Imam Hasan al-Bashri. Ia termasuk di antara sedikit tokoh yang berani berdiri menghadapi tirani sang gubernur, menyampaikan kebenaran secara terbuka di hadapan masyarakat, serta mengkritik berbagai tindakan zalim dan penyimpangan yang dilakukan al-Hajjaj tanpa gentar sedikit pun.

Kisah ini direkam oleh Abdurrahman al-Basya dalam kitab Shuwarun min Hayati at-Tabi’in (Darul Adab al-Islami, hlm. 101–103). Riwayat yang sama juga disebutkan oleh Tahsin Ali Syirwani dalam kitab Alfu Qashshatin wa Qishshah (Al-Manhal, Yordania, hlm. 21).

Dikisahkan bahwa pada suatu waktu Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi membangun sebuah istana yang megah dan mewah di kota Wasith. Setelah bangunan tersebut rampung, ia mengundang masyarakat untuk datang menyaksikan kemegahannya sekaligus memohonkan keberkahan baginya. Undangan itu disambut dengan antusias oleh banyak orang yang berbondong-bondong hadir untuk melihat istana baru sang penguasa.

Melihat banyaknya masyarakat yang berkumpul di satu tempat, Imam Hasan al-Bashri memandang momen tersebut sebagai kesempatan berharga untuk menyampaikan nasihat. Ia datang bukan untuk mengagumi bangunan itu, melainkan untuk mengingatkan masyarakat agar tidak terlena oleh gemerlap dunia dan tetap berani menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa.

Ketika tiba di lokasi, Hasan al-Bashri menyaksikan orang-orang berkerumun mengelilingi istana yang menjulang tinggi. Mereka terpukau oleh kemegahan arsitekturnya, kagum melihat luasnya ruangan-ruangan yang ada di dalamnya, serta terpesona oleh berbagai ukiran dan ornamen yang menghiasi bangunan tersebut. Melihat keadaan itu, beliau berdiri di tengah kerumunan dan menyampaikan sebuah pidato yang menggugah.

Di antara nasihat yang beliau sampaikan adalah:

“Kami telah menyaksikan bangunan yang didirikan oleh orang-orang yang paling buruk. Dari sana kami mengetahui bahwa Firaun pernah membangun sesuatu yang jauh lebih megah dan lebih tinggi daripada yang dibangun oleh orang ini. Namun pada akhirnya Allah membinasakan Firaun dan menghancurkan seluruh bangunan yang pernah ia dirikan. Andai saja Al-Hajjaj menyadari bahwa penduduk langit membenci perbuatannya, sedangkan banyak penduduk bumi hanyalah orang-orang yang telah terpedaya olehnya.”

Melalui pernyataan tersebut, Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa kemegahan kekuasaan dan bangunan yang megah tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari hukuman Allah apabila ia berlaku zalim. Ia juga menyindir sikap masyarakat yang terlalu mengagungkan penguasa hingga melupakan hakikat keadilan dan kebenaran.

Imam Hasan al-Bashri terus menyampaikan nasihatnya dengan penuh ketegasan dan keberanian. Ucapannya yang tajam dan sarat makna membuat sebagian orang terkesan, sementara sebagian lainnya diliputi rasa cemas. Mereka khawatir keberanian sang ulama dalam mengkritik penguasa akan mengundang kemurkaan Al-Hajjaj. Karena itu, beberapa orang berusaha menghentikannya dengan berkata, “Cukuplah, wahai Abu Sa’id… cukup sampai di sini.”

Namun, Hasan al-Bashri tidak menghentikan perkataannya. Dengan mantap beliau menjawab:

لَقَدْ أَخَذَ اللهُ الْمِيْثَاقَ عَلىَ أَهْلِ الْعِلْمِ لِيُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ يَكْتُمُوْنَهُ

Artinya, “Sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian dari para ulama agar mereka menjelaskan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Keesokan harinya, berita tentang pidato Hasan al-Bashri sampai ke telinga Al-Hajjaj. Ia memasuki ruang kerjanya dengan wajah yang memerah karena amarah yang memuncak. Di hadapan para pejabat dan pengikutnya, ia meluapkan kemarahannya seraya berkata, “Celaka kalian! Kemarin seorang penduduk Bashrah berdiri di hadapan orang banyak lalu mencela dan mengatakan apa saja tentang kami, tetapi tidak seorang pun dari kalian yang berani membantah atau menghentikannya. Demi Allah, aku akan membuat kalian menyaksikan darahnya tertumpah, wahai orang-orang pengecut!”

Setelah itu, Al-Hajjaj memerintahkan agar sebilah pedang dan tempat eksekusi dipersiapkan di hadapannya. Ia juga memanggil algojo untuk bersiaga menunggu perintah. Selanjutnya, beberapa pengawal diperintahkan untuk menjemput Hasan al-Bashri dan membawanya ke istana.

Tak lama kemudian, Hasan al-Bashri tiba. Seluruh mata tertuju kepadanya. Suasana menjadi tegang, sementara hati orang-orang yang hadir dipenuhi rasa takut akan apa yang mungkin terjadi. Ketika Al-Hajjaj memanggilnya untuk mendekat, Hasan al-Bashri melihat pedang, tempat pemancungan, dan algojo yang telah siap menjalankan tugasnya. Dalam keadaan itu, beliau tampak menggerakkan bibirnya, seolah sedang berdoa dan memohon pertolongan kepada Allah.

Setelah itu, beliau melangkah maju dengan tenang dan penuh kewibawaan. Anehnya, saat Al-Hajjaj melihat keteguhan dan ketenangan yang terpancar dari wajah Hasan al-Bashri, kemarahannya justru mereda. Rasa segan dan hormat tiba-tiba menyelimuti hatinya. Penguasa yang sebelumnya mengancam akan membunuhnya itu mendadak berubah sikap.

Dengan suara lembut ia berkata, “Mendekatlah, wahai Abu Sa’id… mendekatlah.”

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa tersebut dibuat heran dan takjub. Mereka tidak menyangka Al-Hajjaj yang beberapa saat sebelumnya begitu murka, bahkan bersumpah akan menumpahkan darah Hasan al-Bashri, kini berbicara dengan penuh penghormatan. Keheranan mereka semakin bertambah ketika Al-Hajjaj bukan saja menyambutnya dengan baik, tetapi juga mempersilakan Hasan al-Bashri duduk di tempat yang biasa ia gunakan sendiri.

Setelah Hasan al-Bashri mengambil tempat duduk, Al-Hajjaj mulai mengajukan berbagai pertanyaan seputar persoalan agama. Dengan keluasan ilmunya, Hasan al-Bashri menjawab setiap pertanyaan tersebut secara lugas, mendalam, dan memuaskan. Usai dialog itu berlangsung, Al-Hajjaj berkata kepadanya:

أَنْتَ سَيِّدُ الْعُلَمَاءِ يَا أَبَا سَعِيْدٍ

Artinya, “Engkau adalah pemimpin para ulama, wahai Abu Sa’id.”

Setelah itu, Al-Hajjaj memerintahkan seorang pelayan untuk membawa minyak wangi terbaik. Minyak wangi tersebut kemudian diberikan kepada Hasan al-Bashri sebagai bentuk penghormatan. Tidak hanya itu, beliau juga dilepas dan diantar keluar dengan penuh penghargaan.

Ketika Hasan al-Bashri telah meninggalkan ruangan, kepala pengawal Al-Hajjaj menghampirinya dan berkata, “Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya Al-Hajjaj memanggilmu dengan niat yang sangat berbeda dari perlakuan yang akhirnya ia tunjukkan kepadamu. Aku menyaksikan sendiri bagaimana ia mempersiapkan pedang, tempat eksekusi, dan algojo sebelum engkau datang. Ketika engkau melihat semua itu, aku melihat bibirmu bergerak seakan membaca sesuatu. Apakah yang engkau baca saat itu?”

Hasan al-Bashri pun menjawab bahwa ia berdoa:

يَا وَلِيَّ نِعْمَتِي وَمَلاَذِي عِنْدَ كُرْبَتِي، اجْعَلْ نِقْمَتَهُ بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَيَّ كَمَا جَعَلْتَ النَّارَ بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ

Artinya, “Wahai Dzat yang senantiasa melimpahkan nikmat kepadaku dan menjadi tempat perlindunganku saat kesulitan menimpa, jadikanlah kemarahannya sebagai kesejukan dan keselamatan bagiku, sebagaimana Engkau telah menjadikan api terasa sejuk dan menyelamatkan bagi Nabi Ibrahim.”

Demikianlah salah satu kisah yang menggambarkan keberanian Imam Hasan al-Bashri dalam menghadapi kesewenang-wenangan Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi. Kisah ini dinukil oleh Abdurrahman al-Basya dalam kitab Shuwarun min Hayati at-Tabi’in dan juga disebutkan oleh Tahsin Ali Syirwani dalam kitab Alfu Qashshatin wa Qishshah.

Dari peristiwa tersebut dapat dipetik pelajaran bahwa menyampaikan kebenaran merupakan tanggung jawab yang harus ditunaikan, meskipun terkadang mengandung risiko yang besar. Kisah ini juga menunjukkan bahwa keteguhan iman, keberanian moral, serta tawakal yang tulus kepada Allah dapat menjadi sumber kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tekanan dan ancaman dari siapa pun. Dengan pertolongan-Nya, sesuatu yang tampak mustahil dapat berubah menjadi kemudahan, bahkan kemarahan yang membara sekalipun dapat berubah menjadi sikap hormat dan penghargaan.

Semoga kisah ini menjadi inspirasi untuk senantiasa berpegang teguh pada kebenaran, sekaligus memperkuat keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu dekat bagi hamba-hamba-Nya yang bertawakal. Wallāhu a‘lam bi ash-shawāb.