Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Di Balik Prestasi Akademik, Ada Krisis Integritas yang Mengintai

Di Balik Prestasi Akademik, Ada Krisis Integritas yang Mengintai
Di Balik Prestasi Akademik, Ada Krisis Integritas yang Mengintai

kabarumat.co – Menjelang akhir hayatnya, lelaki sepuh yang akrab dipanggil “mbah dukun” itu tidak pernah dikenal sebagai sosok yang rajin menampakkan identitas keagamaan formal. Ia nyaris tak pernah terlihat mengenakan kopiah, menghadiri masjid, atau ikut meramaikan perayaan Idulfitri sebagaimana lazimnya kalangan muslim abangan di lingkungannya.

Namun, ada satu hal yang begitu membekas dalam ingatan saya: sikap dan tutur katanya yang hangat, tenang, santun, serta menghadirkan rasa nyaman bagi siapa pun yang berinteraksi dengannya. Ia memancarkan kesahajaan yang sulit dijelaskan hanya melalui ukuran-ukuran lahiriah.

Bagi saya yang pernah sedikit bersentuhan dengan kajian agama, kepribadian semacam itu bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Ia merupakan buah dari proses pengolahan batin yang panjang. Dalam tradisi keagamaan, kondisi demikian sering dikaitkan dengan akhlak, yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari kualitas batin seseorang.

Dengan demikian, akhlak bukan sekadar kumpulan teori tentang sopan santun atau materi pendidikan karakter sebagaimana lazim diajarkan. Akhlak merupakan manifestasi dari sesuatu yang lebih mendasar: keadaan batin yang telah ditempa dan diolah.

Karena itu, belajar berakhlak sesungguhnya bukan hanya mempelajari konsep-konsep akhlak itu sendiri, melainkan juga memahami dan mengembangkan sumber batiniah yang melahirkan akhlak tersebut.

Dalam khazanah agama, dimensi ini sering disebut sebagai sisi esoterik atau tasawuf. Sementara dalam kebudayaan Jawa, ia lebih dikenal dengan istilah kebatinan.

Di tengah situasi hari ini, ketika istilah “dukun” kerap dijadikan kambing hitam bagi berbagai persoalan sosial, saya merasa ada sesuatu yang keliru dalam cara kita memandang kehidupan, bahkan dalam cara kita beragama. Dalam banyak wacana keagamaan, posisi “dukun” seolah ditempatkan pada lapisan moral yang sangat rendah, bahkan sering dianggap lebih tercela daripada pelaku pelanggaran moral lainnya karena dikaitkan dengan persoalan akidah.

Padahal, berbagai kasus penyimpangan, termasuk pelecehan seksual, juga tidak jarang melibatkan mereka yang dikenal sebagai kyai, gus, atau tokoh agama lainnya. Namun menariknya, ketika hal itu terjadi, identitas keagamaan mereka sering kali dikesampingkan, seolah-olah kesalahan tersebut tidak lagi berhubungan dengan status yang selama ini mereka sandang. Mengapa demikian? Apakah kedekatan seseorang dengan simbol dan institusi agama membuatnya otomatis kebal dari kemungkinan melakukan kesalahan yang sama dengan manusia lain?

Dalam persoalan hasrat dan seksualitas, misalnya, manusia sering berhadapan dengan situasi yang mampu menggoyahkan berbagai kategori moral yang selama ini dianggap kokoh. Di sana tampak bahwa moralitas dan suara hati tidak selalu hadir secara otomatis, melainkan membutuhkan perjuangan dan pengendalian yang terus-menerus.

Menariknya, dalam kebudayaan Jawa, istilah “kyai” maupun “gus” tidak selalu mengandung makna kesucian atau keagungan secara inheren. Kedua istilah itu pada dasarnya bersifat lebih netral.

Istilah “kyai,” misalnya, tidak selalu merujuk kepada ulama atau tokoh agama. Dalam sejarah Surakarta, sebutan tersebut pernah disematkan kepada seekor sapi bule yang dianggap istimewa karena memiliki hubungan dengan Kyai Kasan Besari dari Tegalsari.

Demikian pula dengan istilah “dukun.” Dalam tradisi Jawa, kata ini memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas daripada sekadar konotasi mistik yang sering dilekatkan hari ini. Ada dukun pijat, dukun bayi, dukun manten, dan berbagai peran sosial lain yang hingga kini masih diterima sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Bahkan tidak sedikit sosok yang kemudian dihormati sebagai kyai atau gus justru memperoleh pengakuan masyarakat karena kemampuan-kemampuan yang dalam pengertian tertentu dekat dengan praktik perdukunan, meskipun mereka tidak memiliki penguasaan mendalam terhadap ilmu-ilmu agama formal.

Perbincangan mengenai tumpang tindih antara figur kyai, gus, dan dukun pada akhirnya memperlihatkan bahwa persoalan hubungan agama dan budaya belum sepenuhnya selesai. Di satu sisi terdapat otoritas agama yang direpresentasikan oleh kyai atau gus. Di sisi lain terdapat otoritas budaya yang dalam banyak hal diwakili oleh figur dukun.

Dalam ranah keagamaan, posisi kyai atau gus memang sering memperoleh legitimasi yang lebih kuat dibandingkan dukun. Namun dalam perspektif budaya, keduanya belum tentu memiliki perbedaan nilai yang mendasar. Sebab kebenaran, kebaikan, dan bahkan pengalaman ketuhanan pada dasarnya bersifat universal dan tidak sepenuhnya dimonopoli oleh satu identitas tertentu.

Persoalannya, agama sering kali masih ditempatkan sebagai wilayah yang dianggap lebih tinggi dan lebih bernilai dibandingkan bidang kehidupan lainnya. Ketika posisi dukun direndahkan demi meninggikan posisi kyai atau gus, yang terjadi sesungguhnya adalah praktik subordinasi terhadap pihak lain. Pertanyaan pentingnya adalah: apakah tindakan semacam itu memang dibenarkan, baik secara moral maupun keagamaan?

Dalam banyak tradisi kebatinan Jawa, tindakan merendahkan atau menyingkirkan keyakinan lain justru dipandang tidak dapat dibenarkan. Bahkan terhadap agama sekalipun, kritik tetap dimungkinkan ketika agama tampil dalam bentuk yang menindas.

Sejarah Jawa sendiri menyimpan berbagai contoh tentang ketegangan semacam ini. Kisah Siti Jenar, Kebo Kenanga, hingga berbagai aliran kepercayaan yang mengalami marginalisasi pada masa Orde Baru menunjukkan bagaimana kelompok-kelompok tertentu pernah disisihkan dari ruang sosial dan budaya yang sebenarnya juga merupakan bagian dari warisan masyarakat setempat.

Karena itu, layakkah superioritas agama atas bidang-bidang kehidupan lain terus dipertahankan? Bukankah tindakan sederhana seperti berbagi sebatang rokok kepada anak jalanan, menolong sesama, atau menunjukkan kepedulian dapat dilakukan tanpa harus terlebih dahulu berangkat dari identitas keagamaan tertentu?

Saya teringat kembali kepada sosok “mbah dukun” itu. Menjelang ajalnya, ia seakan meninggalkan pesan diam bahwa tidak semua hal yang selama ini dilekatkan pada agama otomatis memiliki nilai yang luhur. Dalam keadaan tertentu, sebagian darinya justru dapat berubah menjadi beban yang memberatkan perjalanan hidup manusia.