Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Menjaga Iman di Layar Lebar: Film Religi dalam Perspektif Kontemporer

Menjaga Iman di Layar Lebar: Film Religi dalam Perspektif Kontemporer

kabarumat.co – Dalam beberapa tahun terakhir, terlihat tren menurun dalam perfilman Indonesia: produksi film religi semakin jarang. Jika dibandingkan dengan akhir 2000-an hingga awal 2010-an, perbedaannya cukup signifikan. Saat itu, layar lebar dipenuhi karya seperti Ayat-Ayat Cinta (2008), Ketika Cinta Bertasbih (2009), dan Dalam Mihrab Cinta (2010). Film-film ini bukan hanya meraih kesuksesan komersial, tetapi juga membentuk imajinasi publik tentang religiositas yang romantik, normatif, dan relatif seragam. Kini, geliat tersebut meredup. Bahkan pada momentum Ramadan—yang dulu identik dengan film bernuansa religi—produksinya justru menurun drastis.

Penurunan ini tidak semata soal selera pasar. Memang, industri film kini lebih fokus pada horor, komedi, dan drama keluarga karena dianggap lebih menguntungkan. Namun, religiositas masyarakat Indonesia tidak luntur; justru semakin terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Media sosial dipenuhi konten dakwah, kajian keagamaan beralih ke platform digital, dan simbol-simbol keagamaan makin muncul di ruang publik. Ada kontradiksi jelas: religiositas sosial semakin hidup, tapi representasinya di film semakin berkurang.

Film sebagai Medium Kebudayaan

Dalam konteks ini, film religi harus dilihat bukan sekadar genre, tapi sebagai medium kebudayaan. Mengacu pada pemikiran antropolog Arab Talal Asad, religiositas selalu dibentuk oleh sejarah dan konteks sosial. Film seharusnya merekam bagaimana agama dijalani, dinegosiasikan, dan diperdebatkan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa pendekatan ini, film religi hanya menjadi repetisi formula lama, cermin dari narasi yang sudah usang.

Beberapa film Indonesia seperti 99 Cahaya di Langit Eropa (2013) atau Surga yang Tak Dirindukan (2015) masih mengikuti pola lama: religiositas ditempatkan sebagai latar moral untuk konflik personal, bukan sebagai persoalan hidup yang kompleks. Sementara film internasional seperti A Separation (2011) karya Asghar Farhadi atau Silence (2016) karya Martin Scorsese menghadirkan religiositas sebagai dilema etis dan pengalaman batin yang nyata. Di sinilah kekuatan film: memaksa penonton berpikir, merasakan, dan bergulat dengan pertanyaan moral yang tidak mudah dijawab.

Level Representasi dan Tantangan Film Indonesia

Film-film religi Indonesia sering berhenti pada level representasi: menunjukkan bagaimana seharusnya menjadi religius, tanpa mempertanyakan makna religius itu sendiri dalam dunia yang terus berubah. Akibatnya, film kehilangan daya reflektif; pengalaman menonton menjadi konfirmasi, bukan eksplorasi. Padahal, konteks Indonesia saat ini sangat kaya: religiositas berkelindan dengan politik identitas, ekonomi digital, budaya populer, dan dinamika generasi muda. Menjadi religius kini berarti menghadapi pilihan, negosiasi, bahkan kontradiksi.

Sejalan dengan pemikiran Charles Taylor, iman di era modern hidup berdampingan dengan keraguan. Inilah wilayah pengalaman religius yang paling manusiawi—sesuatu yang jarang diangkat oleh film kita, padahal justru di situlah cerita paling menarik dan relevan berada.

Menghidupkan Kembali Film Religi

Membuat film religi kini bukan soal mengulang formula lama, tetapi keberanian mengeksplorasi kompleksitas: keraguan, konflik batin, ambiguitas, bahkan kegagalan iman. Film perlu bergerak dari sekadar memberi jawaban menjadi membuka pertanyaan, dari menegaskan menjadi memicu refleksi. Sineas berperan sebagai pengolah pengalaman sosial dan budaya, menghadirkan religiositas sebagai pengalaman hidup yang dinamis, bukan dogma yang beku.

Berkurangnya produksi film religi bukan sekadar soal industri, tapi soal imajinasi kebudayaan. Ketika film tidak lagi mampu memotret religiositas secara kompleks, hilang pula salah satu cara untuk memahami diri kita sebagai masyarakat. Hari Film Nasional menjadi momen refleksi: sinema bukan hanya hiburan, tapi ruang berpikir bersama, tempat menanyakan bagaimana kita beragama, memaknainya, dan menerjemahkannya dalam bahasa visual yang jujur, berani, dan relevan bagi generasi saat ini.