Saat Algoritma Mengatur Kata dan Makna

Saat Algoritma Mengatur Kata dan Makna
Saat Algoritma Mengatur Kata dan Makna

Kabarumat.co – Coba perhatikan linimasa media sosial kita hari ini. Dalam hitungan detik, ribuan kata berseliweran di hadapan mata: status, komentar, judul berita, hingga cuitan pendek yang muncul lalu segera tergantikan oleh unggahan berikutnya. Sekilas, semuanya tampak sederhana—hanya rangkaian huruf yang membentuk kalimat. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa satu kalimat mampu membuat kita marah dalam sekejap, sementara kalimat lain, meski sama-sama sederhana, berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan?

Jawabannya sebenarnya sederhana, tetapi kerap luput dari perhatian: kata tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Ia selalu lahir dari konteks tertentu, disampaikan melalui ruang tertentu, ditujukan kepada khalayak tertentu, serta didorong oleh motif, kepentingan, dan hasrat tertentu.

Di era digital, ada kekuatan baru yang turut menentukan perjalanan sebuah kata: algoritma. Ia bekerja sebagai sistem tak kasatmata yang menentukan kata mana yang akan memperoleh perhatian jutaan orang dan mana yang akan tenggelam tanpa jejak. Dalam situasi semacam ini, kata tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi. Ia menjadi sesuatu yang diperebutkan—sebagai instrumen kuasa, pembentuk opini, sekaligus pemantik emosi massa.

Sejak lama kita memahami bahasa sebagai alat untuk menyampaikan informasi. Namun, filsuf bahasa John Austin mengingatkan bahwa berkata-kata pada hakikatnya juga merupakan sebuah tindakan. Ketika seseorang berteriak, “Awas, banjir!”, ia tidak semata-mata sedang menyampaikan informasi tentang keadaan air; ia sekaligus mendorong orang lain untuk bertindak dan menyelamatkan diri. Demikian pula dengan ungkapan seperti “Kamu bisa” atau “Dia abai terhadap meritokrasi”. Kata-kata semacam itu tidak berhenti pada makna literalnya. Ia membawa daya pengaruh, mengarahkan persepsi, bahkan dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu.

Di ruang digital, daya pengaruh tersebut menjadi berlipat ganda. Judul berita dan komentar tidak selalu dibuat hanya untuk merangkum informasi. Tidak jarang ia dirancang untuk membangkitkan rasa penasaran, kemarahan, kecemasan, atau ketakutan. Sebab, sistem algoritmik telah mempelajari satu hal penting: emosi yang kuat membuat orang bertahan lebih lama di depan layar, lebih sering membagikan konten, dan lebih aktif meninggalkan komentar.

Pada titik itu, kata mengalami pergeseran fungsi. Ia tidak lagi semata-mata menjadi kendaraan untuk menyampaikan kebenaran, tetapi juga menjadi instrumen untuk memancing reaksi, menggerakkan massa, dan membingkai cara orang melihat suatu persoalan.

Dalam ekosistem digital seperti ini, kata yang sama dapat memiliki nasib yang berbeda. Kalimat yang identik dapat ditafsirkan secara berbeda bergantung pada siapa yang mengucapkannya, kepada siapa ia ditujukan, dan di ruang mana ia disampaikan.

Michel Foucault mengingatkan bahwa apa yang dianggap benar tidak semata-mata ditentukan oleh isi sebuah pernyataan. Posisi orang yang berbicara dan ruang dari mana ia berbicara juga ikut menentukan penerimaan atas ucapan tersebut. Dalam media sosial, “mimbar” itu dapat berupa jumlah pengikut, tanda centang biru, reputasi, atau bahkan keberuntungan algoritmik. Sebuah unggahan dapat tiba-tiba menjadi viral, sementara unggahan lain yang menyampaikan informasi serupa—bahkan lebih akurat—tidak pernah memperoleh perhatian yang sama.

Pierre Bourdieu melihat gejala semacam ini sebagai bagian dari perebutan modal simbolik. Mereka yang memiliki kemampuan menentukan cara bicara, gaya bahasa, sekaligus menguasai panggung tempat berbicara, memiliki peluang lebih besar untuk memperoleh kuasa sosial. Dahulu panggung tersebut berupa mimbar keagamaan, meja redaksi, ruang akademik, atau podium politik. Kini, panggung itu dapat berpindah ke linimasa media sosial. Bedanya, penjaga gerbangnya bukan lagi sepenuhnya manusia, melainkan sistem komputasional yang terus bekerja membaca perilaku pengguna dan mengukur seberapa lama perhatian kita tertahan pada suatu unggahan.

Persoalannya kemudian menjadi semakin kompleks. Shoshana Zuboff menyebut kondisi ini sebagai era “kapitalisme pengawasan”, ketika perhatian dan perilaku manusia diolah menjadi komoditas yang memiliki nilai ekonomi. Karena itu, algoritma pada dasarnya tidak dirancang terutama untuk menentukan mana yang paling benar atau paling baik. Ia bekerja untuk mengoptimalkan keterlibatan pengguna dan memperpanjang waktu yang mereka habiskan di hadapan layar.

Akibatnya mudah ditebak. Kata-kata yang memancing kemarahan, kebencian, ketakutan, kecemasan, dan perpecahan sering kali memperoleh panggung lebih luas daripada kata-kata yang menenangkan dan mendamaikan. Bukan selalu karena ia benar, melainkan karena ia lebih “menghasilkan” keterlibatan.

Di sinilah kita perlu mengajukan pertanyaan yang lebih mendasar: apakah sesuatu yang viral dengan sendirinya berarti benar?

Menariknya, jauh sebelum manusia mengenal media sosial dan algoritma, Al-Qur’an telah menawarkan sebuah cara pandang yang berbeda mengenai nilai sebuah kata. Ia menghadirkan perumpamaan tentang dua jenis kalimah: kalimah thayyibah dan kalimah khabitsah—kata yang baik dan kata yang buruk.

Dalam Surah Ibrahim ayat 24–25, Allah menghadirkan perumpamaan tentang kalimat yang baik sebagai sebuah pohon yang baik. Akarnya kokoh menghunjam ke bumi, cabangnya menjulang ke langit, dan pohon itu menghasilkan buah pada setiap musim dengan izin Tuhannya. Sebaliknya, kalimat yang buruk diumpamakan seperti pohon yang buruk, yang tercabut dari permukaan bumi dan tidak memiliki keteguhan.

Al-Thabari, dalam tafsirnya, menjelaskan bahwa kalimah thayyibah pada mulanya merujuk pada kalimat tauhid, lā ilāha illallāh. Namun, maknanya juga dapat dipahami secara lebih luas sebagai setiap ucapan yang baik dan benar. Sebagaimana perumpamaan pohon yang baik tidak terbatas pada satu jenis pohon, demikian pula kata yang baik mencakup berbagai bentuk perkataan yang memiliki kebenaran dan manfaat.

Ibnu Katsir memperkuat penjelasan tersebut. Akar yang kokoh menggambarkan keteguhan kalimat yang baik dalam hati orang yang meyakininya, sementara cabang yang menjulang ke langit menggambarkan amal dan ucapan baik yang diangkat dan diterima oleh Allah. Dengan demikian, kata yang baik bukan sekadar kata yang terdengar indah. Ia memiliki akar yang kuat dalam kebenaran dan mampu menghasilkan manfaat secara berkelanjutan—seperti pohon yang terus berbuah, bukan hanya muncul sesaat ketika sedang viral.

Sebaliknya, kalimah khabitsah digambarkan seperti pohon yang buruk dan tercabut dari akarnya. Ibnu Katsir mengaitkannya dengan pohon hanzhalah, yang pahit dan tidak menyenangkan. Pohon semacam itu tidak memiliki keteguhan dan mudah tumbang. Demikian pula kata-kata buruk: mungkin saja ia mencuri perhatian untuk sementara waktu, tetapi karena tidak memiliki akar kebenaran, ia pada akhirnya rapuh dan mudah lenyap diterpa waktu.

Al-Qurthubi memberikan dimensi sosial yang menarik terhadap perumpamaan ini. Menurutnya, gambaran tersebut juga dapat diterapkan pada ucapan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Perkataan yang jujur dan bermanfaat dapat terus dikenang serta menghadirkan kebaikan bahkan setelah orang yang mengucapkannya tiada. Sebaliknya, kebohongan dan fitnah mungkin saja menimbulkan kegaduhan untuk sementara, tetapi pada akhirnya akan runtuh ketika kebohongan itu terbongkar.

M. Quraish Shihab, melalui Tafsir Al-Mishbah, memperluas pemaknaan tersebut pada berbagai bentuk perkataan dan sikap manusia. Sesuatu yang baik akan terus menghasilkan kebaikan, sementara sesuatu yang buruk, betapapun besar perhatian yang sempat diperolehnya, pada akhirnya tidak memiliki fondasi yang kokoh untuk bertahan.

Dalam konteks digital hari ini, perumpamaan tentang pohon yang tercabut terasa semakin relevan. Kata-kata provokatif dapat menyebar dalam hitungan menit, memenuhi linimasa, dan memancing ribuan bahkan jutaan reaksi. Namun, ketika ia tidak berakar pada kebenaran dan kebaikan, popularitas tersebut sebenarnya rapuh. Ia mudah dibantah, mudah dilupakan, bahkan dapat berbalik menjadi bumerang bagi orang yang menyebarkannya ketika kebohongannya terungkap.

Sebaliknya, kata yang baik—jujur, bermanfaat, dan berakar pada kebenaran—tidak selalu menjadi kata yang paling viral. Ia mungkin tidak memenangkan pertarungan algoritma dalam hitungan jam atau hari. Namun, seperti pohon yang memiliki akar kuat, ia mampu terus menghasilkan buah dari waktu ke waktu. Ia dapat dikutip kembali, diteladani, diwariskan, dan memberikan manfaat bahkan melampaui generasi yang pertama kali mendengarnya. Kekuatannya bukan terletak pada popularitas sesaat, melainkan pada kebenaran yang menjadi fondasinya.

Inilah salah satu pelajaran penting bagi manusia yang hidup di tengah pusaran algoritma. Jauh sebelum media sosial hadir, Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa nilai sejati sebuah kata tidak ditentukan oleh seberapa ramai ia diperbincangkan pada hari ini. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa kuat ia berakar pada kebenaran dan seberapa jauh ia mampu menghasilkan manfaat.

Kerangka penilaian ini berbeda secara mendasar dari logika algoritma. Algoritma cenderung menilai kata berdasarkan besarnya respons yang mampu ditimbulkannya. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk menilai kata berdasarkan kebenaran dan kebaikan yang dikandungnya.

Dengan demikian, kuasa sebuah kata tidak semestinya diukur dari seberapa keras ia menggema di linimasa hari ini. Kuasa kata yang sesungguhnya terletak pada kedalaman akarnya dalam kejujuran dan kebaikan. Algoritma memang dapat menentukan kata mana yang muncul di permukaan dan mana yang tenggelam dalam arus informasi. Namun, sebagaimana perumpamaan tentang pohon yang baik dan pohon yang buruk, panjang pendeknya usia sebuah kata tidak ditentukan oleh mesin, melainkan oleh akar kebenaran yang menopangnya.

Di tengah derasnya arus kata yang setiap hari membanjiri ruang digital, barangkali yang paling kita butuhkan bukanlah kata yang paling ramai dibicarakan. Kita membutuhkan kata yang paling jujur, paling jernih, dan paling tenang dalam menuntun. Sebab, kata yang baik mungkin tidak selalu menjadi kata yang viral, tetapi ia dapat terus berbuah kebaikan jauh setelah hiruk-pikuk linimasa berlalu.