Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Refleksi Surah Al-A’raf Ayat 175–176: Ketika Hati Berpaling dari Petunjuk Allah

Refleksi Surah Al-A'raf Ayat 175–176: Ketika Hati Berpaling dari Petunjuk Allah
Refleksi Surah Al-A'raf Ayat 175–176: Ketika Hati Berpaling dari Petunjuk Allah

Kabarumat.co – Salah satu tantangan paling mendasar yang dihadapi umat Islam dewasa ini bukanlah minimnya ulama atau intelektual, melainkan semakin langkanya sosok yang mampu mempertahankan integritas dan kemandirian moralnya. Di ruang publik, tokoh agama kian sering terlibat dalam politik praktis. Sebagian tetap memainkan peran sebagai penjaga etika dan penuntun moral, tetapi tidak sedikit yang justru menjadi pembela kepentingan kekuasaan. Ukuran benar dan salah pun bergeser: yang menguntungkan kelompok sendiri dibenarkan, sedangkan yang mengancam posisi politik ditolak, tanpa lagi berpijak pada prinsip-prinsip etis.

Fenomena tersebut sejatinya bukan sesuatu yang baru. Sejarah agama menunjukkan bahwa ujian terbesar bagi orang berilmu bukanlah kebodohan, melainkan godaan dunia dan kekuasaan. Ketika pengetahuan dipertemukan dengan ambisi, dan agama dijadikan instrumen kepentingan politik, lahirlah penyimpangan yang lebih berbahaya daripada sekadar ketidaktahuan: ilmu yang tercerabut dari kompas moralnya.

Al-Qur’an telah menggambarkan tipe manusia seperti ini dalam Surah Al-A’raf ayat 175–176. Ayat tersebut mengisahkan seseorang yang telah memperoleh pengetahuan dari Allah, namun memilih melepaskan diri darinya sehingga setan berhasil menyesatkannya. Padahal, dengan ilmu yang dimilikinya ia dapat mencapai derajat yang tinggi. Akan tetapi, ia lebih memilih tunduk kepada kepentingan dunia dan mengikuti hawa nafsunya.

Posisi ayat ini menjadi semakin bermakna karena hadir setelah rangkaian kisah para nabi yang ditolak oleh kaumnya. Al-Qur’an kemudian mengalihkan perhatian kepada sosok yang lebih mengkhawatirkan: bukan orang yang tidak mengetahui kebenaran, melainkan orang yang telah mengenalnya, memahaminya, bahkan menguasainya, tetapi sengaja meninggalkannya. Di sinilah letak peringatan yang sangat mendalam. Kebodohan masih membuka ruang untuk belajar, sedangkan pengkhianatan terhadap ilmu merupakan bentuk penyimpangan yang jauh lebih serius.

Sebagian mufasir klasik mengaitkan ayat ini dengan Bal’am bin Ba’ura, seorang alim dari Bani Israil yang dikenal memiliki pengetahuan tentang nama-nama Allah. Namun ketika berhadapan dengan tekanan dan kepentingan politik, ia menggunakan ilmunya untuk mendukung penguasa. Riwayat-riwayat tersebut, sebagaimana disebutkan oleh al-Tabari dan Ibn Katsir, bersumber dari Israiliyyat sehingga tidak dapat dipastikan kebenarannya. Menariknya, Al-Qur’an sendiri tidak pernah menyebutkan namanya. Hal itu menunjukkan bahwa fokus ayat bukanlah pada sosok tertentu, melainkan pada sebuah tipologi manusia yang dapat muncul berulang kali sepanjang sejarah.

Dalam perspektif ini, ayat tersebut menghadirkan gambaran tentang seorang alim yang gagal memikul amanah ilmunya karena lebih memilih kepentingan dunia. Sosok seperti ini tidak terbatas pada satu masa atau komunitas tertentu. Ia dapat muncul di setiap zaman, dalam berbagai masyarakat, bahkan di lingkungan lembaga-lembaga keagamaan.

Kedalaman pesan ayat ini juga tampak melalui pilihan diksi Al-Qur’an. Kata ansalakha (انسلخ) melukiskan proses melepaskan diri secara total, sebagaimana kulit yang terkelupas dari tubuhnya. Fakhr al-Din al-Razi menjelaskan bahwa proses ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan berlangsung perlahan: berawal dari kompromi-kompromi kecil, kemudian pembenaran demi pembenaran, hingga akhirnya ilmu tidak lagi membentuk karakter pemiliknya.

Frasa akhlada ila al-ardh (أخلد إلى الأرض) menunjukkan keterikatan yang mendalam pada kehidupan dunia. Ibn ‘Ashur memaknainya sebagai orientasi yang sepenuhnya tertuju kepada kenikmatan material—jabatan, kekayaan, popularitas, maupun pengaruh. Persoalannya bukan terletak pada kepemilikan terhadap hal-hal tersebut, melainkan ketika seluruh orientasi ilmu diarahkan untuk mempertahankan posisi, bukan lagi untuk menegakkan kebenaran.

Sementara itu, ungkapan ittaba’a hawahu (اتبع هواه) memperlihatkan sisi psikologis yang lebih subtil. Hawa nafsu tidak hanya berarti dorongan biologis, tetapi juga ambisi kekuasaan, rasa takut kehilangan pengaruh, dan hasrat untuk terus memperoleh pengakuan. Dalam psikologi modern, keadaan ini sejalan dengan konsep motivated reasoning, yakni kecenderungan menggunakan kecerdasan bukan untuk mencari kebenaran, melainkan untuk membenarkan kepentingan yang telah lebih dahulu dipilih.

Dalam konteks ini, pesan Al-Qur’an memiliki irisan dengan refleksi filsafat modern. Pengetahuan tidak selalu berdiri netral, melainkan dapat menjadi bagian dari jaringan kekuasaan. Michel Foucault menunjukkan bahwa relasi antara ilmu dan kuasa bersifat timbal balik: ilmu dapat melegitimasi kekuasaan, sementara kekuasaan turut menentukan arah pembentukan pengetahuan. Karena itu, penyimpangan seorang alim sering kali tidak hanya lahir dari kelemahan pribadi, tetapi juga dipengaruhi oleh struktur sosial-politik yang memberi insentif terhadap sikap tersebut.

Tradisi intelektual Islam sesungguhnya telah lama menyadari bahaya ini. Al-Ghazali mengingatkan tentang fenomena ulama al-su’, sedangkan Ibn Khaldun mencatat kecenderungan sebagian ulama untuk larut dalam orbit kekuasaan. Sejarah Islam juga memperlihatkan kontras yang jelas antara Ahmad ibn Hanbal yang mempertahankan prinsipnya dalam peristiwa mihnah dan mereka yang memilih berkompromi. Sejak masa awal Islam, politik memang menjadi salah satu ujian terberat bagi integritas ilmu.

Realitas serupa masih dapat ditemukan hingga sekarang. Dalam berbagai konteks, tokoh agama dan intelektual kerap berfungsi sebagai pemberi legitimasi terhadap kekuasaan. Keterlibatan itu tidak selalu lahir karena tekanan, tetapi sering kali didorong oleh daya tarik kedekatan dengan elite, pengaruh sosial, maupun keuntungan simbolik. Di Indonesia, dinamika politik elektoral menunjukkan bagaimana otoritas keagamaan mudah terpolarisasi dan bahkan direduksi menjadi alat mobilisasi dukungan politik.

Karena itu, metafora Al-Qur’an tentang anjing yang terus menjulurkan lidahnya menjadi sangat relevan. Menurut Al-Qurtubi, gambaran tersebut melambangkan keadaan yang tidak pernah merasa cukup. Dalam psikologi modern, kondisi serupa dikenal sebagai hedonic treadmill, yakni kecenderungan manusia untuk terus mengejar kepuasan tanpa pernah benar-benar mencapainya. Ketika pola ini menguasai seorang berilmu, orientasinya bergeser: ia tidak lagi mengejar kebenaran, tetapi terus memburu posisi, pengaruh, dan pengakuan.

Dengan demikian, Surah Al-A’raf ayat 175–176 tidak hanya berbicara tentang kegagalan moral seorang individu. Ayat ini merupakan kritik terhadap kemungkinan terjadinya korupsi moral, epistemik, dan politik dalam diri manusia berilmu. Al-Qur’an mengingatkan bahwa ancaman terbesar bukan semata-mata penyalahgunaan kekuasaan, tetapi juga penyalahgunaan ilmu—ketika pengetahuan dipakai untuk melegitimasi kesesatan, bukan untuk menerangi jalan kebenaran.

Pada akhirnya, ayat ini menjadi cermin yang tetap relevan sepanjang zaman. Ia mengajarkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup; yang jauh lebih penting adalah keberanian menjaga integritas. Sebab ujian terbesar bagi ulama dan intelektual bukan sekadar menguasai ilmu, melainkan tetap setia kepada kebenaran ketika ilmu yang dimilikinya memiliki nilai politik, ekonomi, dan kekuasaan.