Flash Sale! to get a free eCookbook with our top 25 recipes.

Menanam Pohon, Merawat Bumi: Tafsir Ulang Ajaran Nabi SAW

Menanam Pohon, Merawat Bumi: Tafsir Ulang Ajaran Nabi SAW
Menanam Pohon, Merawat Bumi: Tafsir Ulang Ajaran Nabi SAW

kabarumat.co – Pembahasan tentang upaya menjaga kelestarian lingkungan merupakan isu global yang juga menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Berbagai bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah membuat topik ini kembali ramai diperbincangkan. Salah satu poin yang sering mendapat sorotan adalah pentingnya menanam pohon. Diskusi seperti ini tentu positif karena dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran kolektif mengenai urgensi merawat alam. Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, masyarakat diharapkan terdorong melakukan langkah nyata dalam mencegah banjir maupun longsor, misalnya melalui penanaman kembali pohon di kawasan atau hutan yang mengalami kerusakan.

Dalam Islam, perhatian terhadap lingkungan mendapat porsi besar. Nabi Muhammad SAW secara tegas mendorong umatnya untuk terus menanam pohon dan melakukan perbaikan lingkungan, tanpa batas waktu—hingga menjelang hari kiamat. Hal ini menunjukkan betapa agungnya nilai menanam pohon dalam ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda:

“Apabila hari kiamat telah tiba, sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit tanaman, maka jika ia masih mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, tanamlah.” (HR Ahmad)

Imam Al-Munawi, mengutip Imam Al-Haitsami, menjelaskan bahwa yang dimaksud “hari kiamat” dalam hadis tersebut adalah tanda-tandanya. Al-Haitsami merujuk pada riwayat lain yang menyebutkan bahwa sekalipun seseorang mendengar kemunculan Dajjal, jika ia masih memegang bibit tanaman, maka hendaknya tetap menanamnya, sebab kehidupan manusia masih akan berlanjut setelah itu.

Lebih jauh, Imam Al-Munawi menegaskan bahwa hadis ini merupakan dorongan kuat untuk terus menanam pohon dan menjaga sumber-sumber air agar bumi tetap makmur hingga batas waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Sebagaimana generasi sebelumnya menanam sehingga kita merasakan manfaatnya, demikian pula kita dianjurkan menanam agar generasi setelah kita memperoleh kebaikannya, meskipun usia dunia tinggal sedikit.

Terkait hadis tentang anjuran menanam pohon, Al-Munawi juga meriwayatkan beberapa kisah yang menegaskan pentingnya menjaga bumi.

Pertama, disebutkan bahwa seorang Nabi pernah bertanya kepada Allah tentang alasan para raja Persia—yang pada masa itu dikenal berbuat zalim—justru rajin menanam pohon, menggali sumur, dan memakmurkan bumi dengan pepohonan besar. Jawaban Allah adalah:

“Mereka memakmurkan negeri-Ku sehingga hamba-hamba-Ku dapat hidup di dalamnya.” (Al-Munawi, III/30)

Kedua, sahabat Mu‘awiyah pernah ditanya mengapa di usia senja ia masih menggiatkan penanaman pohon dan pemakmuran tanah. Ia menjawab bahwa tujuan utamanya bukan untuk menikmati hasilnya sendiri, tetapi karena terinspirasi pesan Al-Asadi: seorang pemuda sejati adalah yang memberi manfaat, menerangi orang lain, dan meninggalkan jejak kebaikan. Minimnya upaya pemakmuran tanah, lanjutnya, adalah tanda kemunduran suatu pemerintahan. (Al-Munawi, III/30)

Ketiga, diriwayatkan bahwa seorang Kisra (gelar raja Persia) pernah melihat seorang kakek tua menanam pohon zaitun. Kisra heran, sebab pohon itu baru berbuah setelah tiga puluh tahun, sementara sang kakek telah lanjut usia. Dengan tenang sang kakek menjawab bahwa generasi terdahulu telah menanam sehingga ia bisa menikmati hasilnya, maka sudah sepantasnya ia menanam untuk anak cucu yang akan datang. Mendengar jawaban itu, Kisra mengucapkan kata “zah”, sebuah isyarat khusus para raja Persia untuk memberikan seribu dinar sebagai hadiah, dan hadiah itu pun diberikan kepada si kakek. (Al-Munawi, III/30)

Kesimpulannya, Islam sangat menekankan pentingnya menanam pohon sebagai simbol optimisme dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan hidup. Menanam menjadi wujud syukur atas karunia bumi, bentuk penghormatan kepada generasi terdahulu, sekaligus investasi bagi generasi setelah kita. Wallahu a‘lam.