Kabarumat.co – Sekilas, Muhammad Abduh dan Martin Heidegger tampak seperti dua sosok yang sama sekali tidak memiliki titik temu. Dari latar belakang biografis, keduanya berasal dari lingkungan yang berbeda. Abduh lahir dan tumbuh dalam konteks Timur Tengah, sedangkan Heidegger berasal dari Eropa. Abduh seorang Muslim, sementara Heidegger tumbuh dalam tradisi Kristen. Abduh bergulat dengan persoalan esensi dan pembaruan Islam, sedangkan Heidegger menaruh perhatian besar pada persoalan esensi keberadaan. Abduh lebih dikenal sebagai pemikir dan pembaru agama, sementara Heidegger dikenal sebagai seorang filsuf dan fenomenolog. Abduh dapat dilihat sebagai seorang mujahid, sedangkan Heidegger sebagai seorang fenomenolog yang menggugat fondasi pemikiran filsafat Barat.
Namun, jika ada satu persamaan yang dapat mempertemukan keduanya, barangkali persamaan itu terletak pada keberanian mereka untuk melawan arus. Abduh berhadapan dengan sistem pemikiran keagamaan yang telah mengakar kuat dalam tradisi. Heidegger, di sisi lain, terlibat dalam pusaran politik dan intelektual yang kontroversial pada zamannya. Keduanya, dengan caranya masing-masing, pernah berhadapan dengan arus dominan yang telah dianggap mapan.
Meskipun berasal dari tradisi yang berbeda dan bergerak dalam wilayah pemikiran yang tidak sama, keduanya memiliki kesamaan yang lebih mendasar: cara melihat persoalan. Abduh dan Heidegger sama-sama berangkat dari kegelisahan bahwa terdapat sesuatu yang tidak beres dalam tradisi yang mereka warisi. Abduh merasakan keterasingan dalam kehidupan keberagamaan yang menurutnya telah kehilangan daya kritis, sedangkan Heidegger merasa tidak puas terhadap perkembangan filsafat yang menurutnya semakin menjauh dari pertanyaan fundamental mengenai keberadaan. Kegelisahan tersebut kemudian mendorong keduanya untuk melakukan kritik dan menawarkan jalan pemikiran yang berbeda.
Heidegger, yang kemudian dikenal luas melalui magnum opus-nya, Being and Time, menggugat tradisi filsafat Barat yang dianggap telah mengabaikan kembali pertanyaan mendasar mengenai keberadaan. Menurutnya, persoalan tentang Being telah terlalu lama dianggap sebagai sesuatu yang selesai dibahas oleh tradisi filsafat. Karena itu, ia berusaha membuka kembali pertanyaan yang selama ini dianggap telah memperoleh jawaban.
Dalam kerangka tersebut, Heidegger memperkenalkan istilah Dasein. Istilah ini menjadi salah satu konsep penting dalam Being and Time dan merupakan bagian dari upayanya untuk menawarkan cara pandang baru terhadap persoalan eksistensi. Dasein tidak sekadar menunjuk pada keberadaan dalam pengertian umum, tetapi mengarah pada keberadaan manusia sebagai sesuatu yang khas, konkret, dan selalu berada dalam situasi tertentu. Melalui konsep ini, Heidegger hendak menunjukkan bahwa keberadaan manusia tidak dapat direduksi menjadi sekadar sebuah konsep abstrak.
Pada saat yang sama, Abduh melakukan kritik terhadap tradisi pendidikan dan keilmuan di Universitas Al-Azhar. Menurutnya, corak pengajaran yang berkembang ketika itu terlalu defensif terhadap perubahan dan cenderung mempertahankan tradisi secara literal. Ruang bagi penggunaan rasio dalam memahami ajaran agama menjadi semakin sempit. Tradisi seolah-olah telah menjadi sesuatu yang tidak dapat disentuh oleh kritik, sementara perubahan dipandang sebagai ancaman terhadap kemapanan.
Heidegger, pada bagian awal Being and Time, secara tegas menunjukkan bahwa pertanyaan mengenai keberadaan dalam sejarah filsafat telah memperoleh batas-batas tertentu sejak Plato dan Aristoteles, sementara dalam bentuk pemikiran yang lebih abstrak persoalan tersebut seolah telah mencapai titik final pada Hegel (Martin Heidegger, Being and Time, trans. John Macquarrie and Edward Robinson, 1962, Oxford: Blackwell Publishers Ltd.). Persoalannya, keberadaan justru terlalu sering dipahami sebagai konsep yang paling umum sehingga definisinya sendiri menjadi sulit untuk ditemukan secara konkret.
Heidegger tentu tidak berhenti pada kritik semata. Untuk menjawab persoalan tersebut sekaligus membuka kembali pembicaraan tentang makna keberadaan, ia memperkenalkan konsep Dasein. Istilah ini tidak dapat dipahami hanya sebagai “keberadaan” dalam pengertian sehari-hari. Dasein merupakan upaya untuk menunjukkan bahwa keberadaan manusia selalu memiliki kekhasan dan tidak dapat sepenuhnya digantikan atau direduksi menjadi keberadaan yang seragam. Setiap manusia berada dalam pengalaman, situasi, dan kemungkinan hidupnya masing-masing.
Dengan demikian, Dasein menjadi sekaligus konsep dan simbol bahwa keberadaan manusia tidak pernah benar-benar kosong. Setiap momen kehidupan mengandung pengalaman dan makna yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh pengalaman manusia lainnya. Gagasan semacam ini berhadapan dengan kecenderungan pemikiran yang menganggap persoalan keberadaan telah memperoleh bentuk final. Jika keberadaan telah dianggap selesai, maka mengajukan kembali pertanyaan tentang keberadaan tentu merupakan tindakan yang berpotensi mengguncang kemapanan filsafat.
Abduh mengambil langkah yang tidak kalah radikal dalam konteks keagamaan. Pertemuannya dengan Jamaluddin al-Afghani turut membentuk karakter intelektualnya sebagai seorang Muslim yang memiliki dua sisi sekaligus: sebagai mujahid, seorang pejuang, dan sebagai mujaddid, seorang pembaru. Dua karakter tersebut kemudian melekat dalam diri Abduh sebagai seorang ulama yang menguasai tradisi keislaman, tetapi tidak terjebak dalam kekakuan berpikir.
Ketika Abduh kemudian menjadi pengajar di Universitas Al-Azhar, gagasan-gagasannya segera berhadapan dengan resistensi dari kalangan yang mempertahankan corak pemikiran lama. Situasi tersebut semakin rumit ketika terjadi perubahan kekuasaan di Mesir pada 1879. Penguasa baru, Taufiq Pasya, memandang gagasan Abduh sebagai sesuatu yang berpotensi mengganggu kemapanan Al-Azhar. Akibatnya, Abduh diberhentikan dan diusir.
Namun, perpindahan tempat dan tekanan politik tidak membuat Abduh meninggalkan prinsip yang diyakininya. Dalam sumpah perjuangannya, ia menegaskan bahwa di mana pun ia berada, tempat tersebut akan menjadi ruang baginya untuk menyebarkan ajaran Islam. Ia berkomitmen untuk berpegang teguh kepada Al-Qur’an dalam seluruh amal perbuatannya serta berusaha menjauhkan diri dari penyimpangan (Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, 1979, Jakarta: Penerbit Bulan Bintang).
Baik Abduh maupun Heidegger pada akhirnya sama-sama memancing reaksi luas dari lingkungan intelektual mereka. Abduh bahkan dituduh merendahkan martabat para ulama. Ia mengalami pengasingan dan harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Namun, perjalanan tersebut pada akhirnya justru memperkuat pengaruhnya. Setelah berbagai gejolak politik di Mesir mereda, Abduh dipanggil kembali. Ia kemudian memperoleh kedudukan yang lebih tinggi, dari seorang pengajar menjadi seorang mufti, sementara penghargaan akademiknya yang sebelumnya ditangguhkan juga dipulihkan.
Heidegger pun mengalami konsekuensi yang berbeda tetapi tidak kalah signifikan. Gagasannya mengguncang sejumlah fondasi filsafat Barat dan memunculkan perdebatan dengan berbagai filsuf, termasuk Emmanuel Levinas, Max Scheler, dan Ernst Cassirer. Namun, kontroversi tersebut sekaligus menunjukkan daya hidup gagasannya. Konsep Dasein mendorong generasi filsuf setelahnya untuk kembali memberikan perhatian serius terhadap persoalan keberadaan yang sebelumnya dianggap telah mapan.
Demikian pula dengan Abduh. Kritiknya terhadap tradisi berpikir yang kaku di Al-Azhar membuka ruang bagi kesadaran baru mengenai pentingnya dialog antara tradisi, rasionalitas, dan perubahan. Apa yang pada awalnya dianggap sebagai ancaman terhadap kemapanan justru kemudian menjadi salah satu fondasi penting bagi pembaruan pemikiran Islam.
Hari ini, kita masih menikmati jejak yang ditinggalkan oleh kedua pemikir tersebut. Filsafat menjadi semakin dekat dengan persoalan konkret mengenai manusia dan keberadaan, sementara pemikiran Islam memperoleh ruang yang lebih luas untuk berdialog dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perubahan masyarakat. Namun, warisan terpenting keduanya barangkali bukan semata-mata konsep atau teori yang mereka tinggalkan. Yang lebih penting adalah keberanian untuk mempertahankan pencarian intelektual sekaligus tetap berpijak pada prinsip yang diyakini.
Islam yang dibawa oleh Rasulullah tidak hanya dapat dipahami sebagai seperangkat doktrin keagamaan. Kehadiran Al-Qur’an membawa sebuah pesan yang sangat mendalam tentang keberlanjutan dan penyempurnaan ajaran-ajaran sebelumnya. Karena itu, Islam semestinya tidak diposisikan sebagai pengetahuan yang tertutup, melainkan sebagai tradisi yang memiliki kemampuan untuk berdialog dengan berbagai bentuk pengetahuan.
Dalam konteks tersebut, mengeksplorasi berbagai disiplin ilmu, bahkan ketika disiplin tersebut berasal dari jalur tradisi yang berbeda, bukanlah sesuatu yang harus selalu dicurigai. Menemukan relasi, kesinambungan, dan mata rantai sejarah di antara berbagai bidang pengetahuan merupakan bagian dari usaha intelektual untuk membangun pemahaman yang lebih utuh mengenai realitas. Tanggung jawab tersebut berada di tangan umat Islam, meskipun tidak selalu disadari sepenuhnya.
Karena itu, mewarisi pemikiran Abduh dan Heidegger tidak berarti berhenti pada kekaguman terhadap gagasan-gagasan mereka. Sebaliknya, warisan tersebut justru menuntut kita untuk terus menguji, mengembangkan, dan memperluas pertanyaan yang pernah mereka ajukan. Menghargai peninggalan intelektual mereka berarti meneruskan semangat keberanian berpikir yang mereka tunjukkan, sembari tetap mempertahankan komitmen terhadap ilmu pengetahuan dan prinsip yang diyakini.
Pada akhirnya, perjuangan intelektual bukan sekadar persoalan tekad atau retorika. Ia menuntut keberanian untuk mengubah kegelisahan menjadi pertanyaan, pertanyaan menjadi pemikiran, dan pemikiran menjadi tindakan. Di titik inilah Abduh dan Heidegger, meskipun berasal dari dua dunia yang sangat berbeda, menemukan satu persinggungan penting: keduanya menunjukkan bahwa kemapanan tidak selalu berarti kebenaran, dan bahwa berpikir terkadang berarti memiliki keberanian untuk kembali mempertanyakan apa yang selama ini dianggap telah selesai.


























Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !