Kabarumat.co – Bayangkan sebuah majelis keilmuan yang berlangsung di jantung istana. Seorang sultan hadir sebagai pendengar, sementara para ulama terkemuka mendiskusikan ayat-ayat Al-Qur’an melalui medium tafsir. Seorang mukarrir bertugas memaparkan penafsiran, sejumlah muḥāṭab memberikan pertanyaan, tanggapan, atau sanggahan, dan para pejabat tinggi kerajaan turut mengikuti jalannya diskusi. Yang menarik, kitab yang menjadi rujukan utama dalam forum tersebut bukanlah karya yang ...