Kabarumat.co – Pernah ada sebuah ungkapan yang berbunyi, “Manusia itu unik. Ia mampu menangisi satu rencana yang gagal, tetapi lupa mensyukuri ratusan organ dalam tubuhnya yang masih berfungsi dengan baik.”
Barangkali kalimat itu cukup menggambarkan kondisi manusia pada zaman sekarang. Kita hidup di era ketika pencapaian orang lain selalu hadir di hadapan mata melalui layar ponsel. Hampir setiap hari kita disuguhi cerita tentang kesuksesan, kemewahan, dan kebahagiaan orang lain.
Tanpa disadari, hal itu membuat standar kebahagiaan kita terus meningkat. Kita merasa gagal karena belum memiliki penghasilan besar di usia muda, merasa tertinggal karena belum menikah, atau menganggap hidup tidak adil ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Dalam keadaan seperti itu, ajakan untuk “bersyukur” sering kali justru terdengar seperti nasihat yang menghakimi. Muncul pertanyaan di dalam hati, “Apa yang masih bisa disyukuri ketika hidup sedang berantakan?” Masalah datang silih berganti, impian belum juga terwujud, sementara jalan keluar terasa belum tampak.
Padahal, Al-Qur’an mengajarkan sebuah sudut pandang yang sangat berbeda. Ada satu ayat yang mengingatkan bahwa seberat apa pun ujian yang sedang kita alami, nikmat Allah yang telah kita terima tetap jauh lebih besar daripada kesulitan yang sedang kita rasakan. Allah berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 34:
وَاٰتٰىكُمْ مِّنْ كُلِّ مَا سَاَلْتُمُوْهُۗ وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ الْاِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ
Artinya: “Dia telah menganugerahkan kepadamu segala sesuatu yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia benar-benar sangat zalim lagi sangat kufur.”
Dalam Tafsir al-Munir, Syaikh Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa Allah telah mencurahkan berbagai kebutuhan dan kenikmatan yang menopang kehidupan manusia. Bahkan, banyak di antaranya diberikan tanpa pernah kita memintanya secara khusus.
Karena jumlah nikmat tersebut begitu banyak, manusia tidak akan pernah sanggup menghitungnya, apalagi mensyukurinya secara sempurna. Oleh sebab itu, para ulama mengingatkan agar seorang mukmin tidak pernah merasa telah cukup bersyukur. Sebaliknya, ia dianjurkan terus memperbanyak syukur, istigfar, dan taubat.
Beliau mengutip sebuah atsar:
إِنَّ حَقَّ اللَّهِ أَثْقَلُ مِنْ أَنْ يَقُومَ بِهِ الْعِبَادُ، وَإِنَّ نِعَمَ اللَّهِ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ يُحْصِيَهَا الْعِبَادُ، وَلَكِنْ أَصْبَحُوا تَائِبِينَ، وَأَمْسَوْا تَائِبِينَ
Artinya: “Hak Allah terlalu besar untuk dapat ditunaikan secara sempurna oleh para hamba. Nikmat Allah pun terlalu banyak untuk dapat dihitung oleh mereka. Karena itu, hendaklah mereka mengawali hari dengan taubat dan menutup hari juga dengan taubat.” (Tafsir al-Munir, Beirut: Dar al-Fikr, 1991, jilid 13, hlm. 253).
Keadaan ini dapat diibaratkan seperti seorang pelayan yang memperoleh begitu banyak kebaikan dari tuannya. Karena merasa seluruh kebaikan itu tidak mungkin terbalaskan, ia terus berusaha berbuat baik, senantiasa mengucapkan terima kasih, dan tidak henti-hentinya meminta maaf. Bukan karena ia selalu bersalah, tetapi karena ia sadar bahwa jasa yang diterimanya jauh melampaui apa yang mampu ia balas.
Analogi Sepotong Roti dan Luasnya Nikmat Allah
Imam Fakhruddin ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib memberikan ilustrasi yang sangat menarik tentang luasnya nikmat Allah.
Beliau mengajak kita merenungkan sesuatu yang tampak sederhana: sepotong roti yang hendak kita makan.
Roti berasal dari gandum. Agar gandum dapat tumbuh, diperlukan tanah yang subur, air, sinar matahari, angin, hujan, serta keteraturan alam yang semuanya berada dalam ketetapan Allah. Setelah dipanen, gandum masih harus digiling menjadi tepung, diolah, dipanggang, lalu didistribusikan hingga akhirnya sampai ke tangan kita. Seluruh proses tersebut melibatkan begitu banyak sebab yang Allah ciptakan dan mudahkan.
Namun nikmat itu tidak berhenti sampai di sana. Ketika roti telah tersedia di hadapan kita, Allah juga menganugerahkan gigi untuk mengunyah, lidah untuk mengecap rasa, air liur yang membantu pencernaan, lambung yang mengolah makanan, hingga sistem metabolisme yang mengubahnya menjadi energi bagi tubuh. Jika salah satu saja dari sistem itu tidak berfungsi, makanan yang kita santap tidak lagi memberikan manfaat sebagaimana mestinya.
Dari satu suapan roti saja, terbentang begitu banyak nikmat yang saling berkaitan. Lalu bagaimana mungkin manusia dapat menghitung seluruh karunia Allah yang hadir dalam setiap detik kehidupannya?
Melihat Kehidupan dari Perspektif yang Lebih Luas
Tadabbur terhadap Surah Ibrahim ayat 34 bukan berarti mengajarkan kita untuk memendam kesedihan atau memaksakan diri tersenyum ketika sedang diuji. Islam tidak menafikan kenyataan bahwa manusia memiliki rasa sedih, kecewa, bahkan marah ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Akan tetapi, ayat ini mengajarkan agar kita tidak membiarkan diri tenggelam terlalu lama dalam kesedihan. Kita diajak memperluas cara pandang dengan menyadari bahwa di balik satu kesulitan yang sedang dirasakan, masih ada ribuan nikmat yang terus Allah limpahkan.
Mungkin saat ini kita sedang menghadapi masalah pekerjaan, keluarga, atau masa depan. Namun pada saat yang sama kita masih dapat bernapas tanpa alat bantu, berjalan dengan kedua kaki, menikmati makanan, melihat keindahan alam, dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Nikmat-nikmat yang sering dianggap biasa ini justru menjadi impian bagi banyak orang yang sedang sakit atau memiliki keterbatasan.
Ketika perspektif seperti ini mulai tumbuh, hati menjadi lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Kita tidak lagi hanya sibuk menghitung apa yang hilang, tetapi juga mulai menyadari betapa banyak karunia yang masih tersisa. Dari sanalah lahir optimisme untuk bangkit, mencari jalan keluar, dan menghadapi hidup dengan lebih bijaksana, tanpa terus-menerus terjebak dalam keluhan atau menyalahkan keadaan, apalagi menyalahkan Allah SWT.
Wallahu a’lam.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !