kabarumat.co – Hal yang penting untuk kita bahas saat ini adalah persoalan agama dan para penganutnya. Pembahasan ini dapat dimulai dari pertanyaan mendasar tentang relasi manusia dan agama: mengapa sebagian besar manusia merasa perlu untuk beragama?
Pertanyaan ini tampaknya tidak akan pernah benar-benar selesai diperdebatkan, di mana pun dan kapan pun. Para teolog telah berupaya merumuskan berbagai argumen untuk menjawabnya. Namun demikian, pertanyaan semacam ini memang lahir secara alami dari manusia sebagai makhluk yang berpikir sekaligus memiliki keyakinan.
Dalam tradisi ilmu akidah atau teologi Islam (ilmu kalam), para mutakallimun seperti Syaikh Abdul Karim ar-Rifa’i menjelaskan bahwa dalam memahami hukum sebab-akibat, terdapat dua kategori: hal yang bersifat badihi (dapat diterima langsung tanpa penalaran panjang) dan nadzhariy (memerlukan proses berpikir mendalam).
Hal yang bersifat badihi dapat dicontohkan dengan pernyataan sederhana seperti “setiap benda membutuhkan ruang.” Tanpa perlu berpikir panjang, akal manusia dapat langsung menerimanya. Sebaliknya, persoalan tentang Tuhan—seperti keyakinan bahwa Allah itu ada—memerlukan landasan argumentasi, baik secara rasional (aqli) maupun tekstual (naqli), agar dapat dipahami dan diyakini.
Dari sini, sikap beragama perlu diperbarui—bukan untuk mengganti ajaran yang sudah ada, melainkan untuk memperkuat keimanan dengan pendekatan yang rasional tanpa meninggalkan dasar-dasar wahyu. Akal dan iman seharusnya saling menguatkan, bukan dipertentangkan.
Lalu, mengapa manusia harus beragama? Pertanyaan ini sesungguhnya tidak sederhana. Ia bukan sekadar soal pilihan individu atau tradisi turun-temurun, melainkan menyentuh inti keberadaan manusia: siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana ia akan pergi.
Manusia menyadari keterbatasannya. Ia tidak mengetahui segalanya, tidak mampu mengendalikan seluruh realitas, dan tidak bisa memastikan masa depannya. Kesadaran ini mendorong manusia untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya sebagai makhluk berakal.
Dalam konteks ini, agama hadir bukan sebagai paksaan dari luar, melainkan sebagai jawaban atas kebutuhan terdalam manusia. Tanpa agama, pertanyaan-pertanyaan eksistensial tersebut akan tetap menggantung tanpa kepastian.
Akal memang mampu meneliti dan menyimpulkan adanya sesuatu yang melampaui dirinya, tetapi ia memiliki batas dalam menjangkau hal-hal metafisis. Di sinilah agama berperan sebagai sumber pengetahuan yang melengkapi keterbatasan akal. Akal dapat sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, tetapi agama menjelaskan siapa Tuhan itu dan bagaimana manusia seharusnya berhubungan dengan-Nya.
Tanpa agama, hubungan manusia dengan Tuhan berpotensi menjadi kabur dan penuh spekulasi. Selain itu, agama juga berfungsi sebagai sumber nilai dalam kehidupan. Ia memberikan pedoman tentang benar dan salah, baik dan buruk, yang tidak semata-mata bergantung pada kesepakatan manusia yang bersifat relatif.
Jika standar moral sepenuhnya diserahkan pada manusia, maka kebenaran akan mudah berubah sesuai kepentingan dan situasi. Dalam hal ini, agama menawarkan pijakan yang lebih kokoh karena bersumber dari otoritas yang lebih tinggi.
Sebagaimana pernah disampaikan oleh Ulil Abshar Abdalla, cara manusia memahami Tuhan akan sangat memengaruhi cara ia memahami kehidupan secara keseluruhan. Agama tidak hanya berbicara pada ranah logika, tetapi juga menyentuh sisi batin manusia—memberikan ketenangan, harapan, dan makna, terutama dalam menghadapi ketidakpastian dan penderitaan.
Pada akhirnya, agama mengajarkan bahwa kehidupan bukanlah sesuatu yang sia-sia. Ia membantu manusia menemukan makna di balik berbagai peristiwa, bahkan yang paling menyakitkan sekalipun. Hal ini sejalan dengan pandangan al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin bahwa realitas yang ada merupakan kemungkinan terbaik.
Dengan demikian, beragama bukan sekadar kewajiban formal, melainkan kebutuhan eksistensial manusia. Ia lahir dari hakikat manusia sebagai makhluk yang berpikir, merasakan, dan mencari makna. Menolak agama, dalam pengertian ini, berarti berisiko mengabaikan kebutuhan paling mendasar dalam diri manusia.
Karena itu, pertanyaan “mengapa kita harus beragama?” bukan lagi sekadar gugatan, melainkan pintu untuk memahami hakikat kemanusiaan. Bahwa di balik segala kemampuan akal dan kemajuan peradaban, manusia tetap membutuhkan petunjuk dari Yang Maha Mengetahui.
Memang, cara berpikir seperti ini bisa saja dianggap terlalu teoretis. Namun tanpa upaya memahami dimensi eksistensial tersebut, manusia akan kesulitan menemukan tujuan hidup, menentukan pilihan yang bermakna, dan membedakan antara sekadar hidup sukses atau hidup yang benar-benar bermakna.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !