kabarumat.co – Pada bulan Ramadhan, umat Islam semakin giat melaksanakan qiyam Ramadhan, terutama pada sepuluh malam terakhir, dengan perhatian khusus pada malam-malam ganjil seperti malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Malam-malam ini sangat dianjurkan karena mengandung peluang besar untuk mendapatkan pahala yang berlipat, termasuk malam Lailatul Qadar.
Qiyam Ramadhan secara hakikat merupakan bagian dari qiyam al-Lail, yakni ibadah malam yang mayoritas berupa shalat. Perbedaan utama adalah bahwa qiyam al-Lail dapat dilakukan sepanjang tahun, sementara qiyam Ramadhan secara khusus dilaksanakan pada bulan Ramadhan. Qiyam Ramadhan sering dikaitkan dengan shalat Tarawih, tetapi pada dasarnya adalah semua bentuk ibadah malam di bulan suci.
Landasan utama dianjurkannya qiyam Ramadhan terdapat dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Muhammad bersabda:
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya: “Barangsiapa yang melaksanakan Qiyam Ramadhan karena iman dan mencari ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibn Majah, At-Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa qiyam Ramadhan adalah amalan malam yang memiliki keutamaan besar, yaitu pengampunan dosa masa lalu.
Pemaknaan Qiyam Ramadhan
Pertanyaan penting adalah: apakah qiyam Ramadhan hanya berarti shalat Tarawih, ataukah mencakup seluruh ibadah malam, termasuk shalat malam lainnya, dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, bahkan tafakur di keheningan malam?
Mayoritas ulama klasik, seperti Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, menekankan bahwa qiyam Ramadhan identik dengan shalat Tarawih. Al-Bukhari menempatkan hadis terkait qiyam Ramadhan dalam Kitab Shalat Tarawih, sedangkan Imam Muslim memberi judul babnya Al-Targhib fi Qiyami Ramadhana wa huwa al-Tarawih. Imam al-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim dan Riyadhus Shalihin juga menegaskan bahwa qiyam Ramadhan dimaksudkan sebagai shalat Tarawih. Ibn Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa makna qiyam Ramadhan adalah menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat, tetapi tidak harus sepanjang malam. Secara bahasa, “qiyam” berarti berdiri, yang paling dekat dengan amalan shalat di malam hari.
Namun, sebagian ulama memandang maknanya lebih luas. Syamsuddin al-Birmawi menekankan bahwa Tarawih adalah bentuk utama qiyam Ramadhan, tetapi tidak terbatas pada itu. Abdur Rauf al-Munawi dalam Faidhul Qadir dan Muhammad ibn Ismail al-San’ani dalam At-Tanwir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir menjelaskan bahwa qiyam Ramadhan bisa mencakup berbagai bentuk ibadah malam, seperti membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, belajar ilmu agama, bahkan refleksi spiritual. As-Shan’any pun menyebutkan bahwa qiyam Ramadhan meliputi semua bentuk ketaatan di malam-malam Ramadhan, baik shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, maupun menuntut ilmu.
Ibn Hajar juga mengindikasikan kemungkinan bahwa al-Bukhari memperluas cakupan qiyam al-Lail, sehingga tidak hanya shalat, tetapi juga membaca Al-Qur’an, dzikir, mendengarkan nasehat, tafakur, dan ibadah malam lainnya.
Dengan demikian, qiyam Ramadhan pada intinya adalah shalat Tarawih, yang menjadi bentuk paling dikenal dan utama. Namun, pemaknaannya dapat diperluas, mencakup segala bentuk ibadah malam di bulan Ramadhan, termasuk dzikir, doa, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan refleksi spiritual. Hal ini menunjukkan bahwa qiyam Ramadhan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga sarana memperdalam spiritualitas, mendekatkan diri kepada Allah, dan memaksimalkan keberkahan malam-malam suci Ramadhan.
Kenali Kami Lebih Dekat
Assalamu Alaikum Akhi Ukhti!! Selamat datang di Kabar Umat
Kami hadir setiap saat untuk menyampaikan berita terpercaya serta wawasan keislaman, keindonesiaan dan kebudayaan hanya buat Akhi Ukhti. Bantu sukseskan Visi kami satukan umat kuatkan masyarakat dengan cara share konten kami kepada teman-teman terdekat Akhi Ukhti !