Ketika Gunung Menjadi Penopang Bumi: Memahami Surat An-Nahl Ayat 15

Ketika Gunung Menjadi Penopang Bumi: Memahami Surat An-Nahl Ayat 15
Ketika Gunung Menjadi Penopang Bumi: Memahami Surat An-Nahl Ayat 15

Kabarumat.co – Gunung tidak semata-mata menjadi bentang alam yang menawarkan keindahan dan menjadi tujuan rekreasi, tetapi juga mempunyai peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Wilayah pegunungan berfungsi sebagai daerah resapan dan penyimpan air yang menampung air hujan, kemudian mengalirkannya melalui mata air dan sungai. Keberadaan hutan di kawasan pegunungan turut memberikan manfaat ekologis, seperti mengurangi risiko erosi, membantu mengendalikan banjir, menyerap dan menyimpan karbon, serta menyediakan habitat bagi beragam flora dan fauna.

Selain manfaat ekologis tersebut, gunung, terutama gunung berapi, juga memberikan berbagai kontribusi bagi kehidupan manusia. Material vulkanik yang dihasilkannya dapat meningkatkan kesuburan tanah, sementara kandungan mineralnya berpotensi dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan. Kawasan gunung berapi juga menjadi salah satu sumber energi panas bumi. Tidak hanya itu, keberadaan gunung turut memengaruhi kondisi cuaca dan iklim di wilayah sekitarnya. Hal ini menunjukkan bahwa gunung merupakan bagian integral dari sistem alam yang memiliki fungsi penting dalam menopang keberlangsungan kehidupan, bukan sekadar sebagai pemandangan alam yang indah atau tempat untuk berwisata.

Al-Qur’an juga memberikan perhatian terhadap keberadaan dan fungsi gunung. Salah satu ayat yang membahas hal tersebut terdapat dalam Surat An-Nahl ayat 15. Lantas, bagaimana Al-Qur’an menjelaskan fungsi gunung dan bagaimana para mufasir memahami kandungan ayat tersebut? Berikut penjelasannya.

Dalam Surat An-Nahl ayat 15, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan salah satu bentuk kekuasaan dan kebesaran-Nya melalui penciptaan gunung, sungai, dan jalan. Allah berfirman:

وَاَلْقٰى فِى الْاَرْضِ رَوَاسِيَ اَنْ تَمِيْدَ بِكُمْ وَاَنْهٰرًا وَّسُبُلًا لَّعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَۙ

Artinya: “Dia memancangkan gunung-gunung di bumi agar bumi tidak berguncang bersamamu serta (menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk.” (An-Naḥl [16]: 15).

Ayat tersebut menggambarkan bahwa gunung merupakan salah satu bagian dari ciptaan Allah yang memiliki fungsi bagi kehidupan di bumi. Selain gunung, Allah juga menciptakan sungai dan berbagai jalan sebagai sarana yang mendukung kehidupan serta memudahkan manusia dalam menjalani aktivitas dan menemukan arah.

Penafsiran Imam at-Thabari

Imam Ibnu Jarir at-Thabari (wafat 310 H) menerangkan bahwa salah satu bentuk nikmat Allah kepada manusia adalah penciptaan dan penempatan gunung-gunung yang kokoh di permukaan bumi. Gunung tersebut menjadi bagian dari ciptaan Allah yang memiliki sifat teguh dan tidak mudah bergeser.

At-Thabari menjelaskan bahwa kata rawāsi merupakan bentuk jamak dari rāsiyah, yang bermakna sesuatu yang kokoh, tetap, dan kuat tertancap di bumi. Dalam konteks ayat ini, istilah tersebut merujuk pada gunung-gunung yang memiliki sifat kokoh dan teguh.

Dengan demikian, menurut penafsiran at-Thabari, penyebutan gunung dalam Surat An-Nahl ayat 15 menunjukkan salah satu bentuk karunia Allah kepada manusia melalui keberadaan gunung-gunung yang kokoh di bumi.

Menurut Imam Ibnu Jarir at-Thabari, tujuan Allah menancapkan gunung-gunung di bumi dapat dipahami melalui frasa “an tamīda bikum”, yang berarti agar bumi tidak berguncang bersama manusia dan makhluk yang berada di atasnya. Dalam pandangan at-Thabari, keberadaan gunung memiliki kaitan dengan terciptanya kestabilan bumi sehingga makhluk yang hidup di permukaannya dapat tinggal dengan aman.

At-Thabari menjelaskan bahwa ungkapan tersebut mengandung makna pencegahan, yaitu Allah menempatkan gunung-gunung yang kokoh di bumi agar bumi tidak mengalami guncangan yang berdampak kepada makhluk di atasnya. Ia bahkan menyebutkan bahwa sebelum gunung-gunung ditancapkan, bumi berada dalam keadaan bergerak dan berguncang.

Penjelasan tersebut diperkuat oleh riwayat Qais bin ‘Ubad. Dalam riwayat itu disebutkan bahwa ketika Allah menciptakan bumi, bumi mengalami gerakan dan guncangan. Para malaikat kemudian menyadari bahwa bumi belum menjadi tempat yang kokoh bagi makhluk yang berada di atasnya. Setelah itu, Allah menjadikan gunung-gunung yang kokoh di atas bumi sehingga bumi menjadi lebih stabil.

Berdasarkan penafsiran tersebut, dapat dipahami bahwa salah satu fungsi gunung menurut Imam at-Thabari adalah menjaga kestabilan bumi agar tidak mengalami guncangan yang mengganggu makhluk yang hidup di permukaannya. Gunung dipandang sebagai sesuatu yang kokoh dan tertancap kuat di bumi, sehingga keberadaannya menjadi salah satu bentuk nikmat Allah kepada manusia.

Penafsiran Imam Fakhruddin ar-Razi

Imam Fakhruddin ar-Razi (wafat 606 H) pada dasarnya juga mengaitkan keberadaan gunung dengan kestabilan bumi. Dalam mengawali penafsiran Surat An-Nahl ayat 15, ia menjelaskan bahwa ayat tersebut memuat penyebutan sejumlah nikmat Allah yang terdapat di bumi dan diberikan untuk kemaslahatan makhluk-Nya.

Dalam memahami frasa “agar bumi tidak berguncang bersama kalian”, ar-Razi menyebutkan adanya perbedaan pemaknaan di kalangan ahli bahasa. Ulama Kufah memahaminya sebagai ungkapan yang bermakna “agar bumi tidak berguncang bersama kalian”, sedangkan ulama Basrah memahaminya sebagai “karena Allah tidak menghendaki bumi berguncang bersama kalian.”

Ar-Razi kemudian mengemukakan pandangan yang populer di kalangan mayoritas ulama mengenai hubungan antara gunung dan kestabilan bumi. Mereka menggambarkan keadaan bumi dengan perumpamaan sebuah kapal yang berada di atas air. Kapal yang berada di atas air dapat bergerak dan berguncang dari satu sisi ke sisi lainnya. Namun, ketika benda-benda yang berat diletakkan di dalamnya, kapal menjadi lebih stabil.

Menurut pandangan tersebut, keadaan bumi juga dianalogikan demikian. Ketika Allah menciptakan bumi di atas permukaan air, bumi mengalami gerakan dan guncangan. Kemudian Allah menciptakan gunung-gunung yang berat di atasnya. Berat gunung-gunung tersebut dipandang sebagai faktor yang menyebabkan bumi menjadi lebih stabil.

Dengan demikian, pendapat mayoritas mufasir yang dikutip ar-Razi menggambarkan gunung sebagai unsur yang berfungsi menstabilkan bumi. Perumpamaan kapal dan benda-benda berat digunakan untuk menjelaskan bagaimana keberadaan gunung dianggap memiliki peran dalam mengurangi gerakan atau guncangan bumi.

Kritik Imam ar-Razi terhadap Pendapat Mayoritas Mufasir

Meskipun mengemukakan pendapat mayoritas ulama tersebut, Imam ar-Razi tidak menerimanya tanpa memberikan kritik. Ia mengajukan sejumlah pertanyaan dan keberatan terhadap argumentasi yang menyamakan bumi dengan kapal.

Pertama, menurut ar-Razi, perumpamaan bumi dengan kapal tidak sepenuhnya dapat diterima. Kapal dapat mengapung di atas air karena memiliki bentuk dan rongga yang memungkinkan adanya udara di dalamnya. Sementara itu, jika bumi dianggap lebih berat daripada air, maka berdasarkan analogi tersebut bumi justru seharusnya tenggelam. Oleh sebab itu, kondisi kapal tidak dapat disamakan begitu saja dengan kondisi bumi.

Kedua, ar-Razi mempertanyakan anggapan bahwa berat gunung merupakan penyebab langsung berhentinya gerakan bumi. Jika seluruh gerakan dan keadaan diam pada hakikatnya terjadi berdasarkan kehendak Allah, maka kestabilan bumi tidak harus dijelaskan semata-mata melalui berat gunung. Bumi dapat berada dalam keadaan diam karena Allah menciptakan dan menetapkan keadaan tersebut.

Ketiga, ar-Razi juga mempertanyakan keadaan air yang menjadi tempat bumi dalam perumpamaan tersebut. Jika dikatakan bahwa gunung diperlukan untuk menjaga kestabilan bumi di atas air, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu mengapa air itu sendiri berada dalam keadaan tenang. Apabila air dapat diam karena sifat alaminya, maka hal serupa juga dapat dipertanyakan terhadap bumi. Sebaliknya, apabila air berada dalam keadaan tenang karena kehendak Allah, maka bumi pun dapat dikatakan stabil karena kehendak-Nya.

Ar-Razi juga mempertanyakan apakah gerakan bumi secara keseluruhan pasti dapat dirasakan oleh manusia. Menurutnya, suatu benda yang bergerak secara keseluruhan tidak selalu membuat orang yang berada di dalamnya merasakan gerakan tersebut. Ia memberikan gambaran tentang seseorang yang berada di dalam kapal, di mana gerakan kapal secara keseluruhan tidak selalu dirasakan dengan cara yang sama oleh orang yang berada di dalamnya.

Pandangan Imam ar-Razi tentang Fungsi Gunung

Setelah mengemukakan berbagai kritik terhadap pendapat mayoritas ulama, Imam ar-Razi kemudian memberikan penjelasan yang menurutnya lebih tepat. Ia menyatakan bahwa berdasarkan dalil-dalil yang diyakini, bumi berbentuk bulat. Sementara itu, gunung-gunung yang berada di permukaan bumi dapat dipandang sebagai tonjolan atau bagian yang tidak rata pada permukaan bola tersebut.

Menurut ar-Razi, apabila bumi berbentuk bola yang sempurna tanpa adanya gunung atau tonjolan, bumi akan lebih mudah mengalami gerakan berputar hanya karena adanya sebab yang kecil. Keberadaan gunung kemudian dipahami sebagai bagian yang memberikan karakter tidak rata pada permukaan bumi.

Dalam penjelasan lainnya, ar-Razi mengibaratkan gunung seperti pasak yang tertancap pada sebuah bola. Gunung yang memiliki massa dan posisi tertentu di permukaan bumi dipandang memiliki peran dalam menghambat gerakan atau perubahan keadaan bumi. Dalam konteks inilah gunung dikaitkan dengan pencegahan terhadap mayd, mayl, dan idhtirab, yang masing-masing berkaitan dengan guncangan, kemiringan, dan ketidakstabilan.

Berdasarkan penafsiran Imam Ibnu Jarir at-Thabari, keberadaan gunung dalam Surat An-Nahl ayat 15 merupakan salah satu bentuk nikmat Allah kepada manusia. Gunung disebut sebagai rawāsi, yakni sesuatu yang kokoh dan tertancap kuat di bumi. Keberadaannya dikaitkan dengan fungsi menjaga bumi agar tidak berguncang sehingga makhluk yang hidup di permukaannya dapat menjalani kehidupan dengan lebih stabil.

Sementara itu, Imam Fakhruddin ar-Razi juga menghubungkan keberadaan gunung dengan kestabilan bumi, tetapi ia tidak berhenti pada pandangan yang umum di kalangan mufasir. Ia terlebih dahulu mengkritisi analogi bumi dengan kapal yang diberi beban berat. Setelah itu, ar-Razi menawarkan penjelasan bahwa bumi berbentuk bulat dan gunung merupakan tonjolan pada permukaannya yang memiliki fungsi menyerupai pasak.

Dengan demikian, Surat An-Nahl ayat 15 tidak hanya mengajak manusia melihat gunung sebagai bagian dari bentang alam, tetapi juga mengarahkan perhatian kepada hikmah dan fungsi keberadaannya. Gunung merupakan salah satu bagian dari sistem ciptaan Allah yang menunjukkan kebesaran-Nya sekaligus memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan. Karena itu, keberadaan gunung sebagai bagian dari alam yang menopang kehidupan sudah semestinya disyukuri, dijaga, dan dilestarikan.