Rahasia di Balik Gunung yang Bergerak: Dialog Tafsir QS. An-Naml Ayat 88 dan Sains Modern

Rahasia di Balik Gunung yang Bergerak: Dialog Tafsir QS. An-Naml Ayat 88 dan Sains Modern
Rahasia di Balik Gunung yang Bergerak: Dialog Tafsir QS. An-Naml Ayat 88 dan Sains Modern

Kabarumat.co – Persepsi visual manusia tidak selalu mampu menggambarkan realitas secara utuh, bahkan terkadang menimbulkan kesan yang keliru. Sejak dahulu, gunung-gunung yang menjulang tinggi kerap dipandang sebagai lambang keteguhan, keabadian, dan kestabilan alam. Bentuknya yang kokoh membuat gunung seolah menjadi pasak bumi yang tidak tergoyahkan oleh hembusan angin maupun perubahan zaman. Akan tetapi, apa yang tampak diam bagi mata manusia belum tentu benar-benar berada dalam keadaan diam. Jauh sebelum perkembangan ilmu pengetahuan modern mengungkap berbagai bentuk pergerakan bumi, Al-Qur’an telah menghadirkan gambaran yang mengajak manusia untuk merenungkan keterbatasan penglihatannya. Dalam Surat An-Naml ayat 88, Allah Swt. menggambarkan gunung-gunung yang terlihat tetap pada posisinya, padahal bergerak sebagaimana awan berjalan. Ayat ini mengundang manusia untuk menghayati kebesaran dan kesempurnaan ciptaan Allah, sekaligus menyadari bahwa realitas alam tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan apa yang terlihat oleh mata. Untuk memahami pesan tersebut lebih jauh, marilah kita tadabburi firman Allah Swt. dalam Surat An-Naml ayat 88 berikut:

وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ ۚ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ ۚ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ

Artinya: “Dan engkau melihat gunung-gunung itu, engkau sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Naml: 88).

Dari segi susunan ayat, QS. An-Naml ayat 88 hadir setelah ayat sebelumnya yang menggambarkan kedahsyatan peristiwa peniupan sangkakala pada hari kiamat. Posisi ayat tersebut menjadi salah satu aspek penting yang memengaruhi keragaman penafsiran di kalangan ulama, baik mufasir klasik maupun kontemporer. Perbedaan pendekatan dalam memahami ayat ini menunjukkan adanya dinamika pemikiran tafsir dalam menjelaskan makna pergerakan gunung yang disebutkan Al-Qur’an.

Pandangan Mufasir Klasik: Fenomena Hari Kiamat

Sebagian besar ulama tafsir klasik memahami gambaran pergerakan gunung dalam ayat ini sebagai bagian dari rangkaian peristiwa yang terjadi menjelang atau ketika hari kiamat. Dalam penafsiran ini, gunung-gunung yang selama ini tampak kokoh dan tidak bergerak akan kehilangan kestabilannya, tercerabut dari tempatnya, lalu bergerak di udara menyerupai awan. Dengan demikian, ayat tersebut menggambarkan perubahan dahsyat yang terjadi pada tatanan alam semesta ketika hari kiamat tiba.

Imam Ibnu Katsir, misalnya, menjelaskan bahwa gunung-gunung yang terlihat tetap dan bertahan pada keadaan semula sesungguhnya akan bergerak meninggalkan tempatnya. Penjelasan tersebut menegaskan bahwa keteguhan gunung yang disaksikan manusia di dunia tidak akan berlangsung ketika kehendak Allah menghadirkan peristiwa besar pada hari kiamat. Berikut penjelasan Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya:

أَيْ تَرَاهَا كَأَنَّهَا ثَابِتَةٌ بَاقِيَةٌ عَلَى مَا كَانَتْ عَلَيْهِ، وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ أَيْ تَزُولُ عَنْ أَمَاكِنِهَا

Artinya: “Maksudnya engkau melihatnya seakan-akan ia tetap dan bertahan pada kondisinya semula, padahal ia berjalan bagaikan berjalannya awan, yakni bergeser lenyap dari tempat-tempatnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, [Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah, 1998 M], juz VI, hlm. 195–196).

Untuk memperkuat penafsiran bahwa pergerakan gunung dalam QS. An-Naml ayat 88 berkaitan dengan peristiwa hari kiamat, Ibnu Katsir menghubungkan ayat tersebut dengan sejumlah ayat lain yang menggambarkan kehancuran alam semesta, di antaranya QS. At-Thur ayat 9–10, QS. Thaha ayat 105–107, dan QS. Al-Kahf ayat 47. Ayat-ayat tersebut memberikan gambaran tentang perubahan besar yang akan terjadi pada tatanan alam ketika hari kiamat tiba.

Penafsiran serupa juga dapat ditemukan dalam karya Imam Al-Qurthubi, khususnya ketika menjelaskan frasa tahsabuha jamidatan (engkau mengira gunung-gunung itu tetap diam). Dengan mengutip pendapat Ibnu Abbas dan Al-Qutaibi, Al-Qurthubi menjelaskan bahwa sesuatu yang berukuran sangat besar dapat terlihat tidak bergerak meskipun sebenarnya sedang mengalami pergerakan yang cepat. Dalam konteks ayat ini, gunung-gunung tampak tegak dan diam dalam pandangan manusia, padahal sedang bergerak meninggalkan tempatnya. Ibnu Abbas menjelaskan:

قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: أَيْ قَائِمَةً وَهِيَ تَسِيرُ سَيْراً حَثِيثاً. وَقَالَ الْقُتَبِيُّ: وَذَلِكَ أَنَّ الْجِبَالَ تُجْمَعُ وَتُسَيَّرُ، فَهِيَ فِي رُؤْيَةِ الْعَيْنِ كَالْقَائِمَةِ وَهِيَ تَسِيرُ، وَكَذَلِكَ كُلُّ شَيْءٍ عَظِيمٍ وَجَمْعٌ كَثِيرٌ يَقْصُرُ عَنْهُ النَّظَرُ، لِكَثْرَتِهِ وَبُعْدِ مَا بَيْنَ أَطْرَافِهِ، وَهُوَ فِي حُسْبَانِ النَّاظِرِ كَالْوَاقِفِ وَهُوَ يَسِيرُ

Artinya: “Ibnu Abbas berkata, ‘Maksudnya, gunung-gunung itu tampak berdiri tegak, padahal bergerak dengan cepat.’ Al-Qutaibi menjelaskan bahwa gunung-gunung dikumpulkan dan digerakkan sehingga dalam penglihatan mata tampak seperti berdiri diam, meskipun sebenarnya sedang bergerak. Hal serupa dapat terjadi pada sesuatu yang berukuran sangat besar atau kumpulan yang begitu banyak sehingga mata tidak mampu menjangkau keseluruhannya, baik karena jumlahnya maupun karena jarak yang jauh antara bagian-bagiannya. Akibatnya, sesuatu tersebut terlihat berhenti menurut perkiraan orang yang mengamatinya, padahal sebenarnya sedang bergerak.”

(Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, [Kairo: Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah, 1964 M], juz XIII, hlm. 242).

Selain Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, Imam Fakhruddin Ar-Razi juga menguraikan alasan mengapa gunung yang bergerak dapat terlihat seolah-olah tidak mengalami pergerakan. Menurutnya, benda-benda berukuran besar yang bergerak secara cepat dengan arah dan karakter gerak yang relatif seragam dapat menimbulkan kesan diam bagi orang yang melihatnya. Meskipun demikian, Ar-Razi tetap menempatkan fenomena tersebut dalam kerangka peristiwa eskatologis, yakni tanda-tanda terjadinya hari kiamat. Ia juga menyoroti frasa shun’allah sebagai penegasan atas kesempurnaan penciptaan dan hikmah Allah dalam mengatur segala sesuatu. Penjelasannya dapat dilihat dalam kutipan berikut:

اِعْلَمْ أَنَّ هَذَا هُوَ الْعَلَامَةُ الثَّالِثَةُ لِقِيَامِ الْقِيَامَةِ وَهِيَ تَسْيِيرُ الْجِبَالِ، وَالْوَجْهُ فِي حُسْبَانِهِمْ أَنَّهَا جَامِدَةٌ فَلِأَنَّ الْأَجْسَامَ الْكِبَارَ إِذَا تَحَرَّكَتْ حَرَكَةً سَرِيعَةً عَلَى نَهْجٍ وَاحِدٍ فِي السَّمْتِ وَالْكَيْفِيَّةِ ظَنَّ النَّاظِرُ إِلَيْهَا أَنَّهَا وَاقِفَةٌ مَعَ أَنَّهَا تَمُرُّ مَرًّا حَثِيثًا. وَالْمَعْنَى أَنَّهُ لَمَّا قَدَّمَ ذِكْرَ هَذِهِ الْأُمُورِ الَّتِي لَا يَقْدِرُ عَلَيْهَا سِوَاهُ جَعَلَ هَذَا الصُّنْعَ مِنْ جُمْلَةِ الْأَشْيَاءِ الَّتِي أَتْقَنَهَا وَأَتَى بِهَا عَلَى الْحِكْمَةِ وَالصَّوَابِ

Artinya: “Ketahuilah bahwa hal ini merupakan tanda ketiga terjadinya hari kiamat, yaitu pergerakan gunung-gunung. Adapun alasan mengapa gunung-gunung tersebut disangka diam adalah karena benda-benda besar, apabila bergerak dengan cepat dalam arah dan pola yang seragam, akan terlihat seolah-olah tidak bergerak oleh orang yang mengamatinya, padahal sesungguhnya benda-benda itu melaju dengan cepat. Maknanya, setelah Allah menyebutkan berbagai perkara yang hanya mampu dilakukan oleh-Nya, Dia menempatkan fenomena ini sebagai bagian dari ciptaan yang disempurnakan dengan ketelitian, hikmah, dan ketepatan.”

(Mafatih al-Ghaib, [Beirut: Dar Ihya al-Turats al-Arabi, 1420 H], juz XXIV, hlm. 574).

Tafsir Kontemporer: Pergerakan Bumi dalam Perspektif Sains

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, muncul pendekatan penafsiran yang mencoba menghubungkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan temuan sains modern. Pendekatan ini tidak selalu dimaksudkan untuk menggantikan penafsiran ulama terdahulu, tetapi berupaya mengeksplorasi kemungkinan makna ayat melalui pengetahuan yang berkembang pada masa kini. Dalam pembahasan QS. An-Naml ayat 88, salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah frasa shun’allahilladzi atqana kulla syai’, yang menegaskan kesempurnaan ciptaan Allah.

Kata atqana berkaitan dengan makna ketelitian, keteraturan, dan kesempurnaan dalam penciptaan. Sejumlah mufasir kontemporer yang menggunakan pendekatan tafsir ilmi melihat frasa ini sebagai salah satu pertimbangan untuk memahami ayat dalam kaitannya dengan keteraturan alam semesta. Dari sudut pandang tersebut, mereka mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara gambaran gunung yang bergerak dan penegasan bahwa ciptaan Allah tersusun secara sempurna. Namun, hubungan ini merupakan salah satu pendekatan penafsiran, bukan bukti tunggal bahwa ayat tersebut secara pasti membicarakan rotasi Bumi.

Salah satu tokoh yang memberikan perhatian besar terhadap hubungan Al-Qur’an dan ilmu pengetahuan adalah Tantawi Jauhari. Melalui pendekatan tafsir ilmi, ia menawarkan pembacaan yang menghubungkan pergerakan gunung dengan gerak Bumi. Menurutnya, apabila Bumi bergerak mengelilingi Matahari dan gunung-gunung turut bergerak bersama Bumi, fenomena tersebut dapat dipahami sebagai gambaran keteraturan ciptaan Allah. Gunung terlihat diam oleh manusia, padahal secara fisik ikut bergerak bersama planet tempatnya berada. Ia menjelaskan:

أَنَّ هَذِهِ الْآيَةَ بَدِيعَةُ الْوَضْعِ مُحْكَمَةُ الصُّنْعِ، فَإِنَّ التَّفْسِيرَ يُنَاسِبُ الْمُتَقَدِّمِينَ مِنَ الْأُمَّةِ الْإِسْلَامِيَّةِ، وَإِذَا فُسِّرَتْ بِأَنَّ الْأَرْضَ دَائِرَةٌ حَوْلَ الشَّمْسِ وَالْجِبَالَ بِالطَّبْعِ سَائِرَةٌ مَعَهَا وَنَرَاهَا الْآنَ جَامِدَةً وَهِيَ فِي الْحَقِيقَةِ جَارِيَةٌ جَرْيًا سَرِيعًا جِدًّا، فَإِنَّ ذَلِكَ يُنَاسِبُ قَوْلَهُ (صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ). فَهَذَا هُوَ الْإِتْقَانُ، وَإِلَّا فَالْقِيَامَةُ تَخْرِيبٌ لِلْعَالَمِ، وَالْإِتْقَانُ يُنَاسِبُ هَذَا التَّفْسِيرَ

Artinya: “Ayat ini memiliki susunan yang istimewa dan penciptaan yang kokoh. Penafsiran yang berkembang pada masa terdahulu sesuai dengan pemahaman umat Islam pada zamannya. Namun, apabila ayat ini dipahami dengan pengertian bahwa Bumi beredar mengelilingi Matahari dan gunung-gunung secara alamiah turut bergerak bersamanya, sementara saat ini kita melihatnya seolah-olah diam padahal sebenarnya bergerak dengan sangat cepat, penafsiran tersebut dapat dikaitkan dengan firman Allah, ‘Begitulah perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.’ Inilah gambaran kesempurnaan penciptaan. Sebab, hari kiamat merupakan peristiwa kehancuran alam semesta, sedangkan konsep kesempurnaan penciptaan lebih selaras dengan penafsiran ini.”

(Al-Jawahir fi Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, [Mesir: Mustafa al-Babil Halabi, 1350 H], juz XIII, hlm. 253).

Pemikiran Tantawi Jauhari memperlihatkan salah satu upaya untuk membaca ayat Al-Qur’an melalui perspektif ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, pandangan tersebut perlu ditempatkan dalam konteks perkembangan tafsir ilmi, sehingga tidak serta-merta dianggap sebagai satu-satunya makna yang dimaksudkan oleh ayat tersebut.

Pembahasan mengenai frasa shun’allah juga mendapat perhatian dari M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah. Dengan merujuk pada pemikiran Ibnu Asyur, ia menguraikan bahwa kata shun’a mengandung makna suatu pekerjaan yang dilakukan dengan keterampilan, ketelitian, dan kualitas yang tinggi. Pemahaman ini membuka ruang untuk mempertimbangkan konteks penggunaan kata tersebut dalam ayat, khususnya ketika dihubungkan dengan kesempurnaan susunan alam.

Dalam konteks ini, gambaran kehancuran gunung pada hari kiamat dapat dibandingkan dengan ayat lain yang secara lebih eksplisit menggunakan perumpamaan kehancuran. Salah satunya adalah QS. Al-Qari’ah ayat 5:

وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ

Artinya: “Dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah: 5).

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa Al-Qur’an menggunakan beragam ungkapan untuk menggambarkan keadaan gunung, baik dalam konteks perubahan alam maupun peristiwa hari kiamat. Akan tetapi, perbedaan pilihan kata saja belum cukup untuk memastikan bahwa QS. An-Naml ayat 88 secara khusus menjelaskan pergerakan Bumi dalam pengertian astronomis.

Quraish Shihab juga memberikan perhatian terhadap ungkapan pembuka wa tara, yang berarti “dan engkau melihat”. Secara kebahasaan, ungkapan ini menggunakan bentuk kata ganti orang kedua tunggal. Dalam konteks ayat, bentuk tersebut dapat dipahami sebagai sapaan kepada Nabi Muhammad saw. Penggunaan gaya bahasa ini menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dikaji, meskipun tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ayat tersebut merupakan informasi ilmiah yang maknanya sengaja disembunyikan hingga manusia mencapai kemajuan teknologi tertentu.

(Tafsir Al-Mishbah, [Tangerang Selatan: Lentera Hati, 2002], juz VII, hlm. 287).

Pergerakan Gunung dalam Perspektif Geologi Modern

Perkembangan ilmu geologi memberikan penjelasan ilmiah mengenai dinamika permukaan Bumi. Melalui teori tektonik lempeng, para ilmuwan menjelaskan bahwa litosfer, yaitu lapisan terluar Bumi yang kaku, terbagi menjadi sejumlah lempeng yang bergerak relatif satu sama lain. Pergerakan tersebut menyebabkan perubahan posisi benua, pembentukan pegunungan, aktivitas vulkanik, dan terjadinya gempa bumi. Kent C. Condie menjelaskan bahwa lempeng-lempeng tektonik bergerak dengan kecepatan yang umumnya berada pada kisaran beberapa sentimeter per tahun.

Dengan demikian, gunung bukanlah objek yang sepenuhnya terpisah dari dinamika Bumi. Gunung merupakan bagian dari kerak Bumi yang dapat mengalami perubahan posisi bersama lempeng tempatnya berada, meskipun proses tersebut berlangsung sangat lambat jika diamati dalam rentang kehidupan manusia. Penjelasan ini membantu menerangkan mengapa suatu bentang alam dapat terlihat tetap dalam kehidupan sehari-hari, sementara dalam skala waktu geologis mengalami perubahan.

Pembahasan tentang struktur pegunungan juga berkaitan dengan gagasan mengenai akar gunung, yakni bagian struktur batuan di bawah permukaan yang dapat memanjang ke dalam kerak Bumi. Dalam literatur populer mengenai hubungan Al-Qur’an dan sains, Maurice Bucaille membahas struktur geologis tersebut dalam The Bible, the Qur’an and Science. Namun, keberadaan akar pegunungan tidak berarti bahwa gunung berfungsi sebagai pasak yang membuat seluruh Bumi tidak bergerak. Stabilitas permukaan Bumi dan dinamika lempeng tektonik merupakan persoalan geologi yang perlu dijelaskan berdasarkan mekanisme ilmiah yang relevan.

Pergerakan lempeng tektonik juga perlu dibedakan dari rotasi Bumi. Rotasi merupakan perputaran Bumi pada porosnya, sedangkan revolusi merupakan pergerakan Bumi mengelilingi Matahari. Karena gunung berada di permukaan Bumi, gunung turut bergerak bersama Bumi dalam kedua gerakan tersebut. Sementara itu, pergerakan lempeng tektonik berlangsung melalui mekanisme geologis yang berbeda. Ketiga fenomena ini dapat membantu menjelaskan bahwa gunung tidak benar-benar diam secara mutlak, tetapi tidak boleh disamakan sebagai satu jenis gerakan yang sama.

Oleh karena itu, menghubungkan QS. An-Naml ayat 88 dengan temuan geologi dan astronomi merupakan salah satu bentuk dialog antara tafsir dan sains. Dialog tersebut dapat memperluas wawasan pembaca mengenai alam semesta, tetapi tetap perlu mempertimbangkan konteks ayat, penjelasan para mufasir, serta batas-batas pengetahuan ilmiah. Temuan sains dapat menjadi bahan refleksi dalam memahami ayat, tanpa harus menjadikan setiap gambaran Al-Qur’an sebagai pernyataan teknis tentang fenomena ilmiah tertentu.

Refleksi: Menyadari Kebesaran Allah melalui Dinamika Alam

Dari berbagai penafsiran tersebut, dapat dipahami bahwa QS. An-Naml ayat 88 memiliki ruang pembahasan yang luas. Mufasir klasik, seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Fakhruddin Ar-Razi, mengaitkan pergerakan gunung dengan peristiwa hari kiamat. Sementara itu, pemikir tafsir ilmi seperti Tantawi Jauhari mengajukan pembacaan yang menghubungkan ayat tersebut dengan pergerakan Bumi dan keteraturan alam semesta. Perbedaan pendekatan ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap ayat tidak terlepas dari konteks penafsiran dan kerangka berpikir yang digunakan oleh masing-masing mufasir.

Dalam perspektif geologi modern, gunung merupakan bagian dari sistem Bumi yang dinamis. Pergerakannya bersama lempeng tektonik maupun gerak Bumi sebagai planet memperlihatkan bahwa sesuatu yang tampak diam bagi manusia tidak selalu berarti benar-benar tidak bergerak. Namun, kesesuaian antara suatu fenomena ilmiah dan gambaran dalam ayat Al-Qur’an perlu dikaji secara hati-hati agar tidak menghasilkan kesimpulan yang melampaui bukti yang tersedia.

Pada akhirnya, pembahasan ini mengajak manusia untuk merenungkan keterbatasan penglihatan dan pengetahuannya di hadapan keluasan ciptaan Allah. Gunung yang tampak kokoh, Bumi yang menjadi tempat berpijak, dan alam semesta yang terus mengalami dinamika merupakan bagian dari realitas yang dapat dipelajari sekaligus direnungkan. Kesadaran tersebut semestinya menumbuhkan kerendahan hati, mendorong manusia untuk terus mencari ilmu, dan menguatkan tanggung jawabnya dalam menjalani kehidupan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya.

Jika gunung dan seluruh unsur alam berada dalam tatanan yang tunduk pada hukum-hukum ciptaan Allah, manusia pun selayaknya tidak menjadikan keterbatasan pengetahuannya sebagai alasan untuk bersikap angkuh. Sebaliknya, ia perlu terus bertafakur, memperdalam pemahaman terhadap wahyu, dan mempelajari alam secara bertanggung jawab. Sebab, di balik apa yang tampak sederhana bagi penglihatan manusia, terdapat kompleksitas alam yang mengundang manusia untuk terus belajar dan merenungkan kebesaran Sang Pencipta.

Wallahu a’lam bish-shawab.