kabarumat.co – Hampir satu dekade lalu, tepatnya Juli 2016, Paus Fransiskus (alm.) menyampaikan pernyataan penting yang menggema luas. Dalam artikel bertajuk “Pope Francis Says it is ‘Not Right’ to Identify Islam with Violence” yang diterbitkan The Guardian mengutip Reuters, beliau menegaskan bahwa mengidentikkan Islam dengan kekerasan adalah kekeliruan — not right and not true.
Pernyataan ini disampaikan kepada para jurnalis dalam penerbangannya kembali ke Roma, usai kunjungan lima hari di Polandia. Hal ini merupakan respons terhadap serangan brutal di Prancis Barat, di mana seorang pastor Katolik Roma berusia 85 tahun dibunuh saat memimpin misa. Paus Fransiskus dengan tegas menolak upaya mengaitkan Islam dengan ekstremisme dan terorisme.
Pernyataan ini membuka kembali diskusi penting tentang bagaimana Islam kerap disalahpahami akibat bias dan stereotip yang terus direproduksi dalam media. Edward W. Said dalam Covering Islam menunjukkan bagaimana sebagian media Barat secara selektif menyorot aspek-aspek paling keras dan konfrontatif dari Islam, menciptakan citra yang menyimpang. Islam jarang dipahami secara langsung dan objektif, sehingga menciptakan problem epistemologis yang serius. John L. Esposito dalam Unholy War juga membongkar bagaimana kelompok ekstremis kerap membajak ajaran Islam untuk membenarkan agenda politik mereka.
Di sinilah pentingnya membedakan secara tegas antara Islam, Islamisme, dan ekstremisme Islamis. Ketiganya memiliki karakteristik dan implikasi yang sangat berbeda, baik secara teologis maupun politis. Pemahaman ini bukan hanya penting dalam konteks wacana publik, tetapi juga krusial dalam pengembangan strategi kontra-radikalisasi dan kontra-terorisme yang efektif.
Islam vs Islamisme
Bassam Tibi, dalam karyanya Islamism and Islam, menjelaskan dengan jelas bahwa Islamisme bukanlah Islam. Islam adalah iman, spiritualitas, dan etika, sementara Islamisme adalah proyek politik — religionized politics, atau politik yang dibungkus dengan agama. Islamisme mengusung gagasan tatanan politik yang dianggap sebagai kehendak ilahi, bukan berdasar pada prinsip-prinsip kedaulatan rakyat.
Islam memang memiliki nilai-nilai politik, tetapi tidak mensyaratkan bentuk pemerintahan tertentu. Islamisme tumbuh dari tafsir politis yang spesifik terhadap Islam, namun tidak identik dengan Islam itu sendiri.
Pandangan ini juga sejalan dengan Muhammad Sa’id Al-Asymawi dalam Al-Islam As-Siyasi, yang menyatakan bahwa Tuhan menurunkan Islam sebagai agama, bukan sebagai sistem politik. Sementara agama bersifat universal dan humanistik, politik justru terbatas, sektarian, dan berubah-ubah sesuai konteks. Maka, upaya menjadikan Islamisme sebagai bentuk “kebangkitan Islam” justru tidak tepat. Tibi menyebutnya sebagai invention of tradition — sebuah konstruksi atas tradisi yang sebenarnya tidak memiliki landasan kuat dalam khazanah Islam klasik. Bahkan istilah-istilah seperti dawlah, nizham al-Islam, dan hukumah Islamiyyah tidak ditemukan secara eksplisit dalam Al-Qur’an maupun hadis.
Dari Islamisme Menuju Ekstremisme Islamis
Peter R. Demant dalam Islam vs Islamism menunjukkan bahwa Islamisme, selain bersifat politis dan anti-Barat, juga menjadi ladang subur bagi tumbuhnya ekstremisme. Dari kalangan Islamis, muncul kelompok minoritas yang mendukung kekerasan dan terorisme demi mencapai tujuan ideologis mereka.
Matthew L. N. Wilkinson dalam The Genealogy of Terror menjelaskan transformasi bertahap dari Islamisme ke ekstremisme Islamis dalam tiga tahap:
- Ideological Islamism – yaitu bentuk awal Islamisme sebagai ideologi politik.
- Non-violent Islamist Extremism – fase transisi di mana ideologi berubah menjadi pandangan dunia yang membelah secara mutlak antara “kita” (Muslim sejati) dan “mereka” (yang sesat atau kafir).
- Violent Islamist Extremism – tahap paling ekstrem, di mana dunia dilihat sebagai arena perang abadi antara Islam dan kekafiran, dan kekerasan dianggap satu-satunya jalan.
Di fase ekstrem inilah muncul legitimasi terhadap kekerasan, termasuk terhadap Muslim lain yang tidak sejalan. Siapa pun yang tidak berjuang untuk mendirikan global Islamic state dianggap musuh dan layak dibasmi.
Urgensi Memahami Perbedaan
Membedakan antara Islam sebagai agama, Islamisme sebagai ideologi, dan ekstremisme Islamis sebagai distorsi radikal adalah langkah awal yang penting untuk menghentikan generalisasi yang merugikan. Kesalahpahaman ini tidak hanya dimanfaatkan oleh para ekstremis, tetapi juga oleh pihak-pihak yang memiliki sentimen anti-Islam.
Dengan memahami tipologi ini secara mendalam, masyarakat dapat mengembangkan respons yang lebih tepat dan kebijakan yang lebih efektif dalam menghadapi tantangan radikalisasi dan kekerasan ekstrem berbasis agama.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !