Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Dokter Teroris Sunardi, JI, dan Kedok Lembaga HASI

Baca Artikel Ini

Polisi menembak mati teroris Sunardi di Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (9/3) malam. Polisi terpaksa menembak mati Sunardi yang seorang dokter itu lantaran melakukan aksi perlawanan terhadap petugas secara agresif dengan menabrakkan mobilnya ke arah petugas yang sedang menghentikannya. Sehingga, jika hal itu terus dilakukan, maka membahayakan keselamatan petugas dan masyarakat.

Kronologi Tembak Mati Sunardi

Saat dilakukan penangkapan, Sunardi lari dengan menggunakan mobilnya. Sunardi tak menyerahkan diri. Bahkan ketika Sunardi diberi peringatan oleh petugas, dari jarak yang sangat dekat, ia tetap diabaikan. Mobil Sunardi terus melaju dengan kecepatan tinggi dan polisi ada di atas bak belakang mobil Sunardi. Sunardi menggoyangkan stir ke kanan dan ke kiri untuk menjatuhkan anggota polisi yang berada di kap belakang. Mobil Sunardi pun sempat menabrak kendaraan masyarakat yang melintas. Daripada membahayakan orang banyak, polisi terpaksa melakukan tindakan tegas terukur dengan melumpuhkan tersangka dengan peluru panas itu yang mengenai punggung atas dan bagian pinggul kanan bawah.

Sunardi sempat dibawa ke RS Bhayangkara Polresta Surakarta untuk mendapat penanganan medis. Namun, menurut polisi, Sunardi meninggal dunia saat dievakuasi. Dalam peristiwa itu, dua anggota Polri terluka saat melakukan upaya penangkapan. Saat ini sedang mendapatkan perawatan di RS kinik bhayangkara (CNN, 11/2/22). Dan Sunardi meninggal dunia. Surat-surat medis kematiannya telah diserahkan ke keluarganya, di RT 03/RW 07 Kampung Bangunharjo, Kelurahan Gayam, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah.

Diketahui Sunardi juga orang yang tertutup. Ia tidak pernah bersosialisasi dengan tetangganya, meski sekadar kerja bakti atau acara kampung dan rapat warga. Sunardi bertemu orang hanya saat praktik dan saat salat di musala terdekat. Sampai saat ini, Sunardi tidak pernah memberikan Kartu Keluarga (KK) dan Kartu Tanda Pendudukan (KTP) kepada RT setempat, seperti kewajiban sebagai warga yang baik pada umumnya.

Bukti Sunardi Teroris

Dari bukti-bukti yang dihimpun Polri, Sunardi adalah adalah anggota jaringan teroris Jamaah Islamiyah (JI). Bahkan ia menjabat sebagai petinggi di JI dengan jabatan sebagai amir khidmat, atau deputi dakwah, dan informasi di JI.

Dilihat dari jabatan yang disandangnya, artinya Sunardi telah lama bergabung dengan kelompok teroris kejam dan kelas kakap di Indonesia ini: JI. Di mana, kini JI masih beroperasi dengan taktik dan strategi barunya, yakni dengan melakukan gerakan dari bawah tanah alias dengan gerakan senyap.

Termasuk, Sunardi menjadi pendiri dan ketua kelompok Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI). Sampai detik ini, Sunardi masih menjadi penanggung jawab Hilal Ahmar Society. Setalah kematian Sunardi dinyatakan telibat terorisme, pihak HASI menolak dihubungi baik oleh petugas dan beberapa wartawan. Mengutip CNN, nomor telepon yang tercantum dalam akun Facebook HASI saat dihubungi sempat menjawab panggilan namun kemudian pihak HASI mengakhirinya.

HASI dalam Daftar Teroris

Sebelum melihat korelasi bagaimana HASI bisa masuk dalam daftar teroris global, kita lebih dulu lihat apa itu HASI sesungguhnya. Pada 2011, HASI menjadi lembaga swadaya yang menampung dan memberikan pelayanan terhadap masyarakat. Namun demikian, dengan berjalannya waktu, HASI ini beralih menjadi lembaga pengumpul pundi-pundi uang untuk diserahkan kepada kelompok teroris Jemaah Islamiyah dan Al-Qaida.

Jejaknya ada dalam dokumen Al-Qaida. Disebutkan, HASI “berpartisipasi dalam pembiayaan, perencanaan, memfasilitasi, mempersiapkan, atau melakukan tindakan atau kegiatan oleh, bersama-sama dengan, atas nama, atau untuk mendukung”, “perekrutan”, dan “mendukung tindakan atau kegiatan” Jemaah Islamiyah (tirto, 11/3/22).

Dari situ, maka, pada 13 Maret 2015, United Nations Security Council (Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa) mencatat bahwa HASI sebagai organisasi teroris dan menjadi bagian dari kempok teroris Al-Qaida. Lembaga ini juga tercatat dalam data Mabes Polri terkait daftar terduga dan organisasi teroris Nomor: DTTOT/P-1a/2040/XI/2015 yang turut dapat diakses dari situs Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Tertulis bahwa organisasi ini diduga menggunakan kedok sebagai yayasan kemanusiaan padahal dikelola oleh Jamaah Islamiyah, yang kini tersebar di beberapa wilayah seperti Jakarta, Lampung, Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya hingga Makassar.

Sampai saat ini, HASI masih beroperasi dan menjadi sayap organisasi Jemaah Islamiyah (JI). Setidaknya, HASI memberikan suntikan dana kepada JI dari hasil amal umat yang dikumpulkanya dari umat. HASI telah menyalahgunakan sumbangan umat untuk mendukung tindakan terorisme yang membunuh umat sendiri.

Dari sumbangan HASI itu, JI mencukupi butuhan logistik, pembelian alat, seperti ketika para teroris bersembunyi di dalam rongganya. Serta HASI telah memberikan sumbangan besar-besar di dalam operasional anggota JI di Indonesia. Pada 2013 saja, HASI bisa mengumpulkan uang puluhan ribu dolar untuk disumbangkan kepada JI.

Maka pada pertengahan 2013, HASI diketahui telah terlibat mendukung perekrutan dan perjalanan teroris asing JI ke Suriah. Dalam beberapa contoh, HASI mendukung perjalanan pejabat JI, seperti pemimpin senior JI Bambang Sukirno dan operator JI Angga Dimas Pershada ke Suriah. Salah satu peran HASI baru-baru ini mengirim teroris ke Suriah terjadi pada Mei 2014. JI telah menggunakan HASI untuk mengumpulkan dana. Dan mirisnya, mengutip Tirto, perjalanan ke Suriah ini dilakukan secara rutin tiap tahun.

Menimbang Kesadaran Kita

Artinya, jika itu sudah dilakukan sejak 2013 dan rutin tiap tahun, maka berapa banyak alumni Suriah yang sudah berangkat ke Suriah dari hasil pembiayaan HASI. Betapa mengerikannya jika mereka sudah beranak-pinak dan sudah pasti mereka jago dalam pertempuran. Karena, perjalanan foreign terrorist fighter (FTF) dari kombatan Suriah sudah tidak bisa diragukan lagi kecerdasannya, baik dalam melakukan perekrutan anggota baru, membuat taktik, peracikan bom, dan pengeboman. Bom Bali 1-2 adalah contohnya. Dahsyat dan mematikan.

Jika bukti-bukti di atas tidak cukup, dan menganggap bahwa dokter Sunardi bukanlah biang teroris, yang bersembunyi di balik nama dokter dan lembaga amalnya, kita tidak tahu lagi harus membantah seperti apa. Yang pasti, antara dokter Sunardi, Jemaah Islamiyah, dan HASI berkorelasi dan sudah menyatu dan menjadi bagian teroris yang paling mengerikan keberadaannya di negara kita ini.

Ingat, teroris bisa datang dari mana saja, dan siapa saja. Kemarin doktor, ustaz dan advokat yang terlihat baik. Kini dokter dan entah selanjutnya. Sekarang, adalah waktunya membuka mata bagi masyarakat untuk bersatu membangun masa depan kita di atas keharmonisan tanpa teroris. Sudah saatnya untuk memusnahkan sikap teroristik. Ingat baik tidak berarti teroris. Begitu yang dulu. Begitu yang kini.