kabarumat.co – Dalam diskusi publik berjudul “One Piece, Kritik atau Ancaman Kemerdekaan?” yang tayang di kanal YouTube UIY Official pada 10 Agustus 2025, juru bicara HTI, M. Ismail Yusanto, menyatakan bahwa amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban agama. Pernyataan tersebut memang benar secara prinsip, namun penting untuk dipahami secara utuh agar tidak menimbulkan kesalahpahaman atau penyalahgunaan.
Amar ma’ruf nahi munkar merupakan perintah ilahi untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah hal-hal yang buruk. Ia bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi bentuk ibadah yang mensyaratkan niat yang tulus, cara yang bijak, dan tujuan yang lurus. Jika praktik ini diboncengi ambisi politik atau niat untuk menjatuhkan kekuasaan, maka esensinya berubah—dari cahaya perbaikan menjadi alat provokasi.
Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Musa menjadi teladan dalam menyampaikan kebenaran kepada penguasa yang zalim. Mereka tidak menggunakan amarah, hinaan, atau ajakan pemberontakan, melainkan menyampaikan risalah dengan kelembutan, kebijaksanaan, dan kesabaran. Habib Umar bin Hafidz pernah menegaskan bahwa nahi munkar harus dilakukan dengan cara yang makruf pula—bukan dengan perilaku yang justru bertentangan, seperti mencaci, memfitnah, atau melakukan kekerasan (NU Online, 2019).
Tujuan utama dakwah para nabi bukanlah untuk merebut kekuasaan, melainkan memperbaiki akidah dan akhlak umat. Inilah inti dari amar ma’ruf nahi munkar yang sejati: menyampaikan kebenaran tanpa menciptakan kekacauan.
Seorang negarawan tidak selalu harus berada di tampuk kekuasaan. Ia bisa berasal dari kalangan masyarakat biasa, ulama, akademisi, atau aktivis. Yang membedakan adalah sikapnya—kesabaran, cinta tanah air, dan ketaatan terhadap pemimpin yang sah. Mereka tidak menanam kebencian, tidak menebar perpecahan, dan tetap istiqamah dalam perjuangan tanpa kehilangan harapan.|
Ibnu ‘Athaillah dalam Al-Hikam pernah mengatakan, “Salah satu tanda seseorang bersandar pada amalnya sendiri adalah ketika ia kehilangan harapan saat tergelincir dalam kesalahan.”
Seorang negarawan sejati tidak menggantungkan harapan pada manuver politik, tetapi pada rahmat Allah. Ia meyakini bahwa perubahan hakiki lahir dari kesabaran dan doa, bukan dari hasutan atau pemberontakan.
Seruan untuk menjatuhkan presiden, keluar dari ketaatan terhadap pemerintahan yang sah, atau melakukan tindakan anarkis bukanlah bentuk amar ma’ruf nahi munkar. Tindakan semacam itu justru mencerminkan keputusasaan yang dibalut dengan simbol-simbol keagamaan. Islam tidak mengajarkan perlawanan dengan kekerasan, tetapi mengajarkan untuk berdialog, memberi nasihat, dan bersikap sabar.
Ketika amar ma’ruf nahi munkar dijadikan alat untuk meraih kekuasaan atau kepentingan tertentu, ia kehilangan kemuliaannya sebagai ibadah. Ia beralih fungsi menjadi alat provokasi yang berpotensi merusak persatuan umat dan stabilitas bangsa.
Amar ma’ruf nahi munkar adalah bentuk pengabdian kepada Allah, bukan kendaraan politik. Ia harus dijauhkan dari nafsu kekuasaan dan kepentingan tersembunyi. Seorang Muslim harus senantiasa menjaga agar dakwah yang ia lakukan benar-benar dilandasi niat karena Allah, bukan karena ambisi pribadi.
Bagaimana caranya menjaga kemurnian niat dalam berdakwah dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar? Kuncinya adalah dengan muhasabah (introspeksi), menuntut ilmu, dan berpegang pada adab. Mari kita rawat kemurnian dakwah. Mari kita menjadi negarawan sejati yang membangun bangsa dengan kasih sayang, bukan dengan kemarahan. Karena perubahan yang tulus lahir dari hati yang lapang, bukan dari tangan yang menggenggam batu.
Pada akhirnya, kita sendiri yang harus menjawab: apakah One Piece atau HTI yang sejatinya menjadi ancaman bagi kemerdekaan Republik Indonesia?
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !